Fenomenologi Wanita Ber-High Heels

Judul : Fenomenologi Wanita Ber-High Heels
Penulis : Ika Noorharini
Penerbit : Artha Kencana Mandiri
Tebal Buku : 112 Halaman
ISBN : 9786027306905
Rating : 3 dari 5 






Apa yang terlintas dalam benak saya ketika mendengar kata high heels? Cewek cantik. Saya pikir, banyak pula yang akan memikirkan hal yang sama. Setiap perempuan menginginkan dirinya terlihat cantik, ini adalah sebuah kodrat alam yang dengannya terkadang perempuan menepiskan efek samping dari proses "cantik" tersebut. Sebagai seorang perempuan (yang tentu saja ingin terlihat cantik), saya tidak bisa tidak setuju dengan slogan: "Beauty is Pain". Terkadang, demi terlihat cantik (menurut standar orang Indonesia, yeah, karena cantik itu tergantung sudut pandang kalau menurut saya), orang akan melakukan apa saja yang tidak jarang menyiksa dirinya. Salah satunya adalah dengan menggunakan high heels.

Kenapa high heels? Sederhana saja, sepatu hak tinggi bisa membantu perempuan yang memiliki tinggi standar atau di bawah rata-rata. Bayangkan saja, dengan cara instan, tinggi kita bisa bertambah 5 sampai 15 cm hanya dengan mengenakan high heels. Apakah high heels menunjang penampilan? Sebagai satu dari pengguna high heels, saya harus mengatakan "ya". Entah apakah ini sifatnya sugestif atau memang demikian adanya, namun harus saya akui dengan mengenakan sepatu hak tinggi, penampilan dan percaya diri kita akan meningkat sekian puluh persen. Namun, harus diakui bahwa dengan menggunakan sepatu hak tinggi, akan muncul ketidaknyamanan (apalagi bagi yang tidak biasa memakainya) saat berjalan maupun beraktivitas. Kalau misalnya harus tampil di muka umum yang hanya memakan waktu satu hingga dua jam, mungkin tidak akan terasa. Tapi coba bayangkan jika harus bekerja atau beraktivitas dengan high heels selama setengah hari penuh? Pegal dan sakit, tentu saja akan terasa.

Sebenarnya, saya bukan salah satu perempuan yang maniak dengan sepatu hak tinggi. Dikaruniai tinggi di atas rata-rata (TB: 167 cm dan BB: 50 kg), membuat saya bersyukur tidak harus menjadikan high heels sebagai barang wajib untuk dikenakan sehari-hari. Tapi bukan berarti saya tidak punya sepatu/sandal hak tinggi, saya punya beberapa. Ada yang untuk menghadiri acara resmi, ada pula sepatu kerja. Biasanya, kalau saya pakai untuk kerja, setelah beberapa jam (kalau sudah balik ke meja) saya switch penggunaannya dengan sandal jepit. Kenapa? Soalnya pegeeeel. Apalagi saat naik-turun tangga.

Buku yang saya baca ini berjudul "Fenomenologi Wanita Ber-high heels". Fenomenologi sendiri adalah sebuah studi dalam bidang filsafat yang mempelajari manusia sebagai sebuah fenomena. Ilmu fenomonologi dalam filsafat biasa dihubungkan dengan ilmu hermeneutik, yaitu ilmu yang mempelajari arti daripada fenomena ini. Fenomena apa yang dibahas? Dari judul dan pengantar saya yang panjang kali lebar ini tentu saja pertanyaan itu sudah terjawab. Ya, tentang wanita dan high heels-nya.

Buku ini diangkat dari penelitian penulis yang telah dibuktikan secara empiris tentang fenomena high heels di kalangan wanita. Terbagi menjadi beberapa bagian di mana bagian-bagian tersebut menjadi satu kesatuan yang berhasil menangkap intisari dari fenomena tentang high heels bagi perempuan. Yang saya suka dari buku ini adalah tentang sejarah high heels yang bahkan sudah bermula sejak zaman Mesir Kuno 3500 SM. Ini dibuktikan dengan adanya gambar pada mural di dinding gua sebagai bukti eksistensi high heels pada zamannya. Seiring perkembangan waktu, high heels pun turut mewarnai perpindahan sejarah dari masa ke masa. Sebuah informasi yang menarik yang jarang ditemui di buku mana pun. Saya mengikuti tren mode teruama zaman Renaissance (karena ikut main di role playing fiction yang bersetting di zaman itu), namun sepatu terutama high heels tidak pernah menjadi fokus saya saat itu. Padahal, sebagai salah satu penunjang dalam berpenampilan kaum bangsawan, sepatu hak tinggi mendapat peran yang signifikan. Informasi tentang pria bersepatu hak tinggi juga menjadi pengetahuan yang menarik (apalagi dikatakan di buku ini bahwa high heels membantu banyaknya kemenangan yang didapatkan oleh tentara Persia).

Semakin modern, penggunaan high heels sudah memiliki batasnya tersendiri dan hanya dikenakan oleh wanita, meskipun tidak jarang pria bertubuh pendek menggunakan heels (dalam wujud sepatu pria) untuk menunjang tinggi badan mereka. Saya pernah mendengar berita di infoainment bahwa ada artis pria yang menggunakan sepatu khusus yang bisa membantu agar ia terlihat tinggi sekian centimeter dari aslinya. Namun, bentuk dan jenis high heels yang dikhususkan bagi wanita itu sendiri sangat banyak. (PS: Saya malah baru tahu ada yang namanya stiletto, meskipun bentuknya cukup familiar.) Penggunaan high heels tersebut juga selain karena faktor kebutuhan tadi, juga tidak lepas dari yang dinamakan dengan fashion. Industri fashion yang bergerak secara dinamis, terkadang menuntut perempuan untuk selalu up to date dengan perkembangannya. Stigma bahwa yang tidak mengikuti arus fashion adalah seorang yang ketinggalan zaman menuntut sebagian wanita untuk terbawa arus di dalamnya. Ini tentu berkaitan dengan pergaulan dan eksistensi diri dalam bermasyarakat. Terlepas dari apa pun motif yang digunakan oleh perempuan dalam mengenakan high heels, tentu saja harus dibarengi dengan kesadaran untuk tidak menyiksa diri (entah dalam bentuk fisik maupun material). 

High heels merupakan sarana bagi pelengkap cantik dan meningkatkan rasa percaya diri bagi kaum hawa. Untuk itu, selain mengetahui kebutuhannya terhadap penggunaan high heels, juga harus bijak dan tidak berlebihan.


Sometimes people are beautiful.
Not in looks.
Not in what they say.
Just in what they are.” 
(Markus Zusak)

0 komentar:

Post a Comment

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (41) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Djenar Maesa Ayu (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm J√łrgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)