Jingga dan Senja

Judul : Jingga dan Senja
Penulis : Esti Kinasih 
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 312 Halaman
ISBN : 9786020331522
Cetakan kesepuluh, Juli 2016
Rating : 2 dari 5




Blurb:

Tari dan Ari, dua remaja yang dipertemukan oleh takdir. Selain bernama mirip, mereka juga sama-sama lahir sewaktu matahari terbenam.

Namun, takdir mempertemukan mereka dalam suasana “perang”. Ari yang biang kerok sekolah baru kali ini bertemu cewek, adik kelas pula, yang berani melawannya. Kemarahan Ari timbul ketika tahu Tari diincar oleh Angga, pentolan SMA musuh.

Angga, musuh bebuyutan sekolah Ari sekaligus musuh pribadi Ari, langsung berusaha mendekati Tari begitu cewek itu tak sengaja terjebak dalam tawuran dan Ari berusaha keras menyelamatkannya. Demi dendam masa lalu, Angga bertekad merebut cewek itu. Memanfaatkan peluang yang ada, Angga kemudian maju sebagai pelindung Tari.

Ari yang selama ini dikenal tidak peduli terhadap cewek tiba-tiba saja berusaha mendapatkan Tari dengan segala cara. Namun, predikat buruk Ari jelas membuat Tari tidak ingin berurusan dengan cowok itu.

Semakin Ari berusaha mendekati Tari, semakin mati-matian cewek itu menjauhkan diri….

***

Tari adalah anak baru di SMA Airlangga. Dia tidak tahu kalau ada kakak kelas yang super menyebalkan dan arogan, suka berantem dengan sekolah lain, yang tiba-tiba berdiri di sampingnya saat upacara bendera. Dan karena si kakak kelas itu cakep, ia terpesona begitu saja. Apalagi, saat Tari terlibat di tengah tawuran dua sekolah, si kakak cakep kembali menyelamatkannya.

Namun, setelah tahu bahwa si penyelamatnya adalah Kak Ari, berikut nama besar di belakangnya, Tari langsung gentar. Bagaimana tidak, kalau ternyata ia harus terseret dalam kehidupan seorang kakak tingkat badung yang hobinya melawan guru?

Ari adalah cowok terkenal di sekolahnya karena kelakukannya yang menyebalkan. Tidak ada yang berani melawan dengannya, karena Ari dan komplotan memang terkenal sebaai biang onar dan pelaku tawuran dengan SMA Brawijaya. Tidak ada yang berani dengan Ari, bahkan guru-guru sudah menyerah dengan seolah "memaafkan" kesalahannya.

Sejak perkenalannya dengan Tari, ia memiliki ketertarikan dengan cewek itu. Dan perilaku spesial Ari dengan Tari terendus oleh Angga, yang kemudian memanfaatkannya untuk menculik Tari.

Setelah Tari dan Fio teman sebangkunya benar-benar terlibat drama penculikan yang dilakukan oleh anak-anak SMA Brawijaya yang notabene adalah musuh bebuyutan anak SMA Airlangga. Tari dan Fio menjadi tawanan di sekolah mereka, dan di sanalah Tari berkenalan lebih jauh lagi dengan Angga. Tidak seperti yang diduga, Tari dan Fio di sana diperlakukan dengan baik. Ari datang karena ia tidak mau ada kenapa-napa dengan mereka, terutama Tari. Bahkan ia rela merendahkan dirinya untuk mengikuti apa yang anak-anak Brawijaya suruh padanya.

Angga mendekati Tari untuk membuat Ari cemburu. Ari merasa bahwa ia dikalahkan oleh Angga, sehingga ia harus melakukan sesuatu yang lebih dari dilakukan Angga pada Tari. Walhasil, Tari menjadi korban dua pihak petinggi biang onar di sekolah mereka masing-masing.

Tari kesal dengan perlakuan Ari padanya. Ari selalu menindasnya, dan Tari tidak tahu harus berbuat apa. Beruntung ada Angga tempat Tari mencurahkan hati tentang kelakuan Ari. Tapi, sejak tahu bahwa nama lengkap Tari adalah Jingga Matahari, membuat Ari memberikan perlakuan berbeda terhadap cewek itu. Karena, satu nama itu berhasil membuatnya teringat dengan masa lalu yang benar-benar sudah ditutup rapat olehnya.

Kehadiran Ata si kembarang Ari yang muncul tiba-tiba turut menyumbangkan misteri yang melingkupi kehidupan masa lalu Ari.

***

Sebelumnya, maafkan saya yang hanya bisa memberikan bintang segini.

Kenapa ya? Entahlah. Sejak remaja saya adalah pembaca novel Esti Kinasih. Bisa dibilang, saya ikut tumbuh bersama dengan karyanya. Katakanlah Fairish dan Cewek. Apalagi Cewek, yang plotnya benar-benar berkesan bahkan sampai bisa saya ingat setelah sekian lama (iya, saya tidak remaja lagi xixixi). Membaca Jingga dan Senja, saya tidak punya ekspektasi apa pun. Apalagi, setelah mengintip review di Goodreads, ulasannya beragam. 

Mari kita berbicara tentang karakternya. Tengoklah Ari yang demikian adanya, atau Tari yang sebenarnya biasa-biasa saja tapi menjadi istimewa karena keadaan. Iya, benar karena keadaan. Kalau tidak didekati Ari, maka Tari bukanlah siapa-siapa. Ia tidak mempunyai keistimewaan yang menonjol selain kecintaannya terhadap barang-barang berwarna jingga. Dan juga namanya yang istimewa. Selebihnya? Ya biasa-biasa saja.

Saya mau bahas tentang Ari nih sekarang. Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan karakter dan perkembangannya. Namun, ada beberapa hal yang menurut saya mengganjal dan membuat ceritanya menjadi kurang logis. Meskipun di dunia nyata saya kurang senang dengan tipikal cowok arogan menyebalkan pembuat onar, tapi sejauh ini rasanya saya tidak keberatan dengan tokoh utama berkarakter seperti itu. Tapi saya menyayangkan, karakter guru di novel ini sama sekali tidak mempunyai wibawa. Sebagai seorang pencinta novel yang merangkap sebagai orang yang sering bersinggungan dengan bocah-bocah bandel, rasanya menyayangkan bagaimana tokoh guru bertindak di novel ini? Masa sih nggak ada yang bisa "memegang" si Ari ini? Nggak ada satu pun yang punya kendali untuk mengatasi satu anak ini? Bahkan kepala sekolahnya pun seolah menyerah dengan kelakuan si bocah. (Kalau sudah begitu kenapa nggak dikeluarkan aja sih? Sebel.) 

Yang membuat saya sedih-ketawa-miris itu, saya punya murid yang kelakuannya mirip dengan si Ari, bahkan dari fisiknya yang digambarkan good looking itu pun juga sama. Percayalah, anak yang melawan guru itu dari sisi mana pun nggak ada menyenangkannya sama sekali. Bahkan jika dia memiliki masa lalu yang entah apa. Kalau sudah berani dan melawan guru (apalagi tidak diketahui mengapa dia sampai begitu), kelar hidup lo *eeehhh*. Maksudnya begini. Saya sudah mengalami berhadapan dengan berbagai macam jenis kenakalan remaja, yang mana jika bisa diselisik dari sisi yang lain, tentu ada sebab dan akibat mengapa mereka begitu. Entah apakah ia mengalami broken home, atau sekadar cari perhatian. Tapi, kalau sudah tidak mempunyai rasa respek sama sekali dengan pendidik mereka, bagaimana mereka bisa mendapatkan ilmu dan pengajaran? Dan masalah pentingnya adalah, saya kesal karena saat membaca novel ini, saya jadi membayangkan si bocah murid menyebalkan itu sebagai visualisasi Ari, kan sedih dan menyebalkan ðŸ˜‚ apalagi nama sekolah kami sama. *yhaa jadi curhat* 

Masih berkaitan dengan yang saya sampaikan sebelumnya, saya menyayangkan sekali kalau di novel ini, sebab-musabab karakter Ari bisa sedemikian bengalnya tidak dijelaskan. Hanya sekilas-sekilas saja. Ini membuat saya kurang bisa berempati terhadapnya. Apalagi, saya bisa menebak sesuatu yang berkaitan dengan plot-twist, tapi tidak ada kejelasan soal itu sampai di halaman terakhir. (Jadi nggak tahu deh apakah tebakan saya ini benar atau nggak. Mungkin akan dijelaskan di buku selanjutnya? Hmmm, let's see.) Satu lagi, konflik di novel ini terlalu blunder, berputar di situ-situ saja. Sosok Tari entah bodoh entah apa seolah tidak punya power untuk keluar dari masalahnya. Iya juga sih, mau mengadu pada guru, gurunya sama saja nggak punya power juga buat menghadapi kelakuan si bocah *kesel lagi*. Tapi kan bisa mengadu sama orangtua. Masa iya orangtuanya akan membiarkan begitu saja?

Dari segi gaya bahasa, novel ini menggunakan gaya bahasa nonformal bagi dialog dan deskripsinya. Agak kagok juga sih, karena selama ini terbiasa membaca novel dengan gaya bahasa yang formal di deskripsi, bahkan untuk novel ber-genre teenlit. Tapi lama kelamaan jadi biasa juga kok.

Overall, 2.5 points. Lebih ke masalah selera dan keterkaitan dengan kisah dan pengalaman pribadi ^^. Semoga semua pertanyaan yang belum terjawab dan belum terjelaskan di novel ini bisa saya dapatkan di buku selanjutnya.

PR besar buat saya karena ternyata cerita yang seperti ini yang disukai remaja. Hmmm.

4 komentar:

  1. So far, aku cuma sekadar tau aja novel-novel Esti Kinasih. Tidak pernah sekali pun baca novelnya. Dan memang belum tertarik juga sih.

    Sebagai seorang guru, jelas merasa ga enak gitu ya bu niss? Terkesan merendahkan image guru gitu kah? Oh ya, masa sih guru secantik bu niss masih ada aja murid yang bisa bandel dan nakal? Wkwkwkwk

    ReplyDelete
  2. Ada Bin ada! :D Bandel banget ya Allah sampai aku dan beberapa guru musti keluar dari kelasnya T-T

    Kalau gak ngalamin di dunia nyata aku selow kali ya xixixi meskipun gak bakal ngidolain cowo cem Ari juga sih, soalnya cowo2 idolaku semasa SMA tuh yang cakep anak basket cerdas berprestasi gitu :D

    ReplyDelete
  3. Kenakalan remaja di sekolah memang kadang membuat pusing. Tapi, biasanya ada satu guru yang bisa mengendalikan. Nah, soal guru memaafkan itu yang tidak sependapat. Kecuali, Ari ini juara olimpiade dan cerdas, mungkin bisa dimaafkan (ingat novel teenlit Starlight by Dya Ragil) atau buku Dylan by Pidi Baiq.

    Mungkin karena teenlit ini dibuat dengan harapan konfliknya mencuri perhatian, jadi Ari dibentuk sosok yang nakalnya keterlaluan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya setuju sama Kak Adin, mungkin biar karakter Ari "dapat banget" sih kayaknya, tapi sayang kalau harus mengecilkan karakter yang lain :") lagi pula penjelasan kenapa dia bisa begitu nggak dijelaskan di sini.

      Delete

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (41) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Djenar Maesa Ayu (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)