A Man Called Ove

Judul : A Man Called Ove
Penulis : Fredrick Backman
Penerbit : Noura Books
Tebal Buku : 440 Halaman
ISBN : 9786023850235
Rating : 5 dari 5





Kau merindukan hal-hal teraneh ketika kehilangan seseorang. Hal-hal sepele. Senyuman. --- halaman 76



Blurb:

Sebelum terlibat lebih jauh dengannya, biar kuberi tahu. Lelaki bernama Ove ini mungkin bukan tipemu. 


Ove bukan tipe lelaki yang menuliskan puisi atau lagu cinta saat kencan pertama. Dia juga bukan tetangga yang akan menyambutmu di depan pagar sambil tersenyum hangat. Dia lelaki antisosial dan tidak mudah percaya kepada siapa pun. 



Seumur hidup, yang dipercayainya hanya Sonja yang cantik, mencintai buku-buku, dan menyukai kejujuran Ove. Orang melihat Ove sebagai lelaki hitam-putih, sedangkan Sonja penuh warna. 



Tak pernah ada yang menanyakan kehidupan Ove sebelum bertemu Sonja. Namun bila ada, dia akan menjawab bahwa dia tidak hidup. Sebab, di dunia ini yang bisa dicintainya hanya tiga hal: kebenaran, mobil Saab, dan Sonja.



Lalu … masih inginkah kau mengenal lelaki bernama Ove ini?



***



Tahukah kamu bagaimana perangai lelaki bernama Ove ini? Biar kuberitahu. Ove adalah Pak Tua yang gemar menggerutu, kasar, suka membentak, dingin. Nyaris tidak ada seorang pun yang menyukainya saat pertama kali bertemu. Pak Ove membeli iPad di kota, ia terlibat perdebatan sengit dengan pramuniaga di toko tersebut.

Tapi, mau tahukah kamu mengapa Ove menjadi seseorang yang demikian dingin dan memiliki karakter yang tidak menyenangkan seperti itu? Ketika kamu menyelami kehidupannya, maka berhati-hatilah. Bisa jadi perasaanmu yang awal dan persepsi tentang Pak Tua bernama Ove ini akan berubah. Kamu tidak hanya akan bertemu dengan sosok lelaki tua, namun juga akan mengenal lebih dekat dengan sosok anak muda bernama Ove, yang sedemikian teguh memegang prinsipnya. Kamu juga akan bertemu dengan Sonja. Satu-satunya orang di mana tanpa kehadirannya, membuat kehidupan Ove yang berjalan dengan teratur menjadi berantakan. Tanpa tujuan. Hingga Ove berniat untuk merencanakan kematiannya sendiri.

Ove seorang pemuda yatim piatu di usianya yang belasan. Ia bukan berasal dari keluarga yang kaya raya. Ia hanya ditinggali warisan berupa sepetak rumah, mobil tua, dan arloji. Ove melanjutkan kehidupan dengan bekerja di tempat ayahnya dulu bekerja. Kehidupan membentuknya menjadi seorang pemuda yang dingin namun memegang teguh prinsip yang diajarkan ayahnya sejak kecil. Hidupnya monoton dan jauh dari keceriaan. Sampai suatu ketika ia bertemu dengan seorang gadis yang membuat hidupnya berubah. Gadis itu bernama Sonja.



Bersama dengan Sonja, keduanya mulai merencanakan masa depan.

Banyak hal yang terjadi dalam kehidupan mereka. Banyak yang akan kamu temui jika terus membaca kisah ini. Pahit, getir, manis, dan segala hal yang membuat pandangan terhadap Ove berubah. Sampai ketika di satu masa, kehidupan tidak lagi sama, yang menggiring Ove pada sebuah keputusan.

Tapi ternyata, jalan menuju pada keputusan itu tidaklah semudah yang ia bayangkan. Kehadiran tetangga baru Ove membuat kehidupannya berubah. Mereka adalah Parvaneh, seorang wanita muda yang tengah hamil besar, bersama suaminya Patrick yang dijuluki Ove dengan sebutan "kerempeng", dan kedua anak balita mereka.

Anehnya, perangai Ove yang biasanya membuat tetangga mereka tidak ada satupun yang menyukainya, tidak membuat Parvaneh gentar dalam upayanya mendekati Ove. Wanita itu seolah punya karakter yang sama dengannya namun dalam skala keceriaan dan keoptimisan yang jauh berbeda. Belum lagi kehadiran kucing liar yang mendadak menjadi hewan peliharaan Ove, dan juga perlakuan tetangga-tetangga lainnya yang membuat kehidupan Ove menjadi berubah. Dan juga tentang persaingannya dengan Rune, salah seorang tetangga yang memiliki hubungan tidak baik dengannya karena persaingan mobil.

Jadi, apakah kau masih akan memiliki persepsi yang sama tentang pria tua ini?

***

Wow, it just wow! Novel ini benar-benar keren. Mulanya, saya begitu sebal dengan perangai Ove. Saya harus mengacungkan jempol kepada penulis yang berhasil membangun karakter sedemikian rupa sehingga membuat Ove begitu dibenci dan mau tidak mau, saya langsung mencari sosok yang mirip dengan Ove di dunia nyata (maupun dunia paralel en ii ha) yang membuat orang lain jauh dari kata terkesan padanya. Sukses besar. Saya belajar banyak dari novel ini bagaimana caranya membangun sebuah karakter.

Lalu, beberapa lembar kemudian, saya jadi berpikir. Pasti ada "sesuatu" atau momen tertentu yang akan membuat pembaca merasa terjungkir balik sehingga berbalik arah dari membenci karakter satu ini, menjadi penuh empati, atau bahkan berada pada tahap mencintainya. Seperti Hukum III Newton yang berbicara tentang aksi-reaksi, setiap perilaku atau aksi, pasti akan menimbulkan reaksi. Kehadiran sosok Ove di sini yang notabene tidak loveable timbul sebagai reaksi dari sebuah masa lalu yang katakanlah... kurang menyenangkan. Penulis membuat alur maju-mundur dengan begitu apik, bagaikan mengupas bawang satu per satu dari lapisan terakhir hingga pada akhirnya menggiring pembaca menemukan keseluruhan dari ceritanya.

Satu hal yang membuat saya merasakan bahwa buku ini spesial (selain saya membuat thread kutipan yang njleb dari novel ini di sini) adalah... bahwa novel ini berhasil membuat saya memiliki persepsi yang berbeda terhadap orang-orang yang berkepribadian kurang menyenangkan di dunia nyata. Meskipun orang-orang tersebut memang menyebalkan, tapi setidaknya, barangkali dengan cara itu mereka menyalurkan apa yang tidak tampak dalam cara pandang orang terhadap mereka. Siapa yang tahu ternyata mereka memiliki masa lalu atau kehidupan yang begitu keras, bahkan jauh dari yang mampu kita bayangkan? 

Dan lagi, saya kembali mengulang di sini, bahwa penulis mengajarkan pada saya bagaimana membuat atau mengemas sebuah karakter yang kurang menyenangkan. Ini penting bagi kehidupan per-en ii ha-an, meskipun saya punya satu karakter yang memang tidak menyenangkan (dalam skala yang sanggup saya buat). Pesan yang berhasil saya temukan di sini adalah: kau bisa membuat karakter seperti ini dan membuat orang-orang pada akhirnya simpati dan menemukan karaktermu sebagai sosok yang istimewa. Tapi, menonjolkan satu sisi jahat atau kelam atau menyebalkan saja hanya akan membuat karakter itu selamanya dibenci (saya punya satu nama di sini yang nggak mau saya bagi, hahaha). Dan itu, percayalah, tidak bagus. Bahkan Voldemort yang mahajahat itu saja punya background mengapa dia sampai menjadi begitu, hm? Dan kita kembali kepada Ove. Ya, Ove memang menyebalkan, tapi perasaan itu tidak bertahan lama bagi saya. Perasaan tidak suka dengan karakter ini hanya bertahan beberapa saat saja. Selebihnya? Kasihan, empati, bahkan saya bisa katakan kalau saya mencintai karakter Ove. Sampai-sampai saya tidak tega untuk tahu lebih jauh tentangnya, dan berpikir. Duh, apa lagi yang bakal terjadi sama Ove sih?

Wah, sudah banyak sekali komentar saya. Baiklah saya akhiri saja review ini. Bagi yang mau membaca, silakan siapkan hati terlebih dahulu. Bagi yang tidak punya bukunya, buku ini bisa dibaca di aplikasi iJakarta. Akhir kata, selamat membaca.

1 komentar:

  1. Halo mbak, aku agak kurang paham dengan kata ini "per-en ii ha-an" hehe..ini apa ya mbak?

    ReplyDelete

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (41) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Djenar Maesa Ayu (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)