Showing posts with label Elex. Show all posts
Showing posts with label Elex. Show all posts

Aku Ingin Tahu Sains 23—Bumi dan Antariksa

Judul : Aku Ingin Tahu Sains 23—Bumi dan Antariksa
Cerita & Gambar : Calvin & Elissa 
Penerbit : Elex Media 
Tebal Buku : 49 Halaman
ISBN : 9786020009223
Rating : 3 dari 5



Blurb:

Antariksa (atau yang disebut sebagai angkasa luar) adalah sebuah ruang hampa yang sangat luas terdiri dari objek apapun yang ada.


Objek-objeknya termasuk ruang, waktu, galaksi, bintang, blackhole, nebula, planet, komet, meteor dan materi lainnya.

Ukuran dari antariksa lebih besar daripada antariksa yang dapat diamati sekarang yang berdiameter 93 miliar tahun cahaya atau 880 x 1026 meter.

Galaksi adalah suatu kumpulan obyek yang terdiri dari berbagai macam benda, seperti: planet, asteroid, bintang, sisa-sisa ledakan bintang, nebula, blackhole, dan sejumlah material bintang lainnya yang menempati volume ruang yang sangat besar. Semua benda-benda tersebut akan kita bahas di dalam buku ini.

***

Apakah antariksa itu?



Seperti yang sudah dijelaskan di blurb, pertanyaan-pertanyaan seputar antariksa, galaksi, bintang, kenapa galaksi Bima Sakti disebut sebagai Milky Way, nebula, blackhole, dan beberapa istilah tentang antariksa, dijelaskan secara singkat dan padat di sini, disertai ilustrasi yang beraneka warna. Sebagai buku yang ditujukan untuk segmen pembaca anak-anak, Bumi dan Antariksa memberikan pemahaman dan pengetahuan awal seputar galaksi dan antariksa. Menjadikannya buku yang informatif dan mudah dipahami.

Meskipun, ada beberapa istilah yang seharusnya bisa diubah lebih mudah lagi, agar pembaca anak-anak tidak kesulitan memahaminya. Misalnya, "densitas", itu kan bisa ditulis pakai "massa jenis". Lebih umum didengarnya.

Ada satu yang membuat saya bingung di sini, saat membahas tentang blackhole: "Tetapi bintang seperti matahari kita akan menjadi bintang kerdil putih dan tidak mampu menjadi blackhole karena massanya tidak lebih dari 10 kali massa Matahari." Nah loh. Ini bahasanya yang ambigu (antara "matahari" di awal atau "Matahari" di akhir), atau memang informasinya yang gimana gitu?


Overall, buku ini bagus dan direkomendasikan untuk dibaca. Apalagi untuk anak-anak. Gambarnya juga lucu.




Wallbanger

Judul : Wallbanger
Penulis : Alice Clayton
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tebal Buku : 600 Halaman
Cetakan Ketiga, Januari 2017
ISBN : 9786020229874
Rating : 2 dari 5

**Warning: Buku ini mengandung konten dewasa, silakan tutup bukunya kalau belum 21 tahun**



Blurb:

Malam pertama di apartemen impian di San Fransisco, Caroline memperoleh kejutan istimewa. Dari balik dinding tipis apartemennya, Caroline mendengar suara tempat tidur yang berderak serta jeritan kepuasan tanpa henti. 

Malang bagi Caroline yang sedang dalam 'masa hiatus kencan'. Tetangganya yang jelas-jelas mempunyai daya tarik 'mematikan' bagi wanita membuat fantasi Caroline tetap terbangun sepanjang malam. Maka ketika suara derak tempat tidur mengancam dirinya--secara harafiah--Caroline tahu dia harus bertindak... 

***

Caroline punya tetangga baru, yang kamar mereka terpisahkan oleh dinding. Masalahnya, tetangga baru itu suka berisik malam-malam dengan orang yang berbeda. Dinding mereka yang entah setipis apa itu selalu berdentum-dentum, mengakibatkan pajangan dinding Caroline bahkan terjatuh. Dan bagaimana Caroline bisa tahu kalau lawan bermain tetangganya itu berbeda-beda? Karena, ciri khas mereka yang tidak sama. Lalu, ia menjuluki wanita-wanita itu dengan julukannya masing-masing: si Spanx; si Kucing Betina, karena suka mengeong-ngeong; lalu si Wanita Pengikik. Dari aktivitas apartemen sebelah itulah, Caroline mengetahui kalau nama pria itu adalah Simon, yang ia juluki sebagai Simon Wallbanger--Si Pembentur Dinding.

Karena kesal pada suatu malam, Caroline nekat untuk menggedor pintu depan apartemen tetangganya itu. Dari situlah ia melihat secara langsung bagaimana rupa si Wallbanger itu. 

Sebenarnya, selain merasa terganggu karena tidurnya jadi tidak nyenyak, Caroline punya masalah dengan ketidakhadiran O sejak aktivitas seksual secara brutal yang pernah ia lakukan beberapa waktu lalu. Karena itu pulalah ia terganggu dengan kegiatan ruangan sebelah itu.

Saat menghadiri sebuah pesta, ia dan kedua temannya, Mimi dan Sophia. Di sana, ia bertemu dengan Simon dan kedua temannya. Alhasil, mereka berteman. Dan Caroline berhasil membuat perjanjian gencatan senjata dengan Simon si tetangga. Meskipun mereka sudah memperbaiki hubungan dengan menjalin pertemanan, sebenarnya mereka memendam perasaan saling suka. Buktinya, mereka saling melempar lelucon-lelucon yang menyerempet, meskipun tidak ada kontak fisik yang berarti di antara keduanya.

Tak lama kemudian, aktivitas tembok kamar sebelah menjadi hilang, digantikan dengan alunan lagu yang terdengar sebagai pengantar tidur. Apa yang terjadi dengan mereka selanjutnya?

***

Genre erotica romance bukan satu hal yang baru bagi saya. Saya sudah membaca Fifty Shades of Grey (yang belum ada niat buat baca kelanjutannya), Crossfire series (yang berhenti baca di buku kedua atau ketiga gitu, lupa), dan juga The Blackstone Affair series (juga berhenti di buku ketiga kalau nggak salah ingat). Jadi, membaca Wallbanger ini, ya biasa saja. 

Sama seperti kesan yang saya dapat dari buku ini, ternyata juga biasa saja. Nggak ada yang istimewa. Justru, saya malah merasa kecewa karena bukunya tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Hmmm, memangnya, what did you expect with this genre? Sebenarnya, karena saya adalah pembaca buku semua genre, saya tidak membatasi genre bacaan saya. Sejak booming-nya FSoG, saya juga mulai merambah genre bacaan ini. Apa yang saya harapkan dan ekspektasikan dari genre erotica romance? Saya berharap mendapat cerita yang kompleks, sebenarnya, dengan plot yang kuat dan tidak hanya mengandalkan adegan kipas-kipas sebagai bumbu utama. Saya berharap kegiatan itu justru berada di dalam lingkar sebab-akibat yang pas. Bukan sebagai bahan baku utama yang ditonjolkan terus-menerus sampai akhirnya pembaca merasa, "Ewwhh, paan zi inih?!"

Well, sejauh ini, dari buku-buku yang saya baca, yang baru memenuhi ekspektasi adalah The Blackstone Affair. Saya suka plotnya, saya suka ceritanya. Di luar itu (apalagi Crossfire series), cuma berhasil membuat saya mengerutkan dahi dan misuh-misuh (lalu memberikan rating rendah, hehe, maafkan).

Nah, sekarang, balik ke Wallbanger. Jujur, saya suka plot cerita ini dari awal. Sepertinya, menjanjikan. Kisahnya unik, segar karena dibumbui kisah komedi romantis, dan juga membuat penasaran. Namun, keunggulannya hanya berhenti di situ saja. Selebihnya, terlalu banyak percakapan yang membuat saya terlalu banyak melakukan skimming saat membacanya. Entah apakah saya ketinggalan plot penting saat menghilangkan berlembar-lembar baca buku ini, tapi rasanya tidak juga. Saya masih bisa mengikutinya. Satu hal yang bikin agak bisa bernapas lega karena adegan kipas-kipasnya tidak sesering minum obat dalam sehari (seperti yang sering terjadi kalau membaca buku-buku sejenis ini). Tapi, bukannya karena jarang tersebut jadi seolah istimewa, justru biasa saja, malah saya skip-skip bacanya karena bosan dan... "Apasih?!" Hahaha. Begitulah.

Karena saya berharap ada yang istimewa di sini (bahkan di awal saya berencana memberikan bintang tiga), tapi ternyata biasa-biasa saja, akhirnya bintang dua cukuplah. Saya merasa terhibur sih, meskipun hanya tidak mencapai ekspektasi saja. Nggak tahu juga bakal tertarik baca kelanjutan cerita ini atau nggak kalau buku selanjutnya diterjemahkan.

Dan untuk yang berhubungan dengan si O ini (yang terus-terusan dibahas dari awal sampai akhir), karena saya nggak mengerti (#polos), akhirnya saya nggak berani komentar tentang itu ya, haha.

Satu hal yang saya pikirkan dari awal membaca buku ini. Memangnya, tembok kamar mereka itu terbuat dari apa, sih? Kok aktivitas ruangan sebelah sampai bisa membuat barang-barang di tembok berjatuhan? Apa terbuat dari tripleks? Sampai saya harus menggedor-gedor dinding beton buat mencari tahu seberapa kuat benturan yang ditimbulkan sampai membuat kegaduhan di ruangan sebelahnya. Hahaha, impulsifnya  saya kumat.

Oke, sekian ulasan saya tentang ini.

[Blogtour+Giveaway] When Love is Not Enough

Judul : When Love is Not Enough
Penulis : Ika Vihara
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tebal Buku : 282 Halaman
Cetakan Pertama, Januari 2017
ISBN : 9786020297682
Rating : 4 dari 5





If people don't get a second chance, how will they prove that they learned their lesson?

***

Blurb:


Awalnya, Lilja Henrietta Møller berpikir, menikah dengan sahabatnya, Linus Zainulin, dan tinggal bersamanya di Munchen, akan menjadi sebuah pernikahan yang sempurna. Tidak ada yang salah dengan pernikahan mereka. Karena Linus dan Lily bisa sama-sama melakukan apa yang mereka suka. Tapi semua tidak sesempurna angan-angan Lily. Karier Linus yang semakin menanjak ternyata malah menghancurkan gerbong kehidupan pernikahan mereka. 

Lily kehilangan laki-laki yang dia cintai. Ayah dari anaknya. Suaminya. Yang lebih buruk lagi, dia kehilangan sahabatnya. Sosok yang sudah bersamanya sejak dia dilahirkan. Lily kembali ke Indonesia, mencoba membangun kembali hidupnya, tanpa Linus bersamanya. 

***

Lily menikah dengan Linus atas dasar cinta. Cinta yang merekatkan mereka selama bertahun-tahun, bahkan sejak mereka bayi. Kedua orangtua mereka bersahabat, rumah mereka berdekatan, dan juga mereka membangun usaha bersama. Tidak butuh banyak usaha untuk mereka saling mengenal, lalu jatuh cinta. Barangkali mereka hanya membutuhkan waktu untuk mengubah brother-sister-zoned, menjadi sepasang kekasih, lalu naik tingkat sebagai suami-istri.

Menjelang pernikahan, Lily disibukkan dengan mengurus banyak hal seputar persiapan pesta pernikahannya. Tentang gaun, gedung, resepsi, dan lain sebagainya. Lily lupa kalau ada banyak hal yang jauh lebih penting dari itu. Pernikahan bukanlah sekadar pesta. Pernikahan itu penyatuan dua manusia. Baik pola pikirnya, impian, ambisi, dan kehidupan yang akan mereka bawa setelah menikah. 

Bisa dibilang, kehidupan mereka bahagia, Lily bekerja sebagai seorang programer, dan Linus, yang memiliki prestasi cemerlang dalam pekerjaannya di bidang industri lokomotif. Kehidupan awal pernikahan mereka pun menyenangkan. Mereka sering bepergian ke tempat-tempat baru, menonton sepak bola kegemaran Linus, dan banyak yang mereka lalui berdua. Namun, ada satu titik di mana keegoisan keduanya bersinggungan. Ada prinsip yang tidak bisa ditolerir oleh keduanya. Dan pada titik inilah awal mula menuju kehancuran yang lebih besar dari hubungan pernikahan mereka.

Lily hamil. Dan kehamilan itu tidak diinginkan oleh Linus. Linus tidak mau memiliki anak dulu sebelum dia merasa sanggup untuk menstabilkan perekonomian keluarganya. Namun, naluri menjadi seorang ibu tidak bisa begitu saja diindahkan oleh Lily. Lily menyabotase program penundaan kehamilannya, dan inilah yang membuat Linus murka. Semua orang yang mendengar kabar ini merasa bahagia, kecuali Linus, sang ayah dari jabang bayi yang dikandung Lily.

Tidak hanya sampai di situ saja, bahkan ketika lahir pun, Linus masih membekukan hatinya, tidak menerima kehadiran Leyna, anak perempuan mereka. Linus hanya memenuhi kebutuhan finansial Lily dan Leyna belaka, kebutuhan emosional mereka sama sekali tidak mendapat perhatiannya. Sampai suatu ketika, anak mereka itu tidak berumur panjang. Leyna yang masih bayi meninggal dunia.

Tidak ada lagi yang bisa dipertahankan Lily di sini. Karena, di setiap tempat dan setiap saat, Lily selalu teringat dengan anaknya, dan perlakuan dingin suaminya sendiri. Akhirnya, Lily kembali ke Indonesia, kembali pada orangtuanya. Di Indonesia, tekanan demi tekanan pun masih saja menghampiri, mengingat orangtua mereka bersahabat. Tidak ada yang menginginkan mereka berpisah. Tidak ada yang mengamini perceraian. Namun, bukankah hidup harus tetap berjalan? Lantas, bagaimana dengan nasib bahtera pernikahan mereka yang sebentar lagi karam? Sanggupkah Lily memaafkan Linus atas perlakuannya dulu? Atau apakah Linus mampu mengambil hati Lily kembali untuk menerima permohonan maaf dan penyesalannya itu?

***

"Banyak orang tidak tahu kalau menikah itu tidak melulu tentang kebahagiaan. Bukan berarti karena suami dan istri saling mencintai, merasa sudah sangat kenal satu sama lain, lalu pernikahan kalian akan lancar tanpa hambatan. Tanpa kesulitan." ---halaman 20

Membaca novel-novel seputar pernikahan itu rasanya..., bittersweet. Manis tapi getir, getir tetapi manis, apalagi bagi yang belum menikah seperti saya. Banyak orang yang mendorong untuk segera menikah, menceritakan betapa indahnya dunia setelah pernikahan. Mengayuh perahu berdua, lebih baik daripada sendirian. Ya, banyak hal. Hanya saja, terkadang euforia mengusung kampanye indahnya pernikahan tersebut lupa untuk dibarengi dengan sekelumit kisah tentang banyak hal yang bisa menggoyangkan pernikahan. Dan dalam hal ini, tak hanya ketidaksetiaan yang bisa membombardir perahu bernama pernikahan yang sedang berlayar tersebut. #nisasudahikutanseminarpranikah #yha

Bisa dibilang, saya mengalami blending yang cukup parah saat membaca ini. Dalam artian bagus, tentu saja, karena berarti penulis mampu menyampaikan maksud dan emosinya yang diterima dengan baik oleh pembaca. Hahaha, mungkin faktor umur, dan juga konflik yang didera oleh tokohnya begitu relate dengan kehidupan nyata.

Ada yang bilang, orang yang bisa melukaimu begitu dalam adalah justru orang yang mencintaimu begitu dalam pula. Membaca novel ini, membuat saya banyak berpikir. Berpikir dalam artian bagus lho ya, karena menambah pengalaman emosional dalam mengelola suatu konflik. Penulis membawa karakternya begitu real. Emosi dan konflik batin yang terangkai benar-benar seolah nyata. Jadinya, cerita ini benar-benar mengalir. Saya benar-benar merasakan bagaimana kesal dan murkanya Lily pada Linus. Namun, di lain sisi saya juga bisa membaca isi kepala Linus saat menghadapi masalah dari sudut pandangnya. Perkembangan karakter dalam novel ini berjalan beriringan dengan sebab-akibat yang pada akhirnya membuat pembaca paham dengan sikap mereka.

Untuk alurnya sendiri, disampaikan dengan pola maju-mundur, namun tidak membingungkan. Seperti sedang mengupas bawang, lapisan demi lapisannya memberikan pemahaman secara utuh. 

Secara keseluruhan, saya menyukai novel ini! Apalagi penulis menyampaikan background pekerjaan tokohnya dengan baik pula sehingga tampak nyata. Dan yang saya suka adalah..., ketika penulis mengandaikan kondisi rumah tangga tokohnya dengan hukum-hukum fisika.

Sekarang dia bisa membuat benda, yang besarnya berkali-kali lipat dari sebuah rumah, mengapung di air. Tapi sayang sekali, prinsip Archimedes yang bisa dimanfaatkan untuk membuat kapal mengapung, tidak berlaku untuk biduk rumah tangganya yang hampir karam. ---halaman 122

Atau, contoh lain yang ini (bisa jadi bahan analogi buat ngajar), tentang hukum ketiga Newton:

Untuk membuat sebuah perahu maju, kita harus mendayung ke belakang. Semakin kuat mendayung, semakin cepat perahu laju. Saat naik ayunan, kita mendorong ayunan ke belakang untuk mengayun ke depan. Semakin tinggi mendorong ayunan ke belakang, semkin tinggi mengayun ke depan. ---halaman 146.

Secara keseluruhan, saya suka dengan novel ini, meskipun di awal sempat terjadi kebingungan dengan banyaknya tokoh sampingan di dalam ceritanya. (Bayangkan saja, kakak Lily ada dua, kakak Linus satu. Mereka muncul dengan pasangannya.) Terlepas dari itu, saya masih menyematkan novel ini dengan bintang empat yang artinya: bagus sekali. 

Kalau kalian mengira novel ini serius banget, nyatanya tidak. Saya bahkan ketawa ngakak waktu membaca obrolan Lily dengan Nina, temannya, tentang "bobok-bobok lucu". Astaga =))

***

It's Giveaway Time!!!



Saya dan Kak Ika Vihara akan memberikan satu buah novel When Love is Not Enough pada kalian yang beruntung. Namun, jika saya seringnya mengadakan giveaway di blog, kali ini saya mengadakannya di Instagram. Jadi, kalau kalian belum punya Instagram, buat dulu ya. Dan kalau belum follow saya, silakan follow di: @niesya_bilqis

Apa saja ketentuannya, simak baik-baik:

  1. Memiliki alamat pos di Indonesia.
  2. Follow akun twitter twitter @IkaVihara @elexmedia & @niesya_bilqis
  3. Follow akun instagram @IkaVihara @elexmedia & @niesya_bilqis
  4. Berikan komentar pada postingan saya di Instagram (di sini), dengan melanjutkan kalimat ini. "Pernikahan adalah ..." 
  5. Jawaban hanya satu kalimat saja. Disertai dengan mention @IkaVihara dan dua orang temanmu. Diusahakan untuk tidak memention akun yang sama dengan yang sudah dimention peserta lain ya. Dan jangan memention yang sudah ikutan jawab.
  6. Giveaway berlangsung selama 25-31 Januari 2017 dan pengumuman pemenang satu hari setelahnya di Instagram, juga akan saya umumkan di Twitter dan di blog ini.
  7. Apabila ada yang kurang jelas, jangan sungkan untuk mention saya di Twitter! :D


Bagaimana, syaratnya mudah sekali, bukan? Buruan ajak teman-temanmu untuk ikutan giveaway ini.

Semoga beruntung! :)

Bleu

Judul : Bleu
Penulis : Deasylawati P.
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tebal Buku : 188 Halaman
ISBN : 9786020260518
Rating : 3 dari 5 





It was ok.

Saya menghabiskan buku ini dalam waktu yang singkat, secara umum bahasanya enak dan cukup mengalir. Berkisah tentang seorang perempuan bernama Rhys Biru Indriyani, yang bekerja sebagai editor dan penulis di sebuah kantor penerbitan bernama Tazkiya, dan pada mulanya mencintai temannya sendiri bernama Erfan Pratama, seorang pemuda tampan yang dengan kharismanya mampu menundukkan perempuan mana pun yang ia suka.

Sebenarnya, gayung pun bersambut, kedua insan ini saling jatuh cinta, namun entah mengapa justru hubungan yang rumit melanda keduanya. Mungkin karena ego, atau memang takdir tidak mempertemukan keduanya sebagai seorang pasangan. Karena sesuatu yang telah dilakukan Erfan dan itu melukai harga diri Rhys, membuatnya membenci pria itu. Tak lama Rhys menikah dengan orang lain, dan ini memberikan pukulan telak bagi Erfan hingga membuatnya menghilang dan pergi dari kehidupan gadis yang dicintainya.

Sampai pada peristiwa bertemunya kembali mereka enam tahun kemudian, dalam sebuah proyek untuk menggarap film dari novel yang diterbitkan oleh penerbit Tazkia. Keadaan sudah tidak sama lagi karena kondisi Rhys yang telah menjanda ditinggal pergi untuk selamanya oleh suaminya, namun bara kemarahan yang dulu sempat ada belum padam. Pertemuan pertama kembali itu masih menyisakan amarah dalam hati Rhys. Apalagi, Erfan hadir kembali tidak hanya untuk menjelaskan masalah yang belum teruraikan di masa lalu, melainkan dia juga menawarkan sebuah kehidupan baru bagi Rhys.


***


Jujur saja, cerita ini cukup klise, tentang cinta yang tidak menyatu karena takdir memang mengatakan demikian. Seolah mengajarkan manusia bahwa seberapa inginnya kita terhadap sesuatu, tidak selamanya keinginan itu dapat terwujud karena takdir yang sudah disiapkan kepada manusia jauh lebih indah. 

Meskipun tida ada embel-embel 'religi' dalam keterangan novel, saya yakin dengan penyajian covernya yang menggambarkan seorang perempuan berhijab, pembaca novel ini pun akan kesortir dengan sendirinya sehingga, segmentasi pembaca pada novel ini jadi menyempit. Saya tidak mengatakan ini kurang oke, meskipun jadinya (karena saya yakin bahwa ada tujuan syiar dalam penggarapan novelnya) sasaran tuju syiarnya jadi terbatas pada kalangan sendiri. Dan ketika pun saya memosisikan diri sebagai 'pembaca awam' di sini, kesannya saat membaca novel ini seolah seperti saya sedang diceramahi, hehehe. Bukan berarti itu kurang bagus, hanya saja, memberikan informasi berupa 'ini lho yang bener itu gini' menjadi kurang tercerna dengan baik. Saya lebih akan larut dan terhanyut dalam plot cerita ketika saya bisa mengubah persepsi dari 'pembaca luar' atau orang luar yang tidak terlibat dalam cerita, menjadi 'pelaku cerita' atau saya yang terseret arus dan merasa seolah-olah emosi dan persepsi saya larut jadi satu dengan plot cerita. Dan membaca buku ini, persepsi saya masih menjadi sebagai 'orang luar'. Mungkin karena kesan 'eksklusif' dari konten novel ini yang masih terasa sehingga, ketika saya memosisikan diri sebagai orang luar yang membaca, membuat perasaan 'diceramahi' itu cukup kerasa. Tapi sejauh ini, informasi dan pesan hikmah dari buku ini bagus sekali meskipun sampai atau tidaknya pesan itu dikembalikan lagi kepada para pembaca. 

Ceritanya pun hanya berfokus pada Rhys-Erfan. Seandainya penulis menggali tema lain, tentu akan memperkaya novel ini dan juga memberikan bonus pengetahuan bagi pembaca. Misalnya, bisa saja penulis mengayakan materinya dengan menggali seputar latar belakang pekerjaan si tokoh utama, atau menambahkan setting tempat sehingga pembaca tidak terfokus hanya pada kisah cinta si pelakunya saja.

Good luck buat penulisnya, dan tetap terus berkarya.

Not A Perfect Wedding

Judul : Not A Perfect Wedding
Penulis : Asri Tahir
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tebal Buku : 296 Halaman
ISBN : 978602025897
Rating : 3 dari 5 






Raina Winatama
Di hari pernikahanku, aku kehilangan mempelaiku. Bukan karena dia melarikan diri. Tapi dia pergi untuk selamanya.

Prakarsa Dwi Rahardi
Di hari pernikahanku, aku kehilangan mempelaiku. Bukan karena dia melarikan diri. Tapi aku harus pergi untuk selamanya.

Pramudya Eka Rahardi
Di hari pernikahan adikku, aku harus menjadi mempelai laki-laki. Menjalankan sebuah pernikahan yang harusnya dilakukan oleh adikku, Prakarsa Dwi Rahardi.

***

Sehari sebelum pernikahannya, kakak Raka datang dari luar negeri untuk menghadiri pernikahan Raka dan Raina. Sehari sebelum pernikahannya pula, Raka mengalami kecelakaan yang fatal. Persiapan pesta sudah dilakukan, namun fakta bahwa pengantin prianya tengah sekarat membuat kedua keluarga ini harus mencapai sebuah keputusan besar. Apalagi, keputusan tersebut didasari oleh permintaan terakhir sang calon pengantin kepada kakaknya agar Pram menggantikan posisi dirinya untuk menjaga Raina, sang calon mempelai wanita.

Akhirnya, dengan berlandaskan sebuah kebohongan, pesta pernikahan digelar dengan mengganti mempelai pria dengan kakaknya. Sang pengantin wanita tidak tahu-menahu sampai pada saat semuanya terlambat untuk diakhiri. Suaminya adalah Pram, bukan Raka yang ternyata sudah meninggal dunia semalam. Tentu saja Raina marah atas jebakan ini. Terutama, ia membenci keluarganya sendiri yang dengan tega menutupi kenyataan dan justru malah menyetujui kebohongan. Ia merasa terjebak dengan seseorang yang bahkan tidak pernah dikenali sebelumnya.

Mulanya Raina kasihan dengan Pram yang turut menjadi korban jebakan pernikahan palsu ini. Tapi, ketika dia mengetahui bahwa Pram juga terlibat dan turut menyetujui rencana ini, dia jadi ikut membenci pria itu yang ternyata sepuluh tahun lebih tua darinya. Tiga bulan pernikahan meeka dilalui dengan saling diam, tidak ada penjajakan karena Raina menjaga jarak dan menganggap Pram sebagai orang asing baginya, hanya dua orang yang tinggal dalam satu apartemen tanpa mempunyai ikatan apapun selain cinta. Jangankan menjalani hubungan sebagaimana layaknya suami istri, mereka bahkan lebih seperti kakak adik yang baru saja bertemu dan baru mengenal.

Namun, cinta datang karena terbiasa. Lambat laun mereka saling menyadari kehadiran satu sama lain. Raina mulai membuka diri tentang kehidupannya, juga mencari tahu tentang hidup Pram yang ternyata, dia sama sekali buta tentang pria itu dan masa lalunya. Ketika cinta mulai tumbuh di antara mereka, cerita dari masa lalu mewarnai kehidupan mereka. Mantan kekasih Pram dari luar negeri datang ke Jakarta. Raina cukup terkejut dan memang dia menyadari bahwa dia tidak tahu apa-apa tentang percintaan pria itu sebelum menikah dengannya. Pun dengan keberadaan Sashi, masa lalu Pram yang bahkan sampai sekarang belum dapat dilupakannya. Sifat Raina yang kekanak-kanakan menambah bumbu sedap dalam prahara rumah tangga mereka.

Bagaimana keluarga kecil ini menjalani kehidupan rumah tangga mereka yang dilandasi dengan sebuah pondasi yang rapuh? Apakah mereka sanggup menghadapi percikan dalam rumah tangga mereka maupun badai besar yang datang melanda?

***

Buku kesepuluh yang saya selesaikan di bulan ini. Well, bintang 3,5 saya berikan untuk novel ini. Kesan saya terhadap buku ini, jujur saja, baru menginjak halaman dua puluhan sampai tiga puluhan, saya merasa kalau buku ini terlalu drama, plotnya seperti sinetron. Sebuah pernikahan jebakan, pergantian peran mempelai pria, kebohongan pada pengantin wanitanya..., itu membuat saya mengernyitkan dahi. Entah apakah memang yang seperti itu pernah ada dalam dunia nyata, tapi plotnya bagi saya terlalu tidak nyata dan menyentuh kehidupan sehari-hari. Masa' iya ada sekelompok orang yang mau-maunya terlibat persekongkolan seperti itu di tengah suasana duka? Well, kita berbicara pernikahan yang sakral ini ya. Tentu saja tidak ada yang mengamini sebuah dusta dan kebohongan di awal gerbangnya. Tapi..., yah, balik lagi ke judulnya sih ya "Not A Perfect Wedding".

Oke selanjutnya, setengah buku saya merasa ini novel nggak banget karena tokoh perempuannya yang jauh dari sifat dewasa, padahal usianya seperempat abad lho. Tapi, saya pertahankan untuk terus menbaca hingga pada akhirnya baru bisa benar-benar menikmati buku ini setelah melalui setengah bukunya. Setelahnya, apalagi pas sudah muncul benih-benih cinta yang tumbuh dan berkembang di kedua tokohnya, saya mulai suka. Saya pikir, separuh sisa cerita yang belum saya baca akan diisi dengan bagaimana mereka mengembangkan cinta saja, dan ternyata prediksi saya tidak meleset. Namun, ada banyak hal yang membuat saya tidak bosan sebosan bagian-bagian awal cerita ini. Jadi, saya cukup menikmati. Meskipun masih terganggu sampai ikut terbawa emosi dengan karakter perempuannya yang terlalu bocah dan childish.

Kesimpulan yang bisa saya ambil dari membaca novel ini adalah: jangan terlalu bocah, dewasalah menghadapi takdir dan permasalahan rumah tangga yang menerpa. Oke, mungkin ini hanyalah wacana karena saya toh belum melaluinya, hahahaha, tapi setidaknya dengan membaca buku ini jadi ada pelajaran yang bisa dipetik, kan?

Dan kesimpulan kedua, jangan gampang mengucap kata "cerai", dan kalau ada masalah rumah tangga jangan main kabur ke rumah orangtua. Kalau permintaan cerainya dikabulkan, galau juga kan? Dan kalau perkara rumah tangga yang harusnya bisa diselesaikan dua kepala jadi membuat yang lain bertanya-tanya kan ya? Oke, ini masih sekadar wacana, hahahaha. Semoga saja dalam waktu dekat bisa mengalaminya sendiri gitu =))

Nah itu tadi dari segi cerita. Kalau masalah teknis, saya cukup terganggu dengan penulisan tanda baca di kalimat-kalimatnya. Banyak sekali, yang harusnya diakhiri dengan koma justru malah diberi titik. Jadi dalam kepala saya, saat baca di bagian-bagian itu, seperti ada jeda. Jeda yang kebanyakan. Dan itu cukup mengganggu. Ada beberapa typo juga dan kesalahan pemilihan kata, beberapa tanda baca yang seharusnya ada jadi nggak ada. Tapi so far, saya cukup senang kok membacanya.

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)