Kutipan Novel Meniti Bianglala karya Mitch Albom



Saya kembali dengan membuat sebuah postingan tentang kutipan novel. Novel ini, Meniti Banglala yang judul aslinya adalah The Five People You Meet in Heaven, memiliki kesan yang begitu dalam di hati saya. Sampai detik ini saya sangat kesusahan untuk mengulasnya. Semoa dengan terbitnya postingan ini, membuat saya tidak kebingungan lagi mau membahas apa saja di reviewnya nanti.

Yuk mari kita simak kutipan apa saya yang berkesan dari novel yang saya baca itu.

Bagaimana orang memilih kata-kata terakhirnya? Apakah mereka menydari bobot kata-kata terakhir mereka? Apakah mereka memang ditakdirkan menjadi bijak? ---halaman 19

Sebagai catatan, kata terakhir Eddie adalah, "Mundur!" ---halaman 19

"Bahwa tidak ada kejadian yang terjadi secara acak. Bahwa kita semua saling berhubungan. Bahwa kau tidak bisa memisahkan satu kehidupan dari kehidupan lain, sama seperti kau tidak bisa memisahkan embusan udara dari angin." ---halaman 52

"Keadilan tidak mengatur persoalan hidup dan mati. Kalau keadilan yang mengatur, tidak akan ada orang baik mati muda." ---halaman 53

"Apakah kau pernah bertanya-tanya dalam hati? Kenapa orang datang melayat etika harus ada orang meninggal? Kenapa orang merasa mereka harus datang?"
"Itu karena jiwa manusia tahu, jauh di lubuk hati mereka, bahwa semua kehidupan saling berkaitan. Kematian bukan hanya mengambil seseorang, tapi juga luput dari orang lain, dan di celah kecil antara kena dan nyaris, kehidupan berubah." ---halaman 53

"Itu sebabnya kita datang saat kelahiran bayi... Dan saat pemakaman." ---halaman 53

"Orang-orang asing, adalah keluarga yang masih belum kaukenal." ---halaman 54

"Tidak ada kehidupan yang sia-sia. Satu-satunya yang kita sia-siakan adalah waktu yang kita habiskan dengan mengira kita hanya sendirian." ---halaman 55

"Waktu, tidak seperti yang kaukira. Kematian? Bukan akhir dari segalanya. kita mengiranya begitu. Tapi apa yang terjadi di dunia hanya permulaan." ---halaman 95

"Itulah yang disebut alam baka. Tempat kau belajar mengenai hari-hari kemarinmu." ---halaman 96

"Kadang-kadang kalau kau mengorbankan sesuatu yang berharga, kau tidak sungguh-sunguh kehilangan itu. Kau hanya meneruskannya pada orang lain." ---halaman 97

Semua orangtua merusak anak-anak mereka. Tak bisa dihindari. Anak-anak, seperti gelas cair, mengikuti bentuk yang dibuat oleh pencetak mereka. Sebagian orangtua membuat buram, sebagian membuat retak, sebagian lagi meremukkan masa kecil menjadi pecahan-pecahan yang tak mungkin lagi diperbaiki. ---halaman 108

"Kejadian-kejadian yang terjadi sebelum kau dilahiran tetap mempunyai pengaruh pada dirimu. Dan orang-orang yang hidup sebelum kau juga mempunyai pengaruh pada dirimu." ---halaman 127

Orangtua jarang melepas anak-anak mereka, jadi anak-anak yang melepas orangtua mereka. Mereka pergi. Mereka pindah. Pengakuan yang dulu penting untuk mengukur keberhasilan mereka--pujian ibu, anggukan ayah--tertutup oleh saat-saat pencapaian mereka sendiri. Baru belakangan, lama setelahnya, ketika kulit mulai keriput dan jantung mulai lemah, anak-anak itu mengerti; kisah hidup mereka, dan seluruh pencapaian kesuksesan mereka, bertumpu di atas kisah-kisah kehidupan ayah-ibu mereka, batu demi batu, di bawah permukaan air kehidupan mereka. ---halaman 130

"Menyimpan rasa marah adalah racun. Menggerogotimu dari dalam. Kita mengira kebencian merupakan senjata untuk menyerang orang yang menyakiti kita. Tapi kebencian adalah pedang bermata dua. Dan luka yang kita buat dengan pedang itu, kita lakukan terhadap diri kita sendiri." ---halaman 145

"Ketika pengantin pria mengangkat cadar pengantin wanita, ketika pengantin wanita menerima cincin, apa yang ada di cahaya mata mereka, semuanya sama di seluruh dunia. Mereka sungguh-sungguh percaya akan cinta mereka, dan mereka percaya pernkahan mereka adalah pernikahan paling bahagia dari semua pernikahan." ---halaman 161

Cinta, seperti hujan, bisa menyuburkan dari atas, menghujani pasangan dengan keceriaan. Tapi kadang-kadang, dalam panasnya kehidupan, cinta seolah kering di permukaan dan harus tergantung pada akarnya yang tertanam dalam untuk membuatnya tetap hidup. ---halaman 169

"Cinta yang hilang tetap cinta, Eddie. Hanya bentuknya saja yang berbeda. Kau tidak bisa melihat senyumnya, atau membawakannya makanan, atau mengacak-acak rambutnya, atau berdansa dengannya. Tapi ketika indra-inda itu melemah, indra-indra lain menguat. Kenangan. Kenangan menjadi pasanganmu. kau memeliharanya. Kau mendekapnya. Kau berdansa dengannya." ---halaman 179

"Kehidupan harus berakhir. Tapi cinta tidak." ---halaman 179






0 komentar:

Post a Comment

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (41) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Djenar Maesa Ayu (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)