A Tale of Two Cities

Judul : A Tale of Two Cities
Penulis : Charles Dickens
Penerbit : Qanita
Tebal Buku : 496 Halaman
ISBN : 9786021637968
Rating : 5 dari 5




Blurb:


Seandainya hidup memberiku kesempatan, aku akan mengorbankan apa saja untukmu.

Inggris abad 17, Lucie Manette tinggal bersama sang ayah, Dokter Manette, mantan korban kekejaman bangsawan Perancis. Kecantikan dan kebaikan hati Lucie merebut hati Charles Darnay, bangsawan pelarian Perancis. Bak gayung bersambut, Lucie pun tertarik pada Charles. Sydney Carton, yang membantu pelarian Charles sebenarnya juga mencintai Lucie. Namun Sydney memilih memendam perasaannya karena dia sadar, dirinya yang serampangan tak pantas bersanding dengan Lucie.

Revolusi Perancis pecah dan Charles dipanggil pulang ke negaranya untuk menyelamatkan nyawa seorang teman. Tetapi, dia malah dijebloskan ke penjara, bahkan diancam hukuman mati gara-gara dosa masa lalu ayah dan pamannya. Demi Lucie, Dokter Manette melakukan segala upaya untuk membebaskan Charles dari Pisau Guillotine. Namun apakah pengaruh Dokter Manette saja cukup? Di saat-saat kritis, muncul pertolongan dari seseorang yang tak terduga. Pertolongan berlandaskan cinta.

***

Ada suatu kenyataan luar biasa yang patut direnungkan, yakni bahwa setiap manusia ialah rahasia dan misteri besar bagi sesamanya. Setiap kali kita masuk ke sebuah kota besar pada malam hari, bayangkanlah bahwa rumah-rumah yang berimpitan dalam kegelapan memiliki rahasianya masing-masing, tiap ruangan di dalamnya punya rahasia juga, dan tiap hati dalam dada penghuninya, menyimpan rahasia dari orang-orang terdekatnya! ---halaman 20

Sebuah pesan dapat mengubah alur hidup seseorang. Pesan tersebut juga dapat menyelamatkan seseorang yang telah bertahun-tahun hidup dalam jeruji penjara, menemukan kembali dirinya dengan anak yang bahkan tak pernah tahu tentang nasib ayahnya. Pesan itu mengubah hidup orang-orang di sekelilingnya pula. Dan pesan itu berbunyi: 'HIDUP KEMBALI.'

Mr. Lorry adalah si penerima pesan, seorang bankir dari Bank Tellson yang mendedikasikan hampir sepanjang hidupnya untuk urusan bisnis dalam pekerjaannya itu. Atas dasar urusan pekerjaan pula yang membawanya kembali pada urusan yang sama, berhadapan dengan orang yang pernah berada dalam penanganannya sekian tahun silam. Ia berada dalam perjalanan ke Paris, menuju cabang Bank Tellson untuk "menghidupkan kembali" sang tawanan politik bernama Dokter Mannate.

Belasan tahun sebelumnya, Mr. Lorry membawa seorang gadis kecil, Lucie Mannate, putri dari orang yang dijatuhi hukuman tersebut, ke Inggris. Menyelamatkannya dari prahara yang menimpa Paris saat itu. Dan kini, bersama gadis yang sama pula, ia kembali untuk menjemput sang ayah yang baru saja dikenalinya dan diketahui masih hidup itu. 

Keadaan Dokter Mannate begitu mengenaskan. Nasib buruk yang diterimanya di penjara membuatnya hilang ingatan. Ia hanya mengingat bahwa dirinya adalah seorang pembuat sepatu. Setiap kali ditanya siapa namanya, lelaki tua itu hanya menjawab dengan kalimat, "Seratus Lima, Menara Utara." Itu adalah nomor sel yang mengurung Dokter Mannate selama delapan belas tahun.

Lima tahun kemudian, sebuah persidangan digelar, dengan Lucie serta ayahnya yang menjadi saksi tentang seorang pemuda yang secara kebetulan berada dalam kapal yang sama ketika mereka meninggalkan Prancis waktu itu. Pemuda itu bernama Charles Darnay, dan ia dibebaskan karena pengakuan dari Lucie. Pengacaranya, bernama Mr. Stryker dan seorang pria lagi bernama Sydney Carton. Setelah peristiwa ini, hubungan di antara mereka terjalin hangat.

Dokter Darnay menunjukkan perubahan yang signifikan dalam hidupnya. Ia tidak lagi menjadi seorang pria tua menyedihkan yang hilang ingatan. Berkat kasih sayang yang diberikan Lucie, ia berangsur pulih. Sekarang ia menjalani kehidupan sebagai dokter dan terus menyibukkan diri agar kenangan seputar kesusahan yang dialaminya tidak lagi datang menghampiri. Namun begitu, ia tidak pernah mau terbuka pada siapa pun tentang apa yang dialaminya selama di penjara bertahun-tahun. 

Setiap orang punya rahsia yang disimpan di dalam hatinya, tidak terkecuali seorang Lucie. Gadis ini tumbuh menjadi wanita yang cantik dan menawan, penuh rasa kasih sayang, sehingga tak sedikit pemuda yang menaruh hati padanya. Namun, tidak ada yang tahu dengan pasti pada siapa Lucie melabuhkan hatinya.

Selalu ada rahasia di hati orang terdekat kita, seperti orang lain yang tidak kita kenal. Rahasia orang terdekat kita sangatlah halus dan rapuh, tetapi sulit untuk menyingkapnya. ---halaman 175

Charles Darnay meminta nasihat kepada Dokter Mannate, dan juga arahan tentang perasaannya itu kepada putrinya. Charles, yang juga menyimpan masa lalu dengan rapi, bahkan rela mengungkapkannya pada Dokter Mannate. Namun, sang Dokter mengatakan kalau ia boleh menceritakan kisah kelam itu di hari pernikahannya dengan putrinya saja. Di sisi lain, Sydney Carton mengungkapkan perasaannya langsung kepada Lucie, namun ditolaknya. Lucie memutuskan untuk menerima pinangan Charles alih-alih menerima Carton. Di saat mereka hendak menikah, ketika Charles menceritakan masa lalunya kepada Dokter Mannate, saat itulah sesuatu terjadi pada pria tua itu. Kejiwaannya kembali terguncang, dan aktivitas lama membuat sepatu kembali muncul, dan bahkan Dokter Mannate tidak mampu mengenali dirinya sendiri selain bahwa ia adalah si pembuat sepatu. Beruntung kejadian ini berlangsung saat Lucie dan Charles sedang berbulan madu sehingga peristiwa ini hanya disaksikan oleh Mr. Lorry dan Miss Pross, seorang wanita tua yang sudah bersama dengan Lucie sejak ia kecil.

Di tempat yang lain, Prancis, suasana memanas sejak rakyat diperlakukan dengan sewenang-wenang. Bibit-bibit pemberontakan muncul salah satunya adalah dari sebuah kedai anggur. Tuan dan Madame Defarge adalah pemilik kedai itu. Mulanya mereka orang-orang yang pernah bekerja dengan Monsieur Mannate, pernah menjadi orang yang melindunginya saat lelaki tua itu dibebaskan. Namun, tekanan yang terjadi pada sekitar mereka membuat bibit pemberontakan itu bersemi. Sang Nyonya Defarge, selalu terlihat dengan rajutan di tangannya saat sedang berada di kedai anggurnya.

Namun, sang perempuan perajut tetap tegak berdiri, merajut dengan pasti, seperti Takdir yang niscaya terjadi. Air mancur mengucur, sungai mengalir deras, siang bergulir menjadi malam, begitu banyak hdup manusia di kota itu telah berganti kematian, sebab sang Waktu tak pernah menunggu. Tikus-tikus kembali tidur berimpitan di lubang-lubang gelap, sementara pesta pora kembali gemerlap. Semua berjalan sesuai alurnya. ---halaman 146

Namun, kebahagiaan hidup tidak berjalan sebagaimana mestinya ketika surat dari seseorang yang dipercaya datang pada Charles, memohon bantuan. Surat itu membalikkan semua keadaan, bahwa ia tidak mungkin diam begitu saja ketika seseorang yang dipercayanya sedang dalam kesulitan. Segala sesuatu jadi memburuk, dan waktu terus bergulir hingga keputusan demi keputusan harus dibuat. 

Kendati kelam, masa depan tidak bisa diterka, dan dalam kekelaman itu masih ada ruang bagi harapan yang naif. ---halaman 329


***

Pada mulanya, saya mengira novel ini akan beralur dan terasa sama dengan beberapa novel klasik yang saya baca: linier, lambat, dan cenderung membosankan. Di halaman-halaman awal, mungkin ini khasnya novel klasik, pembaca disuguhkan deskripsi yang panjang, namun indah. Sebagai orang yang biasa dengan deskripsi panjang dan berbunga, rasanya tidak masalah bagi saya, dan saya lanjut membacanya meskipun, jujur saja, tidak begitu mengerti alur atau plot yang sedang terjadi. Namun, beberapa halaman selanjutnya, ketika tokoh-tokohnya satu per satu terbuka, novel ini memiliki magnet dan daya pikatnya tersendiri untuk saya baca dan baca lagi. 

Dari segi plot, saya juga lagi-lagi dikejutkan dengan cerita yang tidak hanya linier, namun di sini kaya sekali dengan plot sehingga pembaca tidak merasa bosan. Ketika membahas tentang satu tokoh, tidak selamanya cerita dari satu tokoh itu saja ditonjolkan, namun ada pula plot tokoh pendamping yang ternyata memiliki dampak di kemudian hari pada tokoh utama. Hubungan sebab-akibat terjalin dengan rapi dan dikemas secara cantik. Beberapa plot-twist tidak terduga berhasil membuat saya tercengang. Oh, ternyata, buku klasik memiliki plot rapi dan tak terduga juga, yang benar-benar..., tak terduga.

Selanjutnya saya mau bahas tentang penokohannya. Saya benar-benar mengapresiasi kemampuan penulis dalam merangkai dan menjalankan tokoh-tokohnya. Satu tokoh tidak muncul begitu saja namun memiliki jalinan cerita yang dijelaskan pada masa sebelum tokoh itu hadir. Lalu, tidak hanya tokoh utama yang memiliki panggung di sini. Tokoh sampingan pun juga diberikan tempat dan cerita mereka sendiri. Contohnya Jerry, dan cerita tentang keluarga Jerry yang dipaparkan di sini. Jerry adalah kuli panggul yang biasa diberikan pekerjaan oleh Mr Lorry untuk membantunya. Ia memiliki keluarga di mana ia selalu bersikap kasar kepada istrinya apalagi saat mengetahui bahwa istrinya tengah berdoa. Ia menganggap, kesialan yang menimpanya saat menjalani pekerjaan sampingan lainnya, itu disebabkan bahwa sang istri meminta kepada Tuhan agar menggagalkan usahanya tersebut.

Lalu ada cerita Miss Pross dan adiknya Solomon, di mana ia teramat sangat mengharapkan bahwa orang yang layak menjadi pendamping Lucie hanyalah adiknya seorang. Kisah suami istri Defarge juga menarik untuk disimak.

Saya angkat topi dengan kecerdasan dan kepiawaian penulis dalam mendeksripsikan sesuatu, misalnya:

Konon, beberapa bintang berada jauh sekali sehingga cahayanya belum sampai ke bumi kecil kita--sebuah titik di antaraiksa tempat kita menanggung segala derita. Dan dalam naungan gemintang nan abadi, bayang-bayang malam tampak besar dan hitam. ---halaman 65

atau

Seluruh keagungan dan kehinaan dunia berlangsung sekerlip cahaya bintang belaka. Dan sebagaimana pengetahuan manusia dapat memecah cahaya dan mempelajari warna-warna yang menyusunnya, orang-orang tertentu memiliki ketajaman untuk membaca pikiran, sikap, serta kebiasaan baik dan buruk setiap insan di bumi ini. ---halaman 228

Saya tidak tahu sejauh mana pengetahuan orang-orang zaman itu tentang perbintangan, atau sains. Tapi, membicarakan galaksi sebelum era Teleskop Hubble hadir di muka bumi, menurut saya ini sebuah nilai tambah yang membuat sebuah karya sastra ini semakin berkilauan. Ini sebuah apresiasi besar. Memang saya membaca novel ini edisi terjemahan. Jika kelebihan itu ada pada penerjemah, maka ini menambah nilai plus untuk itu, yang akan saya bahas sebentar lagi. Tapi, jika memang keindahan bahasa itu milik penulisnya, wow, it just, wow.

Tentang gaya penerjemahan yang diterbitkan oleh edisi Qanita ini, saya sungguh-sungguh dibuat kagum dengan pemilihan diksi yang jarang saya dengar. Ini baik sekali, karena membuat pembacanya dapat memperkaya diksi, sekaligus membenarkan pemakaian kata yang selama ini salah. Saya ada mencatat beberapa kosakata baru yang saya peroleh dari hasil membaca novel ini:

ganar/ga·nar/ a bingung; hilang akal

kerani/ke·ra·ni/ n pegawai yang mengurusi administrasi sederhana (misalnya mencatat, mengetik, menerima, dan mengirimkan surat); juru tulis; kelerek

gerisik/ge·ri·sik/ n tiruan bunyi daun kering bersentuhan

geletar/ge·le·tar/ v, menggeletar/meng·ge·le·tar/ v menggigil; gemetar; menggentar (bergentar); berdebar-debar (tentang hati)

galan/ga·lan/ a cak tahu sopan santun dan pandai bergaul (khusus untuk laki-laki)

lindap/lin·dap/ Mk a 1) redup; samar; (mulai) kabur; berkurang (tentang cahaya, panas, terang): karena kehabisan minyak, sinar lampu itu mulai --; 2) (mulai) padam: api sudah --; 3) mendung: langit semakin --; 4) kurang dapat ditangkap maknanya; kurang jelas: teriakannya -- ditelan lembah itu; 5) sejuk; teduh: marilah kita mencari tempat yang -- di antara pohon-pohon itu;

Keren. Ditambah lagi, cover buku ini yang benar-benar cantik. Saya tidak segan memberikan lima bintang untuk seluruh kemasan novel yang telah saya baca ini.


Metafora Padma

Judul : Metafora Padma
Penulis : Bernard Batubara
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 168 Halaman
ISBN : 9786020332970
Rating : 4 dari 5




"SEJAUH yang aku lihat dan hitung, dua puluh enam tubuh manusia tergeletak di jalan raya. Sepuluh telentang, enam belas telungkup. Beberapa di antaranya terbaring di sebelah benda-benda-patahan kursi, parang berlumuran darah, pecahan botol kaca, mungkin botol minuman keras. Semuanya rebah di atas darah mereka sendiri. Kau bisa yakin mereka semua sudah menjemput ajal. tapi bisa juga kalau kau bilang mereka cuma tidur di atas kehidupan, karena darah itu adalah yang sebelumnya membuat mereka hidup." ---Metafora Padma, halaman 103
***

Ketika membuka halaman awal buku ini dan melihat Bara menuliskan bahwa buku ini dipersembahkan untuk masa kecilnya, saya semacam dejavu pernah membaca kicauan Bara di twitter tentang ia yang akan membuat kisah seputar masa kecilnya. Mungkinkah buku ini yang dimaksud itu? Well kalau begitu, mungkin saya harus banting setir mengubah persepsi tentang buku ini. Ya benar, ini bukan kisah romansa biasa, bukan novel melainkan kumpulan cerita berbeda, yang mungkin beberapa di antaranya diilhami oleh masa kecil Bara.

Metafora Padma adalah sebuah kumpulan cerita, tediri atas empat belas kisah yang memiliki kekuatan serta pesonanya masing-masing. Bercerita tentang konflik sosial yang tengah ramai diperbincangkan kembali di masyarakat, kisah perseteruan antarsuku yang selalu saja bisa memantik kekisruhan lebih besar seolah menyimpan bara yang bisa dimuntahkan hanya dengan satu jentikan api. Satu hal yang menjadi benang merah pada keseluruhan cerita ini adalah: friksi.

Saya mengutip penjelasan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia tentang friksi:

friksi/frik·si/ n 1. pergeseran yang menimbulkan perbedaan pendapat; 2. perpecahan

Mengapa saya mendapatkan hubungan antarcerita di buku ini melalui kata "friksi" alih-alih "Padma" seperti judul buku ini? Karena di sini, penulis dengan berani mengangkat tema yang "berat", namun disajikan dalam bentuk kumpulan cerita yang dengan mudah dapat dilahap dalam hitungan jam namun memberikan bekas berupa kesan yang mendalam. Setidaknya itulah yang saya rasakan setelah membaca buku ini.

Secara umum, saya membagi pembahasan tentang kumpulan cerita di buku ini menjadi tiga bagian: pertama, tentang cinta yang tidak semestinya; kedua, tentang agama; dan ketiga, masalah konflik antarsuku. Percayalah, saya ingin mengulas ketiga-tiganya, namun khawatir tulisan saya akan melebar sampai ribuan kata, rasanya saya akan meringkas-ringkas saja dan berupaya menarikan apa yang hadir dalam benak dan apa yang ingin saya rangkaikan di sini dalam bentuk kata-kata.

Dibuka dengan manis dan tajam dengan cerpen berjudul Perkenalan.

"Kamu harus tahu, Harumi Sayang. Pada zaman ketika kekerasan begitu mudah dilakukan, hal terburuk yang bisa dimiliki seseorang adalah identitas." ---Perkenalan, halaman 9
Identitas adalah nama. Identitas juga bisa berarti latar belakang, suku, agama, atau apa pun yang berkaitan dengan eksistensi atau keberadaan diri seseorang. Di dalam kisah ini, dan mayoritas kisah dalam cerita ini (Demarkasi, Rumah, Alasan, Metafora Padma) menceritakan tentang konflik antarsuku yang terjadi di tanah kelahiran kami. Saya menggunakan kata "kami" di sini, karena sebagai seorang kelahiran Kalimantan, rasanya tidak mungkin saya tidak mendengar tentang konflik horizontal yang terjadi di tanah ini beberapa tahun silam. Dan tahukah kamu? Bahwa api yang padam itu dapat kembali menyala hanya dengan sedikit percikan api kecil, yang tidak mustahil akan berkobar dengan cepat. Saya jadi ingat, beberapa waktu belakangan pernah terjadi hal yang demikian. Perkara yang melibatkan dua orang menjadi perang antarsuku, menjadi bencana antarkampung, hanya karena pelakunya adalah dua orang dengan identitas tertentu. Dua individu menjadi dua kelompok besar. Mereka yang membawa "identitas" dan "nama" seolah lupa akar permasalahannya berasal dari mana.

Kau lihat, ini masalah pribadi. Tidak ada sangkut pautnya dengan identitas seseorang. Jadi masalahnya cuma satu: pembunuhan karena motivasi persoalan pribadi. Tapi kau tahulah, manusia tak bisa menerima penjelasan yang terlampau sederhana. Lantaran mereka tak bisa melihat pembunuhan sebagai pembunuhan, mereka merumitkannya. ---Obat Generik, halaman 64

Sewaktu membaca Alasan, saya jadi ikut bersolilokui dengan si tokoh. Di sana, penulis memberikan potret, bahwa orang bisa melakukan kejahatan apa pun hanya dengan sebuah "alasan". Namun di sana, saya tertarik dengan sebuah frasa "kampung halaman". Konflik antarsuku di Kalimantan pun, konon katanya disebabkan oleh klaim atas "orang asli" dan "pendatang". Saya mau tidak mau jadi teringat dengan pelajaran Sejarah sewaktu di bangku sekolah tentang asal usul nenek moyang bangsa Indonesia dengan teori "Proto Melayu" dan "Deutro Melayu"-nya. Kesimpulannya, bahwa penduduk asli bangsa Indonesia pun, adalah sebuah imigran yang berasal dari Cina bagian selatan yang kemudian tersebar mendiami pulau-pulau di Indonesia. Meskipun, kita juga tidak dapat menutup mata dengan kehadiran nenek moyang dari proses migrasi awal ini dan bagaimana peran mereka di tanah yang mereka duduki, beratus-ratus tahun, beranak-pinak, hingga menghasilkan keturunan yang membentuk sebuah akar budaya dan suku di tempat-tempat tersebut. Tapi, sebagai kesimpulan, saya justru lebih menyenangi kalimat yang pernah diucapkan oleh Pidi Baiq bahwa kita, manusia, adalah para imigran dari surga.

Nah, lantas, bagaimana kita menyikapi permasalahan konflik tersebut? Rasanya, pertanyaan itu tidak cocok kalau dijawab oleh saya. Sewaktu konflik besar-besaran pertama terjadi, saya masih kecil dan tidak mengerti apa yang sedang diributkan oleh orang-orang. Beruntung pula, tempat tinggal saya jauh dari sumber pertikaian dan identitas yang saya miliki tidak berasal dari kedua kubu yang berseteru. Kegusaran yang saya hadapi mungkin berbeda dengan yang penulis pernah hadapi atau saksikan sendiri. Namun, tentu saja, ini tidak mengurangi rasa empati yang kemudian muncul belakangan ketika mendengar penuturan tentang kisah ini ketika diwartakan kembali. Sama sekali tidak. Membaca beberapa cerita yang mengangkat tentang kisah itu lagi, membuat siapa pun akan merasa pilu. Percayalah. Bahkan tidak perlu kau berada di tanah yang sama dengan mereka untuk merasakan dampak yang terjadi di sana.

Saya sebagai orang lokal, senang apabila ada penulis yang mengangkat tema kedaerahan di dalam cerita mereka. Namun, menyadari bahwa tema yang diambil kini merupakan sisi kelam yang pernah terjadi, rasanya nano-nano juga. Tapi saya bisa memahami dan tahu persis isu apa yang tengah diangkat di sini, seolah saya bisa tahu bagaimana keresahan yang dirasakan oleh penulis tentang tema itu. Dan mengambil sudut pandang kisah pilu percintaan di antara dua kubu yang berseteru, adalah jalan tengah untuk dapat memahami posisi pembaca untuk menempatkan diri supaya bisa merasakan apa yang tengah terjadi dalam paparan cerita itu. Kisah Rumah, menurut saya, adalah cerpen yang cerdas karena mengambil sudut pandang bukan manusia, melainkan sebuah rumah yang menjadi saksi bisu salah satu cerita pilu itu.

Betapa pun banyak peristiwa tidak menyenangkan terjadi di rumah, ia tetap tempat kita tinggal dan pulang. Kamu tidak meninggalkan rumahmu hanya karena ia pernah menyimpan kenangan buruk. Kamu akan tetap bersamanya, berdamai dengan kenangan-kenangan buruk itu, dan memperbaikinya sampai jadi tempat yang lebih nyaman untuk ditinggali. ---Rumah, halaman 57


Lalu, saya ingin berbicara tentang keresahan yang lain. Berbicara tentang identitas agama, sebenarnya sangat sensitif, dan bagi saya lebih sensitif ketimbang fanatisme kesukuan. Tapi, saya bisa menyimpulkan satu hal di sini. Bahwa habluminallah itu erat kaitannya dengan hablumminannaas. Ketika kau memiliki hubungan yang intim kepada Tuhan, menghayati ajaran yang disampaikan oleh utusan Tuhan, mengamalkannya dengan sungguh-sungguh, kau tidak perlu disindir dengan cerita Suatu Sore, atau merasa bimbang seperti Natalia di Solilokui Natalia. 

Dan jika kau meyakini Tuhan dalam hatimu, friksi seputar cinta (drama perselingkuhan atau apa pun yang berhubungan dengan penodaan cinta) bisa diminimalisir. Oke, ini self claimed. Yang lain bisa memiliki pendapat berbeda namun ini adalah murni pendapat saya. 

Akhir kata, saya setuju dengan apa yang disampaikan dalam cerita Kanibal (meskipun jujur, ini satu-satunya cerita yang saya skimming bacanya karena deskripsinya sukses bikin ngilu), bahwa penulis yang baik, meletakkan jiwanya pada setiap tulisan-tulisannya--sampai kadang-kadang merasa hilang sendiri habis menulis. Hhhhh. 

=))

The Wicked Ways of a Duke

Judul : The Wicked Ways of a Duke (Rayuan Sang Duke)
Penulis : Laura Lee Guhrke 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama 
Tebal Buku : 376 Halaman
ISBN : 9786020315423
Rating : 2 dari 5





Blurb:

Setelah bertahun-tahun hidup dalam kekurangan, Prudence Bosworth tanpa disangka-sangka mendapatkan warisan dari ayah yang tak pernah dilihatnya. Namun ayahnya memberinya syarat, ia harus menikah dalam satu tahun. Terlepas dari persyaratan itu, Prudence bertekad menikah dengan cinta sejatinya, dan setelah melihat sikap gagah berani seorang duke, hanya seorang pria yang ingin
dinikahinya...

Rhys de Winter, Duke of St. Cyres, menyembunyikan kesinisannya di balik gurauan dan senyuman. Ia harus menikahi gadis kaya, dan untunglah pewaris kaya raya tibatiba jatuh ke pelukannya. Tapi ia tak pernah menyangka dirinya akan jatuh cinta kepada Prudence, dan ketika tipu dayanya terungkap, ia akan melakukan apa pun demi memenangkan wanita itu kembali...

***

Agak membosankan ya. Ceritanya juga klise. Tentang seorang Duke kaya yang punya banyak utang dan bingung bagaimana cara melunasinya. Ia bertemu dengan seorang gadis tua (iya, umur 27 masa itu dianggap perawan tua) yang bekerja sebagai seorang penjahit di rumah jahit terkenal dan sering dikunjungi para bangsawan.

Si Duke bertemu saat Prudence, nama gadis itu, bekerja memperbaiki gaun seorang gadis bangsawan di sebuah pesta dansa.

Kejutan menghampiri kehidupan sang gadis. Ayah kandungnya ternyata seorang kaya raya yang tinggal di Amerika dan sudah meninggal. Namun, ia mewariskan harta kekayaannya pada Prudence. Ini menobatkan gadis itu sebagai orang kaya baru yang harta kekayaannya pasti akan menarik para lelaki pemburu harta mendekat. Namun, harta kekayaan itu tidak dapat diklaim sebelum Prudence menikah dalam jangka waktu satu tahun. Sementara itu, ia diberi tunjangan setiap bulannya yang nilainya tidak seberapa dari harta kekayaan itu. Namun, dengan tunjangan tersebut, cukup untuk membuat Prudence naik tingkat derajatnya dari sebelumnya. Kerabat ibunya yang semula tidak pernah memedulikan gadis itu, mendadak peduli. Dan berupaya menjodohkan gadis itu dengan kerabat dekatnya.

Rhys St. Cyres, sang Duke, mengambil momen ini untuk berupaya mendekati Prudence. Ia membuat skenario agar bisa mendekati gadis itu dan mendapatkan hati dan juga kekayaannya.

Bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka?

***

Seperti yang saya bilang di awal, ceritanya cukup membosankan dan klise. Ada beberapa part yang bacanya saya skimming dan ajaibnya, saya tidak melewatkan plot penting sedikit pun. Namun berita baiknya, sebagai penikmat baru pada genre ini, saya jadi mengetahui banyak hal seputar timeline ini dan kultur budaya Inggris pada waktu itu. Tentang para lelaki bangsawan yang ternyata kalau menikah, diberi maskawinn sama para perempuannya sebagai "mahar" untuk status sosial dan kedudukan sebagai bangsawan di tengah masyarakat. Enak bingits jadi Duke ya. Hidup foya-foya, bersenang-senang, menghabiskan harta dan masih dipandang hormat oleh orang-orang. Eh, mau nikah yang biayai si perempuannya. 

Jakarta Sebelum Pagi

Judul : Jakarta Sebelum Pagi
Penulis : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie 
Penerbit : Gramedia Widiasarana Indonesia
Tebal Buku : 280 Halaman
ISBN : 9786023754847
Rating : 5 dari 5




Hari ini, di pemakaman, ada orang yang dikubur, dan ada orang yang mengubur. Namun sepertinya, kematian mengambil keduanya--satu orang mati dan satu orang hidup. Bukan salah kematian, kurasa. Kematian hanya mengambil satu dari mereka. Masalahnya, yang ditinggal masih berusaha mengejarnya, berharap kematian mau mengembalikan apa yang ia ambil. ---halaman 1


Blurb:


“Jam tiga dini hari, sweter, dan jalanan yang gelap dan sepi .... Ada peta, petunjuk; dan Jakarta menjadi tempat yang belum pernah kami datangi sebelumnya.”

Mawar, hyacinth biru, dan melati. Dibawa balon perak, tiga bunga ini diantar setiap hari ke balkon apartemen Emina. Tanpa pengirim, tanpa pesan; hanya kemungkinan adanya stalker mencurigakan yang tahu alamat tempat tinggalnya.



Ketika—tanpa rasa takut—Emina mencoba menelusuri jejak sang stalker, pencariannya mengantarkan dirinya kepada gadis kecil misterius di toko bunga, kamar apartemen sebelah tanpa suara, dan setumpuk surat cinta berisi kisah yang terlewat di hadapan bangunan-bangunan tua Kota Jakarta. 




***
Emina, seorang gadis metropolitan yang unik. Kenapa unik? Karena pembawaannya yang menarik: ceria, easy-going, blakblakan dalam versinya tersendiri. Orangtuanya meninggal dunia, yang tersisa dari keluarganya adalah kakek dan neneknya serta adik dari kakeknya yang tinggal di sebuah rumah, Emina memberi julukan "Rumah Para Jompo". Tetangga mereka, juga seorang lelaki tua keturunan Belanda yang dipanggil oleh Emina dengan sebutan Pak Meneer.

Lalu tiba-tiba ada orang misterius yang mengiriminya surat misterius dengan caranya yang unik. Surat itu dikirimkan dengan balon gas yang lewat dari jendela apartemennya, ditambah dengan bunga hyacinth biru. Pilihan cara mengirim surat yang unik, dan bunga langka yang tidak sembarang bisa tumbuh di Indonesia.

Isi suratnya pun tak kalah misterius. Tentang surat yang bukan atas namanya, dengan setting Jakarta bahari, namun surat itu secara gamblang ditujukan pada dirinya. Reaksi Emina tidak seperti yang seharusnya orang normal mengatasi itu. Temannya mengatakan kalau itu perilaku penguntitan. Namun Emina justru merasa penasaran. Maka dimulailah skenario investigasi yang membawa Emina berkenalan dengan seorang gadis SD yang unik bernama Suki. Suki adalah pemilik toko bunga yang berada tidak jauh dari apartemennya berada. Gadis keturunan Arab-Jepang itu memiliki hobi tak kalah unik yang berkaitan dengan teh. Anak kecil itu terobsesi dengan teh dan upacara minum teh khas Jepang!

Dari Suki, ia kemudian berkenalan dengan Abel, seorang pemuda korban perang Aljazair yang mengidap trauma terhadap suara level kronik. Hubungan yang aneh terjalin antara Emina dengan Abel. Mereka memutuskan untuk menyelidiki surat-surat misterius yang sampai ke tangan Emina dengan menjelajahi lokasi-lokasi kota Jakarta masa kini, yang terhubung dengan setting Jakarta masa lalu yang tertulis di surat-surat misterius itu.


Mengingat partnernya tidak bisa diajak memecahkan misteri ke tempat-tempat itu pada siang hari, maka mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan dini hari dan mengunjungi tempat-tempat itu, berharap dapat memecahkan isi surat dan mengetahui siapa yang dimaksud oleh si penerima maupun pengirim aslinya.


***


Satu hal  yang tidak saya sukai dari keseluruhan novel ini adalah covernya yang mirip sekali dengan I'll Give You The Sun. Aduh, kenapa bisa kecolongan seperti ini? 




Tapi, di luar satu hal itu, novel ini benar-benar out of the box, juara! Dari mulai cara penyampaiannya, plotnya, karakternya, settingnya. Mengingatkan saya pada Animal Farm dan segala macam ke-babi-annya (ini bukan umpatan!), lalu kisah kota zaman dahulu (yang pernah pengin saya buat untuk kota saya tapi sepertinya perlu ditinjau ulang deh setelah menu buku ini), Lyanna Mormont! Suki mengingatkan saya pada karakter itu, eksekusi karakter di dalam ceritanya yang seperti sedang menonton film-film barat romantis, dan... salah satu bab dari buku Fikih Kontemporer yang pernah saya baca, yang membuat kisah ini meskipun tidak biasa, bukan berarti tidak pernah ada.

Oke mari kita bahas satu per satu. Pertama soal karakter. Saya suka bagaimana cara Ziggy menyampaikan karakternya. Meskipun ini baru novel kedua Ziggy yang saya baca, namun saya suka sekali bagaimana penulis menyampaikan cerita berdasarkan karakternya. Saya membaca Di Tanah Lada yang mana tokohnya adalah seorang anak kecil, narasi dan deskripsinya pas sekali dengan usia dan karakter Salva. Di sini, karakternya adalah Emina yang easy going dan seru. Gaya bahasa yang digunakan pun seolah menyatu dengan karakter itu. (Ehem, saya follow akun twitter Ziggy dan sering stalking juga. Saya rasa Emina ini mirip dengan Ziggy pembawaannya.) 

Lalu, plotnya. Wow, saya tidak pernah bisa membayangkan ada beberapa plot aneh dan tidak masuk akal dicampur menjadi satu dan disampaikan dengan cukup masuk akal dan apik! Pertama, tentang sosok gadis metropolitan dengan segala kehidupannya yang... katakanlah bisa saya bayangkan: berjibaku dengan kemacetan jalan rahya, jam kerja, pergaulan kantor (meskipun ini bukan plot utama cerita ini). Lalu, dipadukan dengan cerita tentang seorang pemuda korban perang Aljazair. Saya saking kepo-nya, sampai googling, dan ternyata perang itu benar ada. Timeline-nya pas dengan perkembangan usia si tokoh utama. Tentang kebudayaan Jepang, lalu si bunga hyacinth yang bahkan baru saya dengar di novel ini. Dan mau tahu yang paling mencengangkan? Wah, saya tidak mau spoiler karena bisa dibilang ini salah satu plot kunci. Tapi, sesuatu ini yang benar-benar tidak dapat diprediksi dan bagi orang normal (maaf ya Ziggy, kamu sedikit tidak normal kalau begini, hahaha, ini pujian lho) rasanya susah mencapai "ide" itu dan menggunakannya serta meramu dengan plot-plot lain. Sesuatu itu yang langka, namun bukan berarti tidak ada, karena saya pernah menemukan pembahasan tentang itu di buku Fikih Kontemporer.

Dari segi karakter, juara! Suki mengingatkan saya pada Lyanna Mormont, si gadis kecil pemimpin Klan Mormont di serial Game of Thrones.




Satu hal lagi, saya kan menemukan novel sejenis ini yang sepertinya bertema kota-kota di Indonesia (saya lihat ada novel yang judulnya Jogjakarta apa gitu judulnya). Pengambilan Jakarta sebagai latar cerita saya rasa cukup pas. Apalagi, sudut pandang yang diambil oleh Ziggy adalah menceritakan "Jakarta versi lain yang tidak biasa" dengan mengambil benang merah "Jakarta tempo dulu". Namun, itu tidak membuat penulis melupakan kondisi kota tersayang ini dengan menggambarkannya dalam versi bahasa Emina dengan memberikan analogi ke-babi-annya: Emina adalah sosok Babi Asap yang terpapar polusi setiap hari karena berangkat ke kantor menggunakan motor, lalu sahabatnya Nissa, adalah Babi Yan-pi karena ia bagaikan sosok yan-pi, karena temannya itu selalu terjepit saat berdesak-desakan di dalam kereta. Lagi-lagi, ini cara penggambaran kota sebagai tema dan setting dengan cara yang tidak biasa.

Sudahlah. Juarak pokoknya! 

A Man Called Ove

Judul : A Man Called Ove
Penulis : Fredrick Backman
Penerbit : Noura Books
Tebal Buku : 440 Halaman
ISBN : 9786023850235
Rating : 5 dari 5





Kau merindukan hal-hal teraneh ketika kehilangan seseorang. Hal-hal sepele. Senyuman. --- halaman 76



Blurb:

Sebelum terlibat lebih jauh dengannya, biar kuberi tahu. Lelaki bernama Ove ini mungkin bukan tipemu. 


Ove bukan tipe lelaki yang menuliskan puisi atau lagu cinta saat kencan pertama. Dia juga bukan tetangga yang akan menyambutmu di depan pagar sambil tersenyum hangat. Dia lelaki antisosial dan tidak mudah percaya kepada siapa pun. 



Seumur hidup, yang dipercayainya hanya Sonja yang cantik, mencintai buku-buku, dan menyukai kejujuran Ove. Orang melihat Ove sebagai lelaki hitam-putih, sedangkan Sonja penuh warna. 



Tak pernah ada yang menanyakan kehidupan Ove sebelum bertemu Sonja. Namun bila ada, dia akan menjawab bahwa dia tidak hidup. Sebab, di dunia ini yang bisa dicintainya hanya tiga hal: kebenaran, mobil Saab, dan Sonja.



Lalu … masih inginkah kau mengenal lelaki bernama Ove ini?



***



Tahukah kamu bagaimana perangai lelaki bernama Ove ini? Biar kuberitahu. Ove adalah Pak Tua yang gemar menggerutu, kasar, suka membentak, dingin. Nyaris tidak ada seorang pun yang menyukainya saat pertama kali bertemu. Pak Ove membeli iPad di kota, ia terlibat perdebatan sengit dengan pramuniaga di toko tersebut.

Tapi, mau tahukah kamu mengapa Ove menjadi seseorang yang demikian dingin dan memiliki karakter yang tidak menyenangkan seperti itu? Ketika kamu menyelami kehidupannya, maka berhati-hatilah. Bisa jadi perasaanmu yang awal dan persepsi tentang Pak Tua bernama Ove ini akan berubah. Kamu tidak hanya akan bertemu dengan sosok lelaki tua, namun juga akan mengenal lebih dekat dengan sosok anak muda bernama Ove, yang sedemikian teguh memegang prinsipnya. Kamu juga akan bertemu dengan Sonja. Satu-satunya orang di mana tanpa kehadirannya, membuat kehidupan Ove yang berjalan dengan teratur menjadi berantakan. Tanpa tujuan. Hingga Ove berniat untuk merencanakan kematiannya sendiri.

Ove seorang pemuda yatim piatu di usianya yang belasan. Ia bukan berasal dari keluarga yang kaya raya. Ia hanya ditinggali warisan berupa sepetak rumah, mobil tua, dan arloji. Ove melanjutkan kehidupan dengan bekerja di tempat ayahnya dulu bekerja. Kehidupan membentuknya menjadi seorang pemuda yang dingin namun memegang teguh prinsip yang diajarkan ayahnya sejak kecil. Hidupnya monoton dan jauh dari keceriaan. Sampai suatu ketika ia bertemu dengan seorang gadis yang membuat hidupnya berubah. Gadis itu bernama Sonja.



Bersama dengan Sonja, keduanya mulai merencanakan masa depan.

Banyak hal yang terjadi dalam kehidupan mereka. Banyak yang akan kamu temui jika terus membaca kisah ini. Pahit, getir, manis, dan segala hal yang membuat pandangan terhadap Ove berubah. Sampai ketika di satu masa, kehidupan tidak lagi sama, yang menggiring Ove pada sebuah keputusan.

Tapi ternyata, jalan menuju pada keputusan itu tidaklah semudah yang ia bayangkan. Kehadiran tetangga baru Ove membuat kehidupannya berubah. Mereka adalah Parvaneh, seorang wanita muda yang tengah hamil besar, bersama suaminya Patrick yang dijuluki Ove dengan sebutan "kerempeng", dan kedua anak balita mereka.

Anehnya, perangai Ove yang biasanya membuat tetangga mereka tidak ada satupun yang menyukainya, tidak membuat Parvaneh gentar dalam upayanya mendekati Ove. Wanita itu seolah punya karakter yang sama dengannya namun dalam skala keceriaan dan keoptimisan yang jauh berbeda. Belum lagi kehadiran kucing liar yang mendadak menjadi hewan peliharaan Ove, dan juga perlakuan tetangga-tetangga lainnya yang membuat kehidupan Ove menjadi berubah. Dan juga tentang persaingannya dengan Rune, salah seorang tetangga yang memiliki hubungan tidak baik dengannya karena persaingan mobil.

Jadi, apakah kau masih akan memiliki persepsi yang sama tentang pria tua ini?

***

Wow, it just wow! Novel ini benar-benar keren. Mulanya, saya begitu sebal dengan perangai Ove. Saya harus mengacungkan jempol kepada penulis yang berhasil membangun karakter sedemikian rupa sehingga membuat Ove begitu dibenci dan mau tidak mau, saya langsung mencari sosok yang mirip dengan Ove di dunia nyata (maupun dunia paralel en ii ha) yang membuat orang lain jauh dari kata terkesan padanya. Sukses besar. Saya belajar banyak dari novel ini bagaimana caranya membangun sebuah karakter.

Lalu, beberapa lembar kemudian, saya jadi berpikir. Pasti ada "sesuatu" atau momen tertentu yang akan membuat pembaca merasa terjungkir balik sehingga berbalik arah dari membenci karakter satu ini, menjadi penuh empati, atau bahkan berada pada tahap mencintainya. Seperti Hukum III Newton yang berbicara tentang aksi-reaksi, setiap perilaku atau aksi, pasti akan menimbulkan reaksi. Kehadiran sosok Ove di sini yang notabene tidak loveable timbul sebagai reaksi dari sebuah masa lalu yang katakanlah... kurang menyenangkan. Penulis membuat alur maju-mundur dengan begitu apik, bagaikan mengupas bawang satu per satu dari lapisan terakhir hingga pada akhirnya menggiring pembaca menemukan keseluruhan dari ceritanya.

Satu hal yang membuat saya merasakan bahwa buku ini spesial (selain saya membuat thread kutipan yang njleb dari novel ini di sini) adalah... bahwa novel ini berhasil membuat saya memiliki persepsi yang berbeda terhadap orang-orang yang berkepribadian kurang menyenangkan di dunia nyata. Meskipun orang-orang tersebut memang menyebalkan, tapi setidaknya, barangkali dengan cara itu mereka menyalurkan apa yang tidak tampak dalam cara pandang orang terhadap mereka. Siapa yang tahu ternyata mereka memiliki masa lalu atau kehidupan yang begitu keras, bahkan jauh dari yang mampu kita bayangkan? 

Dan lagi, saya kembali mengulang di sini, bahwa penulis mengajarkan pada saya bagaimana membuat atau mengemas sebuah karakter yang kurang menyenangkan. Ini penting bagi kehidupan per-en ii ha-an, meskipun saya punya satu karakter yang memang tidak menyenangkan (dalam skala yang sanggup saya buat). Pesan yang berhasil saya temukan di sini adalah: kau bisa membuat karakter seperti ini dan membuat orang-orang pada akhirnya simpati dan menemukan karaktermu sebagai sosok yang istimewa. Tapi, menonjolkan satu sisi jahat atau kelam atau menyebalkan saja hanya akan membuat karakter itu selamanya dibenci (saya punya satu nama di sini yang nggak mau saya bagi, hahaha). Dan itu, percayalah, tidak bagus. Bahkan Voldemort yang mahajahat itu saja punya background mengapa dia sampai menjadi begitu, hm? Dan kita kembali kepada Ove. Ya, Ove memang menyebalkan, tapi perasaan itu tidak bertahan lama bagi saya. Perasaan tidak suka dengan karakter ini hanya bertahan beberapa saat saja. Selebihnya? Kasihan, empati, bahkan saya bisa katakan kalau saya mencintai karakter Ove. Sampai-sampai saya tidak tega untuk tahu lebih jauh tentangnya, dan berpikir. Duh, apa lagi yang bakal terjadi sama Ove sih?

Wah, sudah banyak sekali komentar saya. Baiklah saya akhiri saja review ini. Bagi yang mau membaca, silakan siapkan hati terlebih dahulu. Bagi yang tidak punya bukunya, buku ini bisa dibaca di aplikasi iJakarta. Akhir kata, selamat membaca.

Kutipan Novel A Man Called Ove




Karena buku ini spesial (bukan berarti buku lainnya tidak spesial lho ya), saya mendedikasikan waktu yang saya punya untuk mengumpulkan berbagai macam kutipan dari novel A Man Called Ove karya Fredrick Backman. Selamat membaca dan mengutip :D Dan kalau mengambil kutipan, jangan lupa disertakan sumbernya ya ;)


Warning: Mungkin akan ada spoiler minor di sini. So, be careful :)


Orang mengatakan Ove melihat dunia dalam warna hitam putih. Namun, perempuan itu berwarna-warni. Seluruh warna yang dimiiki Ove. ---halaman 62

Kau merindukan hal-hal teraneh ketika kehilangan seseorang. Hal-hal sepele. Senyuman. ---halaman 76

Istri Ove memercayai takdir. Dia percaya bahwa semua jalan yang kau tempuh dalam hidupmu, dengan satu atau lain cara, akan "menuntun pada apa yang telah ditakdirkan untukmu". Tentu saja, Ove hanya menggumam pelan dan sibuk mengutak-atik sekrup atau sesuatu setiap kali istrinya mulai berkata begitu. Namun dia tidak pernah tidak menyetujui istrinya. Barangkali yang disebut sebagai takdir oleh istrinya adalah "sesuatu", itu bukan urusan Ove. Namun bagi Ove, takdir adalah "seseorang". ---halaman 96

Orang dinilai dari yang mereka lakukan. Bukan dari yang mereka katakan. ---halaman 105

Istrinya sering berkata bahwa "semua jalanan menuju pada sesuatu yang sudah ditakdirkan untukmu". Dan, bagi perempuan itu, mungkin takdir adalah sesuatu. Namun bagi Ove, takdir adalah seseorang. ---halaman 107

Konon otak berfungsi lebih cepat ketika sedang mengalami kemerosotan. Seakan ledakan mendadak energi kinetik itu akan memaksa segenap kemampuan mental untuk melakukan percepatan, hingga persepsi mengenai dunia luar menjadi gerak lambat. ---halaman 108

Orang-orang selalu berkata Ove dan istrinya bagaikan malam dan siang. Tentu saja Ove sadar sepenuhnya bahwa dialah yang disebut malam. Itu tak masalah baginya. Sebaliknya, istrinya selalu merasa geli ketika seseorang berkata begitu. Sebab kemudian, dia bisa menjelaskan sambil terkikik bahwa mereka menganggap Ove sebagai malam karena dia terlalu pelit untuk menyalakan matahari. ---halaman 145

Ove tidak pernah mengerti alasan istrinya memilih dirinya. Istrinya hanya menyukai benda-benda abstrak seperti musik, buku, dan kata-kata aneh. Ove adalah lelaki yag dipenuhi seluruhnya dengan benda-benda nyata. Dia menyukai obeng dan filter bensin. Dia menjalani hidup dengan tangan dimasukkan mantap ke saku. Istrinya menjalani hidup sambil menari. ---halaman 145

"Kau menari-nari di dalam hati, Ove, ketika tak seorang pun memperhatikan. Dan, aku akan selalu mencintaimu karenanya. Tak peduli kau suka atau tidak." ---halaman 146

Sebab, akan tiba saatnya dalam kehidupan semua lelaki, ketika mereka harus memutuskan hendak menjadi jenis lelaki macam apa: jenis yang membiarkan orang lain menguasai mereka atau tidak. ---halaman 146

"Jika kau tidak bisa mengandalkan seseorang agar tepat waktu, kau juga tidak bisa memercayakan sesuatu yang lebih penting kepadanya," gumamnya dulu, ketika orang datang membawa kartu absen dengan masih meneteskan keringat. ---halaman 175

Baginya, Ove adalah buket bunga merah jambu yang sedikit acak-acakan pada saat makan malam pertama mereka. Ove adalah setelan cokelat milik ayahnya yang terlalu ketat di bahu bidang muramnya. ---halaman 199

Sonja tahu, tidak banyak lagi jenis lelaki yang seperti ini. Mungkin Ove tdak mengiriminya puisi, merayunya dengan lagu, atau pulang dengan membawa hadiah mahal. Namun tidak pernah ada bocah laki-laki yang menaiki kereta api dengan tujuan keliru selama berjam-jam setiap hari, hanya karena dia suka duduk di samping Sonja dan mendengarkannya bicara. ---halaman 199

Konon, lelaki terbaik lahir dari kesalahan mereka sendiri, dan mereka seringkali menjadi lebih baik setelahnya, melebihi apa yang mereka capai seandainya tidak pernah melakukan kesalahan. ---halaman 200

Setiap manusia harus tahu apa yang diperjuangkannya. Itulah kata mereka. Dan Sonja memperjuangkan apa yang baik. Demi anak-anak yang tidak pernah dimilikinya. Dan Ove berjuang untuk Sonja.

Sebab itulah satu-satunya hal di dunia ini yang benar-benar dipahaminya. ---halaman 270

Banyak orang mengalami kesulitan untuk hidup bersama seseorang yang suka menyendiri. Ini menjengkelkan bagi mereka yang tidak sanggup menghadapinya. Namun Sonja tidak mengeluh melebihi yang seharusnya. "Aku menerimamu apa adanya," katanya dulu. ---halaman 295

Kita selalu mengira masih ada cukup banyak waktu untuk melakukan segalanya bersama orang lain. Masih ada waktu untuk mengucapkan segalanya kepada mereka. Lalu terjadi sesuatu, dan kita berdiri di sana sambil menggelayuti kata-kata semacam "seandainya saja". ---halaman 369

Namun kita selalu optimis jika menyangkut waktu. Kita mengira masih akan ada cukup waktu untuk melakukan segalanya bersama orang lain. Dan waktu untuk mengucapkan segalanya kepada mereka. ---halaman 376

Sulit bagi seseorang untuk mengakui kekeliruannya sendiri. Terutama ketika orang itu telah keliru untuk waktu yang sangat lama. ---halaman 399

"Mencintai seseorang bisa disamakan dengan pindah ke sebuah rumah." Itulah yang dulu biasa dikatakan Sonja.
"Mulanya kau jatuh cinta dengan semua barang barunya, setiap pagi merasa takjub karena semuanya ini milikmu, seakan khawatir seseorang akan mendadak masuk untuk menjelaskan bahwa telah terkadi kesalahan mengerikan, seharusnya kau tidak tinggal di tempat seindah ini.
Lalu, bertahun-tahun kemudian, dinding rumahnya menjadi lapuk, kayunya pecah di sana sini, dan kau mulai mencintai rumah itu bukan karena semua kesempurnaannya, tapi lebih karena ketidaksempurnaannya. Kau mulai mengenal semua sudut dan celahnya. Bagaimana cara menghindari kunci tersangkut di lubangnya ketika udara di luar dingin.
Papan-papan lantai mana yang sedikit meletoy ketika diinjak, atau bagaimana cara membuka pintu lemari pakaian tanpa berderit. Semuanya ini adalah rahasia kecil yang menjadikan rumah itu sebagai rumahmu." --- halaman 399 

Kematian adalah sesuatu yang ganjil. Orang menjalani seluruh hidup mereka seakan kematian itu tidak ada, tapi kemtian sering kali menjadi salah satu motivasi terbesar untuk hidup. Pada akhirnya, sebagian dari kita menjadi begitu menyadari kematian sehingga menjalani hidup dengan lebih keras, lebih tegar, dan dengan lebih banyak kemarahan. Sebagian lagi memerlukan kehadiran kematian secara terus-menerus untuk menyadari antitesisnya. Sisanya menjadi begitu terosesi dengan kematian sehingga mereka memasuki ruang tunggu, lama sebelum kematian itu mengumumkan kedatangannya. ---halaman 426



Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)