Showing posts with label Prisca Primasari. Show all posts
Showing posts with label Prisca Primasari. Show all posts

Éclair: Pagi Terakhir di Rusia

Judul : Éclair: Pagi Terakhir di Rusia
Penulis : Prisca Primasari
Penerbit : Gagas Media
Tebal Buku : 236 Halaman
ISBN : 9789797804725
Cetakan keempat, 2012
Rating : 3 dari 5





"Kadang, masa lalu memang lebih indah dari masa sekarang. Dan bila ada hal yang membahagiakan sekaligus menyedihkan untuk dipikirkan, itu adalah masa lalu yang indah... Seandainya masa lalu itu akan terus menjadi masa kini." ---halaman 224


Blurb:

Seandainya bisa, aku ingin terbang bersamamu dan burung-burung di atas sana. Aku ingin terus duduk bersamamu di bawah teduhnya pohon-berbagi eclair, ditemani matahari dan angin sepoi-sepoi. Aku ingin terus menggenggam jari-jemarimu, berbagi rasa dan hangat tubuh-selamanya.

Sayangnya, gravitasi menghalangiku. Putaran bumi menambah setiap detik di hari-hari kita. Seperti lilin yang terus terbakar, tanpa terasa waktu kita pun tidak tersisa banyak. Semua terasa terburu-buru. Perpisahan pun terasa semakin menakutkan.

Aku rebah di tanah. Memejamkan mata kuat-kuat karena air mata yang menderas. "Aku masih di sini," bisikmu, selirih angin sore. Tapi aku tak percaya. Bagaimana jika saat aku membuka mata nanti, kau benar-benar tiada?

***

Katya Fyodorovna dua minggu lagi akan menikah. Namun, ia harus menyelesaikan beberapa hal yang tertunda. Ini semua berhubungan dengan kisah persahabatannya dengan empat orang pemuda: Sergei yang akan menjadi suaminya, Stepanych adik Sergei yang mengalami sakit parah, dua bersaudara Olivier yang menghilang dari kehidupan mereka. Keadaan Stepanych yang semakin hari kian parah, membuat Katya dan Sergei khawatir. Apalagi, Stepanych terus saja membisikkan nama teman-teman mereka. Sebelum menikah Katya memiliki rencana untuk membuat mereka semua kembali lagi. Dan melupakan kisah lama yang merenggut nasib persahabatan mereka.

Stepanych adalah seorang chef patissier terkenal sampai sepenjuru dunia. Ia adalah pencipta Éclair terlezat yang pernah ada. Namun, beberapa tahun belakangan ia hilang dari sorotan media. Keluarganya menyimpan rapat fakta seputar kesehatan Stepancyh. Semenjak dua tahun yang lalu, kondisinya semakin parah, bahkan bisa dikatakan tidak ada lagi kesempatan baginya untuk bisa bertahan.

Mulanya, Katya pergi ke New York untuk mendatangi Kay Olivier yang bekerja sebagai fotografer di bidang kuliner. Sayang sekali rencananya harus tertunda karena Kay mengalami masalah dengan kepolisian. Ia dituduh sebagai pelaku pembunuhan rekan kerjanya. Karena sebuah pisau lipat yang tidak tahu dari mana asalnya yang tiba-tiba saja ditemukan di sakunya. Mau tidak mau, Katya harus mengerahkan segala upaya demi bisa membebaskan Kay, juga agar pria itu dapat memaafkannya dan mereka bisa berdamai kembali dengan masa lalu.


Lalu Katya juga harus ke Indonesia, menemui Lhiver. Sebenarnya, permasalahan pelik mereka ada di Lhiver. Bisa dibilang pria itulah yang merasa paling terluka dengan kejadian yang menimpa mereka dua tahun yang lalu. Lhiver pergi sejauh-jauhnya dari Rusia, dan memilih Surabaya sebagai tempat mengasingkan diri. Di sana, ia menjadi seorang pengajar di universitas dan menjalani kehidupannya yang baru. Dan Lhiver tetap mencoba untuk melupakan kehidupannya yang lama.

Bagi Katya, menemui Lhiver jauh lebih sulit ketimbang Kay, kakaknya. Karena duka Lhiver terlalu dalam. Ia kehilangan orang-orang yang sangat dicintainya dalam peristiwa itu. Ia bahkan sampai harus pergi jauh dari tempat di mana luka itu terjadi. Pergi dan meninggalkan sisa-sisa kebahagiaannya di sana, demi mencari kebahagiaan baru di tempat yang sama sekali asing baginya.


Ada kalanya batas mimpi dan kenyataan terasa begitu kabur, terutama bila terlalu sering bermimpi. Mimpi seolah adalah hal yang riil, bisa didengar, dipandang, bahkan dikecap. Dan kenyataan malah tampak kabur, dengan benang-benang halus yang membalutnya, juga kesan transparan yang bisa menguap sewaktu-waktu. ---halaman 81

Apakah mereka akan kembali bersama? Apa yang menyebabkan persahabatan itu hancur seketika?


***

Bisa dibilang novel ini spesial. Butuh lebih dari tiga tahun untuk saya dapat menikmati novel ini. Apalagi, teman-teman yang merekomendasikannya adalah orang-orang yang saya kenal tidak terlalu gandrung dengan novel romansa (karena teman-teman yang membicarakan novel ini dan merekomendasikan ke saya adalah anak-anak aktivis keislaman--eh, saya juga termasuk sih hahaha--yang notabene bacaan mereka biasanya tidak jauh dari tema itu pula, dan--kecuali saya--jarang menyentuh novel-novel bertemakan romance). Jadi, wajar kalau saya penasaran. 

Sebenarnya, saya nggak bakal menyangka bisa menemukan buku ini (karena memang edisi tahun 2011, bukan novel baru), dan membacanya. Bermula dari keisengan untuk menaruhnya di rak "want to read" di goodreads, dan ternyata, pada suatu hari, saya berjodoh juga dengan bisa memiliki buku fisiknya. Saya jadi percaya dengan kekuatan "want to read" shelves di goodreads, karena sudah beberapa kali list buku yang saya masukkan di situ jadi berjodoh dengan berhasil membaca bukunya. Jadi, sekarang kalau kepingin baca suatu buku, saya langsung klik saja di goodreads, dan semoga menjadi doa. 

Jadi pada akhirnya, beberapa bulan yang lalu saya membaca ini juga, yeay. Seperti super mini review saya di goodreads, saya menuliskan: "Selesai kurang dari 24 jam. Setelah penantian ingin membaca buku ini yang terlalu lama." Ya. Benar-benar lama, bukan?


Seperti khasnya novel-novel Prisca Primasari lainnya (sejauh ini saya sudah membaca tiga bukunya), penulis memiliki kemampuan meramu plot-twist yang juara. Di Éclair ini, penulis berhasil menyimpan kejutannya dengan menebarkan cerita akibat dari sebuah sebab yang masih misteri. 

Ada banyak kisah di sini, namun kepiawaian penulis dalam merangkaikan cerita membuatnya pas, dan tidak tumpang tindih. Novel ini juga tidak pure romance karena ada beberapa yang menyerempet ke thriller, seperti saat mengungkap kasus pembunuhan yang dialami Kay. Juga sedikit berbau konspirasi tentang kisah di balik kehidupan Katya dan pekerjaan ayahnya. Dan jangan lupakan pula cerita seputar dunia kuliner yang erat kaitannya dengan Eclair. Membuat saya kepingin sarapan dengan Eclair begitu selesai membacanya.

Dari segi keragaman genre itu, sebenarnya menjadikan novel ini memiliki nilai tambah, karena tidak mudah memadupadankan berbagai cerita dalam satu judul. Namun, bisa jadi justru itu dirasakan sebaliknya oleh pembaca. Saya berada di yang kedua, meskipun saya masih tetap menikmati novel ini dengan baik.

Selain itu, ada pula beberapa kebetulan-kebetulan yang terlalu mendominasi cerita sehingga membuat kesan alamiah ceritanya jadi kurang. Meskipun, jika ditinjau dari pola sebab-akibat, semuanya masih dalam batas kelogisan.

Oh ya ada satu lagi, ternyata memang dulu pernah ada masanya blurb diisi dengan "kata-kata indah" alih-alih tulisan seputar informasi buku. Alhamdulillah sepertinya sekarang sudah nggak nge-trend lagi. Ini membingungkan jujur saja, karena pembaca jadi gambling karena tidak tahu jalan ceritanya bagaimana. Apalagi untuk saya yang nggak mudah tergiur dengan kata-kata indah. Cie.

Overall, saya cukup menikmati novel ini. Rasa penasaran saya bertahun-tahun silam sudah terbayar. Saya jadi tambah suka dengan karya penulis dan ingin menikmati cerita-cerita lainnya.


Purple Eyes

Judul : Purple Eyes
Penulis : Prisca Primasari
Penerbit : Inari
Tebal Buku : 76 Halaman
ISBN : 9786027432208
Rating : 5 dari 5





Blurb:



"Karena terkadang, tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi."

Ivarr Amundsen kehilangan kemampuannya untuk merasa. Orang yang sangat dia sayangi meninggal dengan cara yang keji, dan dia memilih untuk tidak merasakan apa-apa lagi, menjadi seperti sebongkah patung lilin.

Namun, saat Ivarr bertemu Solveig, perlahan dia bisa merasakan lagi percikan-percikan emosi dalam dirinya. Solveig, gadis yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya. Solveig, gadis yang misterius dan aneh.


Berlatar di Trondheim, Norwegia, kisah ini akan membawamu ke suatu masa yang muram dan bersalju. Namun, cinta akan selalu ada, bahkan di saat-saat tergelap sekalipun.

***




Sekarang dia dipanggil Lyre, 24 tahun, asisten Hades. Setelah 120 tahun kematiannya, Hades mempunyai tugas baru untuk dirinya, yakni menemani Hades ke dunia manusia untuk menuntaskan misi pembunuhan yang meresahkan di Trondheim, Norwegia. Orang-orang mati dibunuh secara sadis, lalu diambil levernya.

Lyre berubah nama menjadi Solveig, asisten Tuan Halstein yang tak lain adalah Hades sendiri. Halstein menarget Ivarr Amundsen sebagai bagian dari misinya, maka mereka datang ke rumah pria itu sebagai orang yang ingin memesan boneka troll untuk suvenir acara pagelaran teater. Ivarr Amundsen adalah saudara dari salah satu korban kekejian pembunuh itu. Adiknya Nikolai Amundsen meninggal dunia dan pemberitaan tentangnya diliput oleh media.


Pemuda di depan Solveig ini, sebaliknya, mirip sekali dengan patung lilin. Dipahat dengan sangat indah, halus di setiap inci tubuhnya. Namun tanpa rasa. ---halaman 38

Semenjak adiknya meninggal, hidup Ivarr tidak lagi sama. Pemuda itu hidup tanpa hati, seperti kehilangan emosi apa pun dalam dirinya. Ia tidak menangis, tidak pula bersedih atas kematian tragis adiknya. Ia seperti patung lilin yang hidup tanpa nyawa. Hades memiliki rencana yang melibatkan Ivarr. Namun, demi keberhasilan rencana itu, ia tidak memberitahukannya pada Solveig. Gadis itu hanya diminta oleh Hades untuk terus mendekat dan menemui sang pria. Singkat cerita, Hades ingin agar Ivarr jatuh cinta pada Solveig.


Dan yang terjadi adalah... Solveig yang justru jatuh hati pada Ivarr.

"Kau kesal padanya. Kenapa membuat puisi tentangnya?" ---halaman 42

Lalu ketika mereka diam-diam saling menyimpan rasa, Hades menjalankan skenarionya yang cukup kejam, tanpa melupakan jati dirinya yang sebenarnya bahwa dia adalah sang Dewa Kematian.

***

Membenci itu sangat melelahkan, bahkan lebih menguras emosi daripada merasa sedih. ---halaman  117

Quick review:


Fantasi, mitologi, Norwegia, ada "Harry Potter" dan "Jostein Gaarder" disinggung dikit di sana, Inggris era Victoria, surat yang ditulis dengan segel lilin, plot twist yang menawan, cerita yang indah, nyaris bersih dari typo dan kesalahan penulisan, ditulis oleh penulis lokal yang rasanya seperti membaca novel terjemahan.... Apa yang bisa menghalangiku untuk tidak memberikan bintang lima?

Setelah tertunda sekian lamanya (karena ternyata bukunya nyelip di dalam lemari pakaian), akhirnya saya berhasil membuat review yang lebih panjang.

Purple Eyes adalah novel fantasi yang dingin, sedingin atmosfer kota Trondheim yang menjadi setting cerita ini. Memadukan antara fantasi—dunia mitologi yang benar-benar kental, apalagi Nowegia adalah tuan rumahnya mitologi Nodik—berbalut roman, dan juga sedikit thriller menjadi bumbu yang pas. Tentang Hades yang menjalankan peran di sebuah tempat antara kehidupan dan kematian, dengan asistennya Lyre—atau yang di dunia manusia memilih nama Solveig—yang meninggal di era Victoria, menjalani sebuah misi menyelesaikan pembunuhan mengerikan di sebuah tempat yang biasanya tenang. Skenario dibuat, tapi ternyata romansa menjadi sedikit kendala dalam menjalankan rencana. 

Setting tempat ini begitu kuat, saya bisa merasakan aura musim dingin dan juga beberapa latar yang diambil dalam kisah ini, menambah kesan kuat romantisme yang ingin dibangun. Karakter yang kuat: sosok Ivarr yang dingin bagai mayat hidup tanpa ekspresi yang indra perasanya mati suri, Solveig yang polos dan kuno (aduh, kenapa dia mau ke bumi nggak riset dulu sih, ngaku dari Inggris tapi nggak kenal Harry Potter? Siapa yang nggak curiga coba =))), dan Hades yang unik tapi sayang sekali, bagi saya Hades-nya kurang kejam. Plot twist-nya, benar-benar tak diduga, namun cukup masuk akal dan pas.

Tentang pesan tersiratnya mengenai kematian... dalam banget. Terima kasih karena sudah diingatkan tanpa kerasa digurui.

“Umur 22 tahun atau 200 tahun tidak ada bedanya. Kalau kau sudah meraih semua yang kau inginkan, yang tersisa bagimu hanyalah beristirahat dengan tenang. Dan menjalani kehidupan yang lebih baik setelah kematian.” ---halaman 124

Salut banget sama Kak Prisca yang bisa membuat mitologi semanis novel-novel romantis tanpa melupakan kesan fantasinya. :)

Evergreen

Judul : Evergreen
Penulis : Prisca Primasari
Penerbit : Grasindo
Tebal Buku : 203 Halaman
ISBN : 9786022510864
Rating : 4 dari 5 



Blurb:

Konichiwa! Selamat datang di Evergreen, kafe es krim penuh pelayan baik hati, lagu The Beatles akan melengkapi hari-harimu. Tempat yang menghangatkan, bahkan bagi seorang gadis pengeluh dan egois sepertimu, Rachel!

Di kafe itu, kau menemukan sebuah dunia baru, juga pelarian setelah dipecat dari pekerjaanmu. Menurutku itu bagus! Apa enaknya sih kerja jadi editor?

Namun, sebenarnya butuh berapa banyak kenangan dan sorbet stroberi untuk mengubah sifat egoismu? Atau yang kau butuhkan sebenarnya hanya kasih sayang? Mungkin dariku, si pemilik kafe? Hmmm?

***

Kalian ingin selalu mengingat kenangan manis, sedangkan aku malah ingin melupakan. Bahkan aku berharap kenangan itu tidak pernah ada. Dengan begitu, tidak ada yang perlu kutangisi. --- Halaman 40

***

Rachel Yumiko River dipecat dari pekerjaannya sebagai editor di sebuah penerbitan yang terkenal di Jepang. Dia frustrasi, bukan hanya karena dia tidak memiliki pekerjaan lagi dan tidak tahu harus melakukan apa setelah ini, melainkan juga karena tidak ada seorang pun yang memedulikan dirinya. Teman-temannya pergi meninggalkan Rachel, bahkan mereka pergi liburan tanpa dirinya.

Di tengah hidup yang rumit itu, dia menemukan sebuah kedai es krim bernama Evergreen, yang ternyata direkomendasikan oleh mantan teman kantornya. Kesan pertama yang begitu hangat dan di luar dugaan membuat Rachel menjadi sering datang kemari. Di sini Rachel bertemu dengan Yuya sang pemilik kedai, dan beberapa pegawai lainnya: Gamma, yang bercita-cita ingin memiliki kedai es krim sendiri; Fumio yang selalu tersenyum padahal mempunyai permasalahan hidup yang berat sekali menyangkut penyakit adiknya, Toshi, dan ayah mereka yang menghilang; Kari, seorang gadis galak yang tidak menyukai kehadiran Rachel di antara mereka. Ada pula pria misterius yang menjadi langganan tetap kedai ini, selalu membaca buku yang sama, dan selalu hadir sehingga dia dianggap menjadi bagian dari keluarga kedai Evergreen.

Kehadiran Rachel yang pada mulanya hanya seorang pengunjung kedai saja, mendadak berubah saat dia diminta oleh Yuya untuk bekerja dengan mereka. Memang, menjadi pelayan kedai setelah mendapatkan jabatan mentereng sebagai editor tidaklah sepadan. Tapi, memangnya ada yang mau mempekerjakannya lagi setelah ia melakukan kesalahan fatal dengan pekerjaannya sehingga menyebabkan dirinya dipecat?

Setelah Rachel menjadi bagian dari mereka, satu per satu rahasia kehidupan pribadi mereka terkuak, membuat Rachel kembali merenungi sikapnya selama ini yang dikenal egois dan suka mementingkan dirinya sendiri.

***

Sejak tadi Rachel hanya memecahkan gelas.

Saya suka kalimat pembukanya, berhasil membuat penasaran dan memancing pertanyaan di benak pembaca, apa yang terjadi dengan gadis ini? Mengapa dia memecahkan gelasnya? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini, akan membuat pembaca bertahan untuk tidak mengabaikannya sampai akhir. Tidak hanya di awal saja yang membuat penasaran, namun cara penulis menyampaikan cerita juga memancing rasa penasaran itu. 

Ada beberapa kisah di dalam cerita ini. Selain tentang Rachel, ada pula kisah Fumio dan Toshi, lalu Yuya, Gamma, Kari, dan Toichiro. Masing-masing punya permasalahan dan ceritanya sendiri. Meskipun novel ini sarat konflik, tapi penulis berhasil menceritakannya dengan pas, tidak berlebihan dan overlaping. Ini merupakan sebuah kelebihan yang patut diapresiasi. Apalagi, konfliknya tidak pasaran, dan mengejutkan. Di tengah menuju akhir sebenarnya pertanyaan-pertanyaan yang masih digantung sejak awal sudah selesai. Saya lalu penasaran sisa halaman terakhir ini penulis akan menyajikan apa. Dan ternyata..., sesuatu yang saya tidak duga sebelumnya! Brillan!

Saya termasuk yang tidak mengerti dengan Jepang dan segala seluk-beluknya. Saya tidak membaca manga, komik, atau demen dorama Jepang. Jadi, mau tidak mau saya menerima saja apa yang disuguhkan penulis di sini. Seperti misalnya bahasa-bahasanya, atau saat bercerita tentang manga yang ada di dalamnya. Meskipun harus saya akui, unsur Jepang yang sangat kentara bagi novel dalam negeri yang saya baca masih dimenangkan oleh novel 3 (Tiga) karya Alicia Lidwina.

Ada yang ingin saya kemukakan di sini, yang menjadikan alasan saya tidak memberikan bintang lima pada novel Evergreen: banyak sekali kesalahan penulisan di dalam novel ini. Miris karena tokohnya adalah seorang editor dan, maaf, ternyata di sini banyak kesalahan yang luput oleh sang editor. Misalnya saja kata "memperhatikan" di mana kalau melihat KBBI harusnya "memerhatikan". Lalu ada juga kata-kata "ktsp" yang mendapatkan imbuhan me- seharusnya meluruh, namun ditulis tidak meluruh. Ada beberapa kata "apapun" yang tidak dipisah, meskipun ada juga "apa pun" yang dipisah. (Sebenarnya saya tandai, dan tidak hanya ini saja, tapi karena peminjaman iJak habis, pas pinjam ulang hilang semua deh x'D) Mengganggu? Kalau hanya satu dua saja sih sebenarnya tidak. Tapi saya cukup lelah juga berkali-kali menjengit dan berhenti baca karena ini =)) Sepertinya yang saya baca versi iJak ini cetakan pertama, tidak tahu apakah ada perbaikan di cetakan-cetakan setelahnya. Selain itu, jenis font-nya membuat saya tidak nyaman dan ini juga sedikit mengganggu.

Anyway, terlepas dari hal-hal yang saya tuliskan di atas, buku ini sangat layak untuk diapresiasi. Banyak pesan moral yang diberikan penulis pada pembaca. Karakter Rachel yang keras kepala dan egois mengingatkan saya pada diri sendiri, dan membaca kisah ini cukup membuat saya tertampar. Banyak kalimat yang keren, salah satu yang saya suka adalah ini:


"Memaafkan. Kata yang lucu sekali, bukan? Sesuatu yang sulit sekali diberikan. Padahal dengan melakukan itu, berarti kita menyelamatkan hati kita sendiri. Pernahkah kau mendengar, bahwa ketika kau memaafkan seseorang, kau membuka lagi pintu rumah yang sebelumnya kau tutup rapat-rapat, yang telah membuat dirimu terperangkap dan kehabisan napas. Ketika kau memaafkan, kau pun bisa bernapas lagi. Dan hidup." --- Halaman 118

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)