Mendengarkan Coldplay

Judul : Mendengarkan Coldplay
Penulis : Mario F. Lawi
Penerbit : Grasindo
Tebal Buku : 52 Halaman
Cetakan Pertama, Agustus 2016
ISBN : 9786023756292
Rating : 2 dari 5




Mendengarkan Coldplay adalah sebuah buku puisi yang mengambil tema cerdas, menggunakan judul lagu Coldplay sebagai judul puisinya, di mana isi puisi-puisinya terkadang setema atau se-feel dengan lirik lagu Coldplay. Namun, puisi penulis kebanyakan bercerita dengan unsur religi kristiani. Sepertinya lho ya, mengingat saya tidak paham dengan ajaran kristiani yang diangkat oleh penulis. Tapi tidak semua kok, ada juga yang bercerita tentang kisah cinta, yang bisa diartikan secara universal.

Saya membaca buku puisi ini tentu saja sambil mendengarkan lagu Coldplay yang dimaksud. Dan supaya lebih meresapi (mengingat listening saya buruk banget), saya cari lagu-lagu di Youtube yang ada liriknya. Ada beberapa yang punya feel selaras dengan lagunya, misalnya See You Soon yang sama-sama mengangkat cerita tentang kehilangan teman (dalam harfiah maupun kehilangan orientasi kehidupan, atau iman(?) entahlah). Terkadang, karena saya tidak menemukan keselarasan atau kesesuaian tema lagu dengan kandungan puisi, saya mengulang-ulang lagu yang dimaksudkan. Dan, untungnya ini adalah Coldplay, yang mana bahkan diputar berkali-kali pun, lagunya tetap bagus dan kau tidak akan menyesal melakukannya. Asal lagi punya banyak waktu saja sih, hehehe.

Sebenarnya, perilaku itu (membandingkan isi lagu Coldplay dan isi puisi Mendengarkan Coldplay) bisa dibilang kurang dibenarkan, menurut saya. Karena, bisa saja keduanya berdiri sendiri, tidak beririsan. Mungkin penulis hanya terinspirasi dari sepotong kata dalam judul yang sama, tapi interpretasi yang ada di dalamnya tidaklah sama. Misalnya, saya tidak menemukan kesesuaian itu pada In My Place. Puisinya, saya mengartikan tentang... oke, saya kurang paham dengan makna puisi itu. Namun, saya bisa merasakan feel yang terbangun dari musik dan lirik Coldplay di judul yang sama, bahwa lagunya bercerita tentang orang yang merasakan kehilangan seseorang dan tengah berjuang untuk menunggunya datang kembali.

Pada Yellow, saya merasakan adanya ikatan yang kuat tentang perasaan jatuh cinta. Di The Scientist, justru puisinya berisi satu kalimat bermakna dalam:

Bagaimana cara membangkitkan orang mati?

Begitu saja. Padahal, The Scientist adalah salah satu lagu Coldplay yang saya suka sekali. 

Nobody said it was easy
It's such a shame for us to part
Nobody said it was easy
No one ever said it would be this hard

Oh, take me back to the start

Sebenarnya, memaknai puisi ini bisa dengan dua cara, dengan atau tanpa mendengarkan lagu Coldplay. Intinya, sama-sama tentang penyesalan, bagaimana caranya memperbaiki hubungan jika orang yang pernah kita lukai itu sudah tiada? Setidaknya itulah kesan yang saya tangkap darinya.

Fix You, adalah lagu kesukaan saya lainnya setelah The Scientist. Lagunya sendiri bercerita tentang seseorang yang selalu ada, untuk orang lain. Yang bahkan, mungkin saja keberadaannya tidak disadari. Namun, orang itu selalu ada, membantunya memperbaiki semua kesalahan, semua keadaan.

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you

Sebenarnya lagu ini kental sekali dengan konsep ketuhanan jika mau mengambil dari sudut pandang itu. Namun, dalam puisinya, saya tidak merasakan perasaan yang begitu kuat yang tecermin dalam bait-bait puisinya. Atau, mungkin pemahaman saya saja yang tidak sanggup meninterpretasikan tiap bait kata yang dituliskan penulisnya di sana.

Tentu saja, jika saya mendedah satu per satu judulnya, di mana ada dua interpretasi berbeda yakni dari sudut pandang lagu Coldplay lalu puisi-puisi di sini, tentu akan memakan banyak sekali ulasan. Akhirnya, saya hanya bisa memberikan kesimpulan beberapa hal tentang buku puisi ini:

Pertama, konsepnya menarik. Kedua, andai saja tidak ada benang merah dengan lagu-lagu Coldplay, saya rasa saya tidak akan cukup memiliki ketertarikan dengan puisi ini. Kalaupun membacanya di luar konteks dari lagu-lagu Coldplay, sepertinya saya akan kesulitan mencari makna yang terkandung dalam isinya. Bukan berarti tidak bagus. Hanya saja, saya yang awam tentang kisah biblikal, tentu tidak akan mengerti beberapa cerita yang diangkat di sini. (Lagi pula, ketertarikan untuk mencarinya di mesin telusur pun belum ada.)

Bintang dua yang saya berikan di sini bukan karena puisinya tidak bagus, wah, kata-katanya bagus kok dan sarat makna. Bukan pula saya anti membaca kisah-kisah biblikal. Saya rasa, alasan saya bukan karena itu. Hanya saja, saya yang kurang bisa menangkap makna tersebut. Lalu, yang ada saya justru malah lebih tertarik ke kutub lirik dan lagu Coldplay, bukan justru masuk ke dalam semesta baru yang ditawarkan oleh penulisnya melalui untaian kata-katanya. 

Secara umum, kata-kata yang membekas hanya ada pada sebaris puisi di judul The Scientist itu saja (itu pun lebih karena kekuatan pengaruh lagunya, ketimbang puisinya). Dan akhirnya, saya tidak lagi berusaha memahami puisi-puisinya tapi justru melanjutkan playlist Coldplay, dan hanya membuka-buka sekilas lembaran puisi ini.


2 komentar:

  1. Sebagai bukan penikmat puisi, saya juga kerap kesulitan memahami apa yang dimaksud dalam puisi. Itulah alasan kenapa saya tidak memilih buku-buku puisi. Hehe :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk beberapa buku puisi saya masih bisa merasakan feelnya. Yang ini aja kurang. Mungkin kesan Coldplay-nya yang bikin saya membanding-bandingkan dan jauh lebih menikmati lagunya ketimbang puisi-puisi di sini.

      Delete

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (41) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Djenar Maesa Ayu (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)