Wallbanger

Judul : Wallbanger
Penulis : Alice Clayton
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tebal Buku : 600 Halaman
Cetakan Ketiga, Januari 2017
ISBN : 9786020229874
Rating : 2 dari 5

**Warning: Buku ini mengandung konten dewasa, silakan tutup bukunya kalau belum 21 tahun**



Blurb:

Malam pertama di apartemen impian di San Fransisco, Caroline memperoleh kejutan istimewa. Dari balik dinding tipis apartemennya, Caroline mendengar suara tempat tidur yang berderak serta jeritan kepuasan tanpa henti. 

Malang bagi Caroline yang sedang dalam 'masa hiatus kencan'. Tetangganya yang jelas-jelas mempunyai daya tarik 'mematikan' bagi wanita membuat fantasi Caroline tetap terbangun sepanjang malam. Maka ketika suara derak tempat tidur mengancam dirinya--secara harafiah--Caroline tahu dia harus bertindak... 

***

Caroline punya tetangga baru, yang kamar mereka terpisahkan oleh dinding. Masalahnya, tetangga baru itu suka berisik malam-malam dengan orang yang berbeda. Dinding mereka yang entah setipis apa itu selalu berdentum-dentum, mengakibatkan pajangan dinding Caroline bahkan terjatuh. Dan bagaimana Caroline bisa tahu kalau lawan bermain tetangganya itu berbeda-beda? Karena, ciri khas mereka yang tidak sama. Lalu, ia menjuluki wanita-wanita itu dengan julukannya masing-masing: si Spanx; si Kucing Betina, karena suka mengeong-ngeong; lalu si Wanita Pengikik. Dari aktivitas apartemen sebelah itulah, Caroline mengetahui kalau nama pria itu adalah Simon, yang ia juluki sebagai Simon Wallbanger--Si Pembentur Dinding.

Karena kesal pada suatu malam, Caroline nekat untuk menggedor pintu depan apartemen tetangganya itu. Dari situlah ia melihat secara langsung bagaimana rupa si Wallbanger itu. 

Sebenarnya, selain merasa terganggu karena tidurnya jadi tidak nyenyak, Caroline punya masalah dengan ketidakhadiran O sejak aktivitas seksual secara brutal yang pernah ia lakukan beberapa waktu lalu. Karena itu pulalah ia terganggu dengan kegiatan ruangan sebelah itu.

Saat menghadiri sebuah pesta, ia dan kedua temannya, Mimi dan Sophia. Di sana, ia bertemu dengan Simon dan kedua temannya. Alhasil, mereka berteman. Dan Caroline berhasil membuat perjanjian gencatan senjata dengan Simon si tetangga. Meskipun mereka sudah memperbaiki hubungan dengan menjalin pertemanan, sebenarnya mereka memendam perasaan saling suka. Buktinya, mereka saling melempar lelucon-lelucon yang menyerempet, meskipun tidak ada kontak fisik yang berarti di antara keduanya.

Tak lama kemudian, aktivitas tembok kamar sebelah menjadi hilang, digantikan dengan alunan lagu yang terdengar sebagai pengantar tidur. Apa yang terjadi dengan mereka selanjutnya?

***

Genre erotica romance bukan satu hal yang baru bagi saya. Saya sudah membaca Fifty Shades of Grey (yang belum ada niat buat baca kelanjutannya), Crossfire series (yang berhenti baca di buku kedua atau ketiga gitu, lupa), dan juga The Blackstone Affair series (juga berhenti di buku ketiga kalau nggak salah ingat). Jadi, membaca Wallbanger ini, ya biasa saja. 

Sama seperti kesan yang saya dapat dari buku ini, ternyata juga biasa saja. Nggak ada yang istimewa. Justru, saya malah merasa kecewa karena bukunya tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Hmmm, memangnya, what did you expect with this genre? Sebenarnya, karena saya adalah pembaca buku semua genre, saya tidak membatasi genre bacaan saya. Sejak booming-nya FSoG, saya juga mulai merambah genre bacaan ini. Apa yang saya harapkan dan ekspektasikan dari genre erotica romance? Saya berharap mendapat cerita yang kompleks, sebenarnya, dengan plot yang kuat dan tidak hanya mengandalkan adegan kipas-kipas sebagai bumbu utama. Saya berharap kegiatan itu justru berada di dalam lingkar sebab-akibat yang pas. Bukan sebagai bahan baku utama yang ditonjolkan terus-menerus sampai akhirnya pembaca merasa, "Ewwhh, paan zi inih?!"

Well, sejauh ini, dari buku-buku yang saya baca, yang baru memenuhi ekspektasi adalah The Blackstone Affair. Saya suka plotnya, saya suka ceritanya. Di luar itu (apalagi Crossfire series), cuma berhasil membuat saya mengerutkan dahi dan misuh-misuh (lalu memberikan rating rendah, hehe, maafkan).

Nah, sekarang, balik ke Wallbanger. Jujur, saya suka plot cerita ini dari awal. Sepertinya, menjanjikan. Kisahnya unik, segar karena dibumbui kisah komedi romantis, dan juga membuat penasaran. Namun, keunggulannya hanya berhenti di situ saja. Selebihnya, terlalu banyak percakapan yang membuat saya terlalu banyak melakukan skimming saat membacanya. Entah apakah saya ketinggalan plot penting saat menghilangkan berlembar-lembar baca buku ini, tapi rasanya tidak juga. Saya masih bisa mengikutinya. Satu hal yang bikin agak bisa bernapas lega karena adegan kipas-kipasnya tidak sesering minum obat dalam sehari (seperti yang sering terjadi kalau membaca buku-buku sejenis ini). Tapi, bukannya karena jarang tersebut jadi seolah istimewa, justru biasa saja, malah saya skip-skip bacanya karena bosan dan... "Apasih?!" Hahaha. Begitulah.

Karena saya berharap ada yang istimewa di sini (bahkan di awal saya berencana memberikan bintang tiga), tapi ternyata biasa-biasa saja, akhirnya bintang dua cukuplah. Saya merasa terhibur sih, meskipun hanya tidak mencapai ekspektasi saja. Nggak tahu juga bakal tertarik baca kelanjutan cerita ini atau nggak kalau buku selanjutnya diterjemahkan.

Dan untuk yang berhubungan dengan si O ini (yang terus-terusan dibahas dari awal sampai akhir), karena saya nggak mengerti (#polos), akhirnya saya nggak berani komentar tentang itu ya, haha.

Satu hal yang saya pikirkan dari awal membaca buku ini. Memangnya, tembok kamar mereka itu terbuat dari apa, sih? Kok aktivitas ruangan sebelah sampai bisa membuat barang-barang di tembok berjatuhan? Apa terbuat dari tripleks? Sampai saya harus menggedor-gedor dinding beton buat mencari tahu seberapa kuat benturan yang ditimbulkan sampai membuat kegaduhan di ruangan sebelahnya. Hahaha, impulsifnya  saya kumat.

Oke, sekian ulasan saya tentang ini.

2 komentar:

  1. wkwkwkwkwkwkwkwkwk jangan baper mba... (pertama kalinya mampir di blog mba nisa) meet up yookk call me yaaa min sms

    ReplyDelete
    Replies
    1. kenapa pula kamu mampirnya yang di sini :p yoklah, nanti malam aku free.

      Delete

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (41) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Djenar Maesa Ayu (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)