Zahir


Judul : Zahir
Penulis : Paulo Coelho
Penerjemah : Andang H. Sutopo
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 440 Halaman
ISBN : 9786020301174
Rating : 4 dari 5 




Blurb: 

Seorang suami ditinggalkan istrinya tanpa alasan, tanpa jejak. Kepergiannya menimbulkan pertanyaan besar yang makin menggerogoti hati dan pikiran, kenangan yang ditinggalkannya tak terhapuskan, hingga menjadi obsesi yang nyaris membawa sang suami pada kegilaan. Untuk menjawab pertanyaan "Mengapa" itu, sang suami menelusuri kembali jejak kebersamaannya dengan sang istri, hal-hal yang terjadi dalam perkawinan mereka, hingga terjadinya perpisahan itu. Pencarian ini membawanya keluar dari dunianya yang aman tenteram, ke jalur yang tidak dikenalnya, dan membuka matanya terhadap makna cinta serta kekuatan takdir.

***

Zahir, dalam bahasa Arab, berarti terlihat, ada, tak mungkin diabaikan. Zahir adalah seseorang atau sesuatu yang, sekali kita mengadakan kontak dengannya atau dengan itu, lambat laun memenuhi seluruh pikiran kita, sampai kita tak bisa berpikir tentang hal-hal lain. Keadaan itu bisa dianggap sebagai tingkat kesucian atau kegilaan.

***


The Zahir bercerta tentang seorang penulis yang ditinggal oleh istrinya. Sang istri bernama Esther adalah seorang wartawan yang meliput perang. Kehidupan mereka yang mulanya berjalan biasa saja, dikejutkan dengan hilangnya Esther. Si penulis diinterogasi, bahkan polisi melakukan prosedur standar dengan memenjadakan pria tersebut. Namun, seorang wanita datang memberitahukan alibi yang meringankan pria itu. Akhirnya dia dibebaskan.

Pencarian istrinya masih berlanjut, hingga dia menyerah dan memutuskan untuk menulis buku yang isinya berupa surat yang ia tujukan pada Esther. Buku itu berjudul "Ada Waktu untuk Merobek, Ada Waktu untuk Menjahit". Dia yakin bahwa istrinya baik-baik saja, dan menghilangnya Esther memang adalah sebuah pilihan, bukan penculikan atau sebuah tindak kejahatan. Mungkin benar bahwa istrinya terpikat oleh seorang pemuda yang sering dibicarakan oleh Esther sebelum memutuskan pergi, seorang pria berusia dua puluh lima tahun yang bernama Mikhail.

Dalam pencariannya terhadap Esther inilah sang penulis kemudian merefleksikan lagi bagaimana pertemuannya dulu dengan Esther dan bagaimana upaya yang dilakukan Esther dalam membantu sang penulis untuk menemukan jati dirinya. Penulis ingat bahwa sebelumnya dia pernah berkelana untuk menemukan itu. Hingga proses menemukan Jalan Santiago itulah yang pada akhirnya membuat ia menemukan arti kehidupannya, dan menulis sebagai jalan hidupnya.

Pada sebuah acara penandatanganan bukunya, si penulis dikejutkan dengan kedatangan Mikhail, yang mengatakan bahwa istrinya baik-baik saja. Dari pertemuan itulah ia kemudian mengikuti ke manapun Mikhail pergi hingga mengetahui aktivitas ganjil Mikhail dan perkumpulannya di sebuah kafe setiap kamis malam.

Si penulis menemui banyak orang yang rupanya pernah bertemu dengan Esther sebelumnya. Si penulis heran karena mereka semua mendapatkan potongan kain berdarah milik serdadu perang yang bertemu dengan Esther sebelum ia meninggal. Ia begitu heran mengapa orang-orang itu memiliki potongan kain sementara dirinya tidak. Dan ini berhasil membuatnya bertanya-tanya.

Mikhail mengatakan bahwa ia mengetahui di mana keberadaan Esther. Namun dirinya bersikeras tidak akan memberitahu si penulis sebelum mendapatkan arahan dari "Bunda", yang berupa bisikan ghaib. Saat sebuah kecelakaan terjadi pada si penulis, itu menjadi titik balik dalam kehidupannya seolah segalanya dilihatnya dalam perspektif berbeda.

Keberadaan seorang perempuan bernama Marie dalam kehidupan penulis, membuat warna tersendiri dalam kisah ini. Apakah dia berhasil menemukan di mana Esther berada ataukah justru memilih untuk hidup dengan Marie yang selama ini telah begitu baik padanya?


***


Buku Paulo Coelho menurut saya tidak bisa diprediksi sebelumnya bagaimana sehingga saya tidak akan berekspektasi terlalu banyak terhadapnya. Saya yang teramat menyukai The Alchemist merasa kurang puas saat membaca Aleph. Bahkan kemudian, saya merasakan terjun bebas ketika membaca Brida. Dari situ kemudian saya belajar untuk tidak berekspektasi apapun terhadap isi buku yang saya baca. Dan yang saya dapat adalah..., kejutan! Buku ini menarik sekali. Bahkan saya sempat tercenung dan tidak konsentrasi dengan buku berikutnya yang saya baca karena masih terpesona dengan sihir Zahir yang menimpa saya.

Dari segi plot, cerita ini cukup simpel karena menceritakan tentang seorang penulis yang memiliki kekayaan luar biasa dari royalti penulisan lirik dan bukunya. Ia dikejutkan dengan perginya sang istri yang bernama Esther entah ke mana. Ia yakin bahwa istrinya itu memang sengaja pergi, namun prosedur kepolisian tetap dijalankan yang menyebabkan ia sempat menjadi tertuduh atas hilangnya sang istri. Dia juga sempat mengira Mikhail yang membawa lari istrinya, meskipun pada akhirnya atas bantuan Mikhail pula petualangan mencari Esther itu dilakukan.

Kisah yang begitu sederhana menjadi tidak sederhana saat Paulo Coelho menggarapnya dengan sentuhan spiritual yang membuat pembaca akan banyak merefleksikan apa yang ia tulis pada dirinya sendiri. Saya begitu menyukai konsep "Bank Budi" yang dijelaskan oleh Paulo di sini. Dulu saya pernah dapat konsep serupa saat ada pelatihan Seven Habits di kantor, dan saking mendalamnya materi itu sehingga saya masih mengingatnya sampai sekarang. Di sini, Paulo kembali menyegarkan ingatan saya tentang itu.

Namun seperti yang sudah saya duga sebelumnya, ciri khas tulisan Paulo yang lainnya adalah dengan memasukkan ritual-entah-apa di dalam novelnya. Kali ini, melalui tangan Mikhail, ia menggagas ritual yang saya sebut dengan "membuka hati dengan bicara". Pesertanya yang datang melakukan semacam berbicara tentang hal-hal tabu tentang dirinya di depan umum. Mungkin ini disebabkan oleh paham individualis di kalangan manusia abad ini yang membuat mereka tertutup. Padahal, untuk menyelesaikan permasalahan atau membuka hati, yang harus dilakukan adalah berbicara. Saya nggak setuju tentu saja dengan pemahaman ini (yang tentang ritualnya, bukan "berbicara"nya ;)), apalagi kalau di Indonesia ada perkumpulan ini bisa saja dikategorikan sebagai aliran sesat hahaha :D. Selebihnya, tentang perenungan-perenungan, dan banyaknya kalimat bernapaskan spiritual, membuat saya mampu mengorelasikannya dengan konsep yang ada di agama saya, dan ini adalah sebuah jalan yang bagus :)

Dan kutipan yang saya suka..., sebenarnya banyak sekali, tapi baiklah ini saya berikan yang bertemakan tentang cinta:


Cinta adalah kekuatan yang tak akan pernah ditundukkan. Kalau kita berusaha mengendalikannya, cinta akan menghancurkan kita. Kalau kita berusaha mengurungnya, cinta akan memperbudak kita. Kalau kita berusaha memahaminya, cinta akan meninggalkan kita dalam kebingungan.

Kekuatan ini ada di dunia untuk membuat kita bahagia, untuk membawa kita lebih dekat pada Tuhan dan pada tetangga-tetangga kita, tapi dengan cara kita mencintai sekarang ini, kita mengalami satu jam kegelisahan untuk setiap menit kedamaian.---Halaman 125


Ending kisah ini juga sedikit mengejutkan dan membuat saya mengerutkan dahi, sambil tertawa dan berkata, "Astaga, hahaha."



0 komentar:

Post a Comment

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (41) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Djenar Maesa Ayu (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)