Aksara Amananunna

Judul : Aksara Amananunna
Penulis : Rio Johan
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal Buku : 240 Halaman
ISBN : 9789799107046
Rating : 2 dari 5 




Aksara Amananunna berisi dua belas cerita dengan latar dan genre yang berbeda-beda, out of the box--harus saya akui, dan menarik. Membaca ini seperti berada dalam roller coaster, ada kalanya naik lalu melesat turun secara mengejutkan, memacu adrenalin, dan menantang. Karena di setiap ceritanya menyimpan plot twist yang baru terbongkar di paragraf-paragraf akhir, maka untuk menuju ke cerita selanjutnya harus ada jeda untuk menormalkan kembali emosi pembacanya, termasuk saya.

Membaca buku ini seperti disajikan satu makanan komplit dengan dua belas kisah yang sangat berbeda. Bagaikan berjalan-jalan melintasi satu genre ke genre yang lain, mengupas hal-hal tabu dari satu tema ke tema lain, dari latar belakang yang tidak normal. Kita akan dibawa berkelana ke cerita distopia, diantar ke masa depan, lalu dihempaskan ke masa lalu, berjalan ke satu benua ke benua yang lainnya menikmati setiap latar yang disajikan dengan berbeda.

Cerita pertama adalah berjudul Undang-undang Antibunuhdiri, berlatar tahun 21xx. Seorang perdana menteri yang kebingungan karena masyarakatnya tengah digandrungi oleh tren bunuh diri. Di kisah ini, mengangkat tema bunuh diri yang membuat populasi rakyatnya menurun secara drastis, sehingga membuat pemerintah harus mengantisipasinya dengan membuat undang-undang tentang hal ini. Dengan cerita ini sebagai pembuka, pada awalnya membuat saya bosan. Namun barangkali ini hanyalah sebuah pemanasan saja karena di kisah kedua, roller coaster-nya baru bergerak menanjak naik.

Cerita kedua adalah Komunitas. Seorang pemuda tampan, mencoba peruntungan di dunia modelling, namun tertolak. Suatu saat ia direkrut oleh seseorang tidak dikenal, mengajaknya untuk bergabung dengan komunitas. Di sana, ia dibayar mahal untuk melakukan suatu hal: memuaskan nafsu para anggota komunitas dalam praktik sadomasokisme. Pemuda itu diberikan kuasa untuk memancing nafsu seksualitas pelanggannya tanpa ada hubungan badan. Ya begitulah ya. Tapi harus diakui, cerita ini cukup menarik dari sisi mengangkat tema yang tidak biasa dan penggambaran sebuah komunitas dengan segala macam keterikatan dan fasilitas yang diberikan.

Chevalier D' Orange mengisahkan seorang ksatria gagah dengan wajah feminin. Tidak ada yang meragukan kekuatan pemuda itu, bahkan dengan kehebatannya itulah ia diangkat sebagai ksatria. Namun, satu permasalahan adalah karena wajah dan sosoknya yang menyerupai perempuan. Publik berspekulasi tentang jenis kelamin sang Chevalier, bertanya-tanya apakah pria tersebut memang seorang lelaki berwajah cantik ataukah seorang perempuan yang menyamar sebagai pria. Hingga membuat, kerajaan harus melakukan musyawarah untuk menentukan jenis kelamin orang tersebut. Yah bodohnya, si orang ini mengapa tidak mau mengakui secara terbuka kepada publik saja sih, malah justru saking setianya dengan raja, dia mengikut apapun perintah raja kepadanya. Ketika hasil musyawarah diputuskan bahwa ia berjenis kelamin perempuan, dengan patuh ia mengubah pakaian serta atributnya menjadi perempuan. Ketika oleh raja ia diminta untuk mencari suami untuk menikah, dia memenuhinya dengan satu persyaratan: dia harus bisa mengalahkan si pemuda itu. Hingga akhirnya ada seorang ksatria yang berhasil mengalahkannya dan menguak identitas si pemuda yang sesungguhnya.

Ginekopolis, kembali dengan setting masa depan, tentang eksistensi laki-laki yang dikalahkan oleh perempuan. Nggak tahu dengan jelas saya ini bagaimana ceritanya.

Ketika Mubi Bermimpi menjadi Tuhan Yang Melayang di Angkasa, menceritakan seseorang bernama Mubi yang bermimpi menjadi Tuhan, lalu di akhir justru malah mengatakan bahwa selama ini si tokoh itulah yang bermimpi menjadi seorang anak lelaki. Aneh, memangnya siapa tokoh itu ya? Masa' iya Tuhan.

Cerita selanjutnya, Pisang Tidak Tumbuh di Atas Salju, saya nggak mengerti.

Riwayat Benjamin, bukan karena saya suka nama Benjamin saya sedikit suka dengan cerita ini, tapi karena settingnya cukup familiar, seperti yang sering saya baca di buku-buku klasik. Tentang perjalanan menggunakan kereta kuda, waktu tempuh yang panjang, para bangsawan tanpa gelar, saya pas saja dengan timeline itu. Dari segi cerita, Benjamin yang sangat tampan, diambil anak oleh seorang bangsawan tanpa gelar, mendapat kehidupan yang lebih baik..., jauh lebih baik ketimbang sepupunya yang hanya hidup dengan menggembala dan tidak bisa membaca. Saat mereka tumbuh remaja, Benjamin meminta kepada sepupunya untuk mengunjunginya dan ini menyingkap sebuah misteri yang membuat sang sepupu sangat terkejut, hingga mengetahui penyebab di balik meninggalnya Benjamin.

Tidak Ada Air untuk Mikhail, sama seperti cerita tentang Pisang, saya juga nggak berhasil menangkap maksudnya apa, selain tidak berhasil menebak setting cerita ini di mana dan zaman apa.

Robbie Jobbie berpola mirip dengan Komunitas, tapi saja jauh terkesan dengan cerita di Komunitas ketimbang ini. Cukup bisa ditebak, si Robbie hanya dijadikan maskot bagi jualannya komoditi kaum homoseksual.

Apa Iya Hitler Kongkalikong dengan Alien? Sebagai makhluk yang suka dengan teori-teori alien dan sebangsanya, saya cukup bisa menebak cerita ini. Tapi sayang sekali, eksekusi ceritanya hanya segitu saja. Tentang menceritakan pengalaman kakeknya bertemu dengan alien, itu saja yang berhasil saya tangkap sih.


Sekarang kita beralih ke... saya menyebutnya masterpiece karena sepertinya cerita ini diletakkan di bagian akhir sebagai pamungkas: Susanna, Susanna! Berbeda dengan yang lain yang hanya menampilkan cerita pendek, Susanna ini cukup panjang, plot dan karakternya bisa dibilang cukup digali oleh penulisnya. Tentang seorang anak perempuan (tebakan saya sih settingnya zaman Renaissance) yang mengubah sosoknya menjadi laki-laki, hanya karena dengan bekerja sebagai laki-laki, ia akan mendapatkan pekerjaan dengan upah yang lebih besar. Anak perempuan ini menyimpan rapat-rapat kedoknya, karena sudah terlanjur nyaman dengan keadaan ini, tapi lebih dikarenakan takut mendapatkan hukuman sosial dan hukum negara yang mengerikan untuk perilaku sepertinya pada zaman itu. Lalu dia bertemu dengan seseorang yang menyingkap rahasianya..., karena orang itu seperti dirinya. Nama perempuannya Susanna, tapi lebih dikenal dengan Simon. Bedanya dengan si anak perempuan, yang mengubah wujudnya karena motif ekonomi, rupanya Susanna mempunyai motif lain yakni penyimpangan seksual. Bisa ditebak cerita ini ke mana selanjutnya. Dan menurut saya, eksekusinya hingga ke ending lumayan oke meskipun saya berkali-kali cukup (maaf) jijik dengan deskripsi di cerita bagian ini.


Dan sampai pula pada bagian akhirnya, saya hanya bisa memberi dua bintang saja. Satu bintang untuk setting, plot, dan lompatan-lompatan yang berbeda di setiap ceritanya; satu bintang lagi untuk akumulasi dari Komunitas, Aksara Amananunna, Kevalier D'Orange (yang mengingatkan saya pada cowok-cowok cantik Korea), dan Riwayat Benjamin.

Tidak bisa bilang tidak suka sepenuhnya, hanya saja tema LGBT bukan berada dalam jalur saya. Sukses bergidik saat membacanya. 



1 komentar:

  1. Pisang Tidak Tumbuh di Atas Salju itu tentang naluri petualangan seorang anak yang nggak mau "terkunkung" sama tradisi keluarganya yang berjualan ikan. Jadi, ia pergi buat mencari kejayaan baru (membangun industri pisang teknologi tinggi). Lucunya, setelah ia sukses, keturunannya pun memimpikan hal yang sama, yaitu sebuah petualangan baru, gak mau terkungkung tradisi keluarganya yang jadi penguasa industri pisang.

    Tidak Ada Air untuk Mikhail itu tentang asrama anak zaman sekarang aja kayaknya. cerita biasa di tentang anak muda soal bully-membully. ini gak mnarik.

    ReplyDelete

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)