Paper Towns

Judul : Paper Towns
Pengarang : John Green
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9786020308586
Tebal : 360 Halaman
Rating : 4 dari 5



Quentin Jacobsen atau Q, adalah seorang anak lelaki yang hidupnya bisa dibilang lurus dan monoton. Cita-citanya semasa kecil ingin jadi penemu, selalu hadir ke sekolah, tidak pernah membolos, selalu datang tepat waktu (yang dalam artiannya, dia selalu datang setengah jam dari waktu yang seharusnya), tidak menyukai prom, padahal senatero sekolah sedang hangat membicarakan tentang prom. Dia mempunyai dua orang teman, Ben, yang konyol, terobsesi dengan cewek-cewek cantik, namun karena olokan yang melekat padanya (pernah mengalami penyakit infeksi ginjal sehingga membuat dirinya pernah berdarah di sekolah) Bloody Ben, membuat cewek-cewek menjauhinya; dan Radar yang pintar, editor penting di Omnictionary, namun orangtuanya memiliki obsesi aneh, mengumpulkan segala macam repelika santa hitam di rumahnya. Sehingga, dia malu untuk mengajak cewek ke rumah. Namun kejutannya, di antara ketiga sahabat ini, yang memiliki pacar duluan justru si Radar.

Sementara Q sendiri, dia jatuh cinta dengan tetangganya sejak mereka kecil. Namanya Margo Roth Spielgeman, seorang gadis cantik, terkenal, namun misterius. Dulu saat mereka kecil, keduanya bersahabat, sering bermain bersama. Namun pada suatu hari, keduanya bertemu dengan mayat seorang lelaki, yang membuat Q trauma. Berbeda dengan Margo, rasa penasarannya membuat ia melakukan penyelidikan terhadap lelaki itu. Suatu malam Margo membuka jendela kamar Q dan melaporkan hasil temuannya, dan meminta Q untuk menyelidiki bersama. Namun apa yang dikatakan Q? Dia tidak ingin terlibat terlalu jauh lagi. Sejak saat itu Margo meninggalkan teman kecilnya itu.

"Margo menyukai misteri sejak dulu. Dan dalam semua hal yang terjadi setelahnya, aku tidak pernah bisa berhenti berpikir bahwa jangan-jangan lantaran terlampau menyukai misteri, dia pun menjadi misteri". (Halaman 15)

Margo tumbuh menjadi sosok yang bersinar. Sementara Q? Hanyalah cowok biasa saja yang hidupnya juga biasa-biasa saja. Tapi Q tetap mencintai Margo. Hingga pada suatu malam, Q dikejutkan dengan kedatangan Margo kembali dari jendela kamarnya. Wajahnya dicat hitam dan gadis itu juga mengenakan hoodie hitam. Dia meminta bantuan kepada Q. Jadi, malam itu, dengan mobil Q, mereka pun pergi untuk menjalankan sebelas misi yang sudah direncanakan oleh Margo.

Babak pertama, adalah ke Publix untuk berbelanja sesuai dengan daftar belanjaan Margo yang unik dan tidak biasa, di antaranya: lele, vaseline, veet, cat semprot. Lalu ke Wal-Mart untuk membeli The Club. Selanjutnya mereka ke rumah Becca, lebih tepatnya menemukan mobil Jase, mantan pacar Margo itu dua blok dari rumah Becca, mantan sahabat Margo yang mengkhiantinya dengan tidur sama pacarnya. Melakukan pembalasan dendam. Yang dilakukan Margo adalah memasang The Club di setir mobil Jase.

Babak kedua, mereka pergi ke rumah Becca. Q diminta Margo untuk menghubungi nomor telepon ayah Becca dan memberikan informasi bahwa putri mereka tengah bercinta dengan Jase di basement. Q dan Margo mengamati mereka, membawa teropong dan kamera digital untuk mengawasi apa yang akan terjadi selanjutnya. Jason Worthington keluar dengan telanjang dada dan hanya menggunakan kolor, dan ketika Q memotretnya, itu artinya mereka menyudahi babak ketiga.

Babak empat, mereka menuju ke basement, mengambil pakaian Jase siapa tahu dia bermaksud untuk kembali dan mengambil kembali pakaiannya. Lalu babak lima, meninggalkan ikan lele untuk Becca. dan dengan pesan yang tertulis: Persahabatanmu dengannya--kini terbaring bersama ikan. Margo menyembunyikan ikan tersebut di sela-sela lipatan celana pendek di lemari Becca. Dan sebagai penutup, ia menyemprotkan cat kaleng membentuk huruf M di dinding di atas meja, cara Margo untuk meninggalkan jejak petunjuknya.

Babak enam, adalah meletakkan bunga di undakan depan rumah Karin berikut permintaan maaf. Margo merasa perlu meminta maaf kepada temannya itu, yang awal mulanya menyampaikan informasi tentang Becca-Jase namun tidak dipercayainya.

Babak tujuh, meninggalkan ikan untuk Jase Worthington. Mereka pergi ke rumah Jase, dan sebuah pesan yang berbunyi: Cinta MS untukmu ini terbaring bersama ikan, juga memberikan tanda berupa huruf M dengan cat semprotnya. Babak delapan, mereka kembali ke Jefferson Park untuk menuju ke rumah Lacey Pemberton karena dia tidak memberitahu Margo tentang Jase. Margo meletakkan ikan terakhirnya, dengan pesan yang sama seperti yang ia sampaikan kepada Becca. Margo membobol mobilnya Lacey, lalu meletakkan ikan tersebut di sela-sela joknya. Dan begitu jok tersebut diturunkan, bisa dibayangkan bagaimana si ikan hancur di dalam sana. Tanda M juga diletakkan di atas mobil tersebut.

Babak sembilan, pusat kota. dan Margo mengajak Q ke SunTrust Building. "Kita harus memeriksa kemajuan pekerjaan kita. Dan tempat terbaik untuk melakukannya adalah dari puncak SunTrust Building.

Babak sepuluh, Margo mempersilakan Quentin untuk memilih korbannya. Quentin mengasumsikan, jika Margo adalah Jerman, maka dirinya Luksemburg. Namun pada kenyataannya Margo adalah Jerman, Inggris, Amerika, Kekaisaran Rusia yang punya banyak musuh karena mereka penting. Sementara dirinya, hanya duduk santai, mengurus domba, dan ber-yodel. Chuck Parson adalah orang yang dipilihnya karena dulu dia merusak kelas dansanya saat kelas enam. Mereka melumuri gagang pintu dengan Vaseline, lalu meletakkan Veet di salah satu alis anak lelaki itu sehingga alisnya yang satu rontok.

Dan babak sebelas, adalah membobol masuk ke SeaWorld. Dan mereka berdansa fox-trot, sebagai ganti dansa yang dulu tidak jadi dilakukan karena ulah Chuck Parson.

Sebelas misi mereka selesai, dan setelah membereskan sedikit kekacauan: mengisi kembali tangki bahan bakar mobil, mengelap bau lendir sisa ikan di jok belakang mobil, mereka akhirnya kembali lagi ke rumah masing-masing.

Dan hari mereka setelahnya tidak pernah lagi sama. Sejak itu Margo tidak pernah kelihatan lagi batang hidungnya. Beberapa hari kemudian ibunya memberitahukan bahwa Margo hilang, melarikan diri untuk kelima kalinya lagi. Orangtua Margo menyewa detektif untuk mencari keberadaan anaknya. Margo adalah orang yang suka meninggalkan jejak untuk dicari, petunjuk-petunjuk yang menyiratkan keberadaannya. Dan untuk pelariannya kali ini, Q merasa bahwa kepadanyalah petunjuk itu ditujukan. Poster Woody Guthrie baru yang ditempel di bagian belakang pintu kamar Margo, dan bersama kedua temannya, Q memecahkan petunjuk lain yang diberikan. Dari poster tersebut, membawanya kepada sebuah lagu yang berjudul 'Walt Whitman Niece', lalu ke buku puisi karya Walt Whitman yang berjudul Leaves of Grass dan menemukan beberapa kutipan yang ditandai dengan penanda biru pada puisi berjudul “Song of Myself”. Lalu mereka menemukan sebuah petunjuk di balik pintu, alamat yang dia yakini tempat Margo berada. Mereka pergi ke sana, sebuah toko tua yang sudah tidak berpenghuni lagi. Namun tidak ada gadis itu di sana, atau mungkin tepatnya, Margo pernah ke sana beberapa hari sebelumnya. Dari tempat itu, mereka menemukan sebuah peta yang dia tandai dan berakhir ke beberapa titik yang mengindikasikan bahwa itu adalah paper towns, atau kota fiktif yang dibuat para kartografer untuk menghindari pembajakan hasil karya cipta mereka.

Dan mereka menemukan kota tersebut. Q yakin sekali bahwa Margo ada di sana. Dengan kedua orang temannya, mereka merencanakan petualangan mencari Margo. Berita itu tersiar sehingga Lacey Pemberton yang mendengarnya, ingin ikut bersama. Gadis itu ingin membuktikan bahwa dia seorang teman, yang tidak termasuk seperti yang dibayangkan Margo kepadanya. Dan ternyata Angela, pacar Radar juga bergabung bersama mereka. Teman-temannya mau ikut dan membantu, tapi dengan syarat mereka akan kembali sebelum prom digelar. Mereka berpacu dengan waktu dan kecepatan, demi bisa sampai dan membawa pulang Margo kembali, sesaat sebelum prom.

Pada bagian ketiga buku ini, diceritakan bagaimana seru dan menegangkan perjalanan mereka. Apakah pada akhirnya mereka akan menemukan Margo di sana?

***


Selalu suka dengan karya-karya John Green, dan yang ini, lebih suka dibandingkan Looking For Alaska. Hm kenapa ya, mungkin karena penulisnya tidak hanya sekadar membuat cerita tapi juga memberikan banyak pesan terselip di dalamnya.

Menyelipkan klimaks cerita bagian awal di sampul halamn paling depan, tapi tetap membuat penasaran dan terus baca saja. Margo Spiegelman membuat Quentin keluar dari kotaknya dengan segala rencana gila yang disusunnya di sisi lain dirinya yang seorang terkenal di sekolah, populer dengan segala atribut yang melekat pada anak famous-nya SMA. Q, dengan sisi persahabatan antar-bro yang menarik (bisa jadi tambahan referensi yang punya chara cowok #tetep), dan disuguhkan pula bagaimana petualangan mereka mencari Margo yang hilang.

Di ending, well, meskipun upayanya menemukan Margo bisa dibilang tidak mudah, ternyata ... yah kita diajarkan untuk menikmati proses dan, di balik itu semua banyak hikmah yang terkandung di dalamnya.

Intinya, nggak sia-sia baca bukunya John Green. Banyak nilai-nilai yang disusupkan di sana.

Sang Penyihir dari Portobello

Judul : Sang Penyihir dari Portobello
Judul Asli : The Witch of Portobello
Pengarang : Paulo Coelho
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9786020300146
Tebal : 304 Halaman
Rating : 4 dari 5




"Belajarlah, tapi selalu belajar dengan didampingi orang lain. Jangan sendirian dalam pencarianmu, karena jika kau mengambil langkah yang salah, kau tak akan punya siapa pun untuk membantumu menjadi benar kembali." (Halaman 145)

Athena, atau nama aslinya adalah Sherine Khalil, adalah seorang anak yang diadposi oleh kedua orangtuanya. Ayahnya seorang pengusaha dan ibunya, Samira Khalil, begitu menyayangi Athena. Mereka adalah keluarga Kristen dari Beirut, Lebanon, bersama keluarganya mengungsi ke London saat perang berkecamuk di negaranya. Sewaktu mengadopsinya, mereka sudah diperingatkan bahwa Athena adalah anak dari keturunan kaum gipsi. Namun, sang ibu mengindahkan peringatan tersebut. Mereka pada akhirnya mengangkat Athena sebagai anak. 


Sejak kecil, Athena sudah merasakan ada perbedaan dalam dirinya. Seperti bahwa dia melihat seorang berjubah putih yang mirip dengan Perawan Maria. Atau ketika dia bermimpi melihat darah yang rupanya memberikan tanda bahwa di tanah tempat tinggal mereka, akan terjadi perang yang berlangsung dalam waktu sangat lama.



Athena tumbuh menjadi seorang gadis yang pembangkang. Ia memutuskan untuk menikah di usianya yang sembilan belas tahun. Athena merasa bahwa menjadi seorang ibu adalah misi yang telah lama ditolaknya dan kini harus diterimanya. Dia harus menerima misi itu atau dia akan menjadi gila. Dan misi tersebut dijalankannya. Ia mengenal sosok Lukas Jessen Petersen yang merupakan seniornya di kampus, berusia setahun di atasnya, dari sebuah peristiwa saat terjadi perdebatan antara Athena dengan teman kampusnya, saat temannya itu menghina Timur Tengah. Mereka tidak tahu bahwa sebelumnya, Athena tinggal di sana. Lukas adalah kakak tingkat mereka dan dialah yang melerai pertengkaran tersebut. Sejak saat itu hubungan mereka semakin akrab dan akhirnya terlibat romansa. Athena menginginkan punya anak pada usia 19 tahun, dan akhirnya mereka menikah. Pernikahan itu sangat ditentang keluarga Lukas, tidak mendapat restu dari keluarganya. Meskipun begitu, mereka pun tetap menikah. Lukas dan Athena mempunyai anak lelaki bernama Viorel. Namun setelah Viorel lahir, hubungan keduanya menjadi renggang, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk mengakhiri pernikahan.



Athena berhenti dari kuliahnya. Setelah bercerai, dia pun memutuskan untuk keluar dari rumah mereka. Sebelum menikah, Athena rajin mengunjungi gereja. Pastor Giancarlo Fontana adalah seorang pastor yang menikahkan Athena dan Lukas. Dia juga yang menyaksikan bagaimana perkembangan Athena beberapa saat sebelum ia menikah (tentang keinginan Athena untuk menjadi santa, betapa khidmatnya dia saat memainkan musik di depan patung Perawan Maria), lalu ketika ia meminta untuk dinikahkan. Athena sering mengunjungi gereja meskipun suaminya tidak. Ia juga membawa anaknya meskipun kadang rewel. Namun, pada suatu hari, ketika Athena resmi bercerai dengan suaminya, Pastor Fontana dihadapkan pada sebuah benturan: apakah memilih untuk menghormati institusi (Athena sudah bercerai, menurut institusi gereja, dia tidak boleh mendapatkan berkat roti), ataukah mengikuti nalurinya untuk tetap menerima keadaan Athena, sebagai implementasi dari kata-kata yang menjadi dasar dibangunnya institusi itu. Sang pastor tetap hormat pada peraturan yang dibuat oleh gereja, dia menolak memberkati Athena. Hal ini membuat Athena hancur, hatinya sangat terluka hingga dia bersumpah untuk tidak akan menginjakkan kakinya lagi di tempat itu.



Selepas bercerai, Athena pindah ke sebuah apartemen lantai tiga milik seorang dari Polandia, bernama Pavel Podbielski. Persamaan nasib, yakni sama-sama menjadi korban pengungsian membuat ia menyewakan kamarnya di lantai tiga untuk Athena. Ia sudah mengingatkan bahwa tempatnya tidak cocok bagi penyewa yang memiliki anak. Karena, anak akan ribut di siang hari dan dia akan melakukan keributan dengan "ritual"-nya selama malam hari. Namun justru dari orang inilah Athena belajar tentang ritual menari atau disebutnya sebagai Vertex, ajaran yang dia baca dari buku catatan yang ditinggalkan oleh kakeknya.



Athena bekerja di sebuah bank. Peter Sherney, adalah seorang manajer bank di tempatnya bekerja. Karena ayahnya Athena adalah nasabah bank yang penting, maka Athena diterima kerja di tempat ini, di bagian yang tidak menyenangkan. Dengan harapan, ia akan segera mengundurkan diri dari pekerjaannya karena tidak tahan. Namun justru yang didapatkan adalah, terjadi peningkatan kinerja yang dilakukan oleh Athena. Tidak hanya itu saja, namun Athena menyalurkan semangat dan rahasianya itu kepada pekerja lainnya bahkan pada nasabahnya. Peter sebenarnya tidak suka, namun karena adanya peningkatan kinerja di kantor cabangnya, ia diundang dalam suatu rapat dengan pusat untuk mempresentasikan apa yang menyebabkan itu semua terjadi. Mau tidak mau, akhirnya ia membuka pembicaraan pula dengan Athena untuk memberitahukan bagaimana itu bisa terjadi. Akhirnya Athena dipromosikan untuk bekerja di kantor cabang di Dubai.



Selama di Dubai, selain bekerja di Bank. Tak lama dia berkenalan dengan seorang emir yang menawarkan pekerjaan yang lebih menggiurkan baginya, yakni bekerja sebagai penjual tanah. Tidak hanya itu, berkat pertemuannya dengan seseorang, dia pun memiliki kesibukan baru. Nabil Alaihi adalah seorang dari suku Badui, Muslim, yang mempunyai tenda tempat ia berjualan makanan di Dubai. Suatu hari Athena mengunjungi tempatnya karena keponakannya yang bernama Hamid, yang seorang nasabah Athena, memberitahukan bahwa pamannya adalah seorang bijak. Mereka lantas berdialog tetang bagaimana caranya mendekatkan diri kepada Tuhan. Athena melakukannya dengan tarian, sementara Nabil mengajarkan hal baru dengan menulis kaligrafi. Athena bermaksud untuk belajar melakukan itu, dan menyadari bahwa Athena bukanlah seorang muslim, Nabil pun mengajarkannya dengan menuliskan pepatah Arab. 



Athena menyadari bahwa dalam dirinya terdapat kekosongan jiwa, yang dengan menari, atau menulis kaligrafi, masih belum dapat mengisinya. Lantas kepada ibunya, ia meminta izin untuk menemukan ibu kandungnya. Dan dalam perjalanan ke Transylvania--perjalanan ini menemukan Athena dengan orang-orang yang akan mengubah hidupnya--ia menemukan ibunya, seorang penjahit dari suku gipsi bernama Liliana. Ibunya menceritakan bagaimana ia dibuang dari sukunya karena memiliki seorang anak dari lelaki di luar kaumnya. Itu juga yang menyebabkan sang ibu membuang Athena ke panti asuhan. Sebelum pulang, ia diajak untuk mengikuti suatu ritual.




Dalam perjalanan, Athena tidak hanya berhasil bertemu dengan ibunya, namun beberapa orang lain yang cukup penting dalam membangun kisah ini. Ada seorang jurnalis bernama Heron Ryan, yang kemudian diketahui jatuh cinta dengan Athena. Lelaki itu bertemu saat di perjalanan ke Transylvania sewaktu Athena mencari ibu kandungnya. Ryan sendiri mengunjungi Transylvania untuk menyelidiki tentang vampire dan drakula. Heron Ryan sebenarnya sudah memiliki kekasih, namun dia menyadari bahwa ia mencintai Athena pula di saat yang bersamaan. Tokoh ini bisa dibilang sebagai tokoh utama yang banyak mengisahkan bagaimana pengalaman dirinya terlibat dengan Athena. Tidak hanya berhenti ketika mereka berada di Transylvania saja, namun berlanjut ketika Athena kembali ke London. Athena menghindari lelaki tersebut dengan mengatakan bahwa dia sudah memiliki kekasih yang bekerja di kepolisian Skotlandia. Namun, menurut Heron, itu hanya akal-akalan Athena saja untuk menghindarinya. Heron selanjutnya bahkan ikut terlibat dalam ritual-ritual (yang sebenarnya hanyalah menari dan beberapa khutbah) yang diselenggarakan Athena.

Tidak hanya Heron Ryan, dia juga bertemu dengan seorang dokter yang kemudian menjadi guru Athena bernama Deidre O'Neill atau kemudian lebih memilih dikenal dengan nama Edda. Dia juga terlibat banyak dalam perkembangan cerita ini, dengan memosisikan sebagai guru, dan Athena adalah muridnya. Dia pada suatu saat menegaskan bahwa Athena perlu memiliki murid, yang kemudian, dia bertemu dengan seorang aktris bernama Andrea McCain. Teman, sekaligus muridnya Athena yang menurut dirinya, pacarnya dirayu sama Athena dengan dalih bagian dari "Ritual Ketiga". Andrea adalah seorang pemain teater, hidupnya didedikasikan untuk bermain seni peran tersebut. Sebenarnya hubungan dirinya dengan Athena tidak bisa disebut sebagai "teman". Athena membencinya dan Andrea pun sama. Tapi atas dasar hubungan guru dan murid di mana mereka mereka merasa saling membutuhkan, maka keduanya tetap melakukan pertemanan ganjil atas dasar ritual spiritual yang mereka lakukan. Pertemanan mereka dimulai ketika kekasihnya, mengenalkan ia dengan Athena karena kekasihnya mengenal Athena dan mengetahui bahwa Athena mengikuti ritual di Transylvania yang menurut sang kekasih berhubungan dengan peran yang akan dibawakannya dalam pementasan bertajuk tentang Gaia, ibu bumi.




***



Kisah Athena disajikan benar-benar memukau. Paulo Coelho menceritakan sosok Athena, atau nama aslinya Sherine Khalil, seorang anak adopsi yang dilahirkan dari seorang ibu kaum gipsi, dan kemudian diadopsi oleh Samira Khalil dan suaminya yang seorang Kristen Lebanon. Masa perang membuat keluarga ini mengungsi ke London. Athena sudah merasa berbeda sejak kecil, dan ketika beranjak dewasa ia mengalami berbagai macam pengalaman spiritualnya hingga pada akhirnya membuat dirinya mendapatkan julukan "Sang Penyihir dari Portobello".



Di sini, kisah Athena disampaikan dari sudut pandang banyak orang. Ada dari orang yang mencintainya, gurunya, muridnya, ibu kandungnya, ibu angkatnya, dan beberapa orang yang secara langsung memengaruhi jalan hidup Athena. Saya suka gaya Paulo dalam menyampaikan makna tersirat dalam novel ini. Banyak sekali petuah hidup yang bisa kita petik di dalamnya. Bagian yang saya suka, tentu saja saat Athena bertemu dengan Nabil Alaihi dan belajar menulis kaligrafi dengannya. Ada juga beberapa cuplikan kalimat yang berkesan dalam kisah ini seperti:



"Apa sebenarnya guru itu? Biar kuberitahu: dia bukanlah orang yang mengajarkan sesuatu, tapi orang yang menginspirasi muridnya untuk mengupayakan yang terbaik demi bisa menguak apa yang sesungguhnya sudah diketahui sang murid." (Halaman 96)



Atau dalam makna pencarian Tuhan (masih dalam dialog antara Athena dengan Nabil Alaihi) di sini:


"Kaligrafi hanyalah salah satu cara yang Allah--terpujilah nama-Nya--letakkan di hadapan kita. Untuk mengajarkan objektivitas dan kesabaran, rasa hormat, dan keanggunan, tapi kita juga bisa mempelajari semua itu...""...lewat tarian," kata Athena."Atau lewat menjual tanah." (Halaman 100)


Di lain kesempatan, ada juga dialog yang saya benar-benar resapi dan seharusnya, kita sebagai makhluk yang percaya dan yakin akan keberadaan Tuhan, dan menganggap doa adalah salah satu penghubung dan dialog dengan Tuhan.


"Saat kau mencuci, berdoalah. Berterima kasih karena masih ada piring yang bisa dicuci, karena kau memberi makan seseorang, karena kau memberikan perhatian pada satu atau lebih orang, karena kau memasak dan menyiapkan meja. Bayangkan jutaan orang yang pada saat ini sama sekali tidak punya apa-apa untuk dicuci dan tidak punya siapa-siapa untuk dilayani." (Halaman 174)


Meskipun, seperempat bagian terakhir novel ini, saat Athena sudah menemukan jalannya, dengan menjadi "guru" dan menemukan sosok Hagia-Sophia (ini apa ya saya menyebutnya, logisnya, Hagia-Sophia adalah alter ego, semacam Ki Jembros yang pernah muncul di novel Petir-nya Dee, atau orang yang diilhamkan kekuatan supranatural, apalah-apalah, semacam Ponari? #heh), saya nggak nyambung lagi dengan itu. Tapi ini kan karya fiksi, jadi ya saya bacanya enjoy-enjoy saja. Dan, twist di ending buku ini mantap juara!



Dan yang saya salut dari seorang Paulo Coelho, di novel ini kan ceritanya disajikan dalam sudut pandang yang banyak dan karakter yang berbeda-beda pula. Paulo berhasil memainkan peran tersebut dengan sangat baik. Saat dia menjadi sudut pandang seorang pastor, benar-benar menjiwai. Bagian ini saya tidak heran, background penulis sendiri kan memang dia banyak mengangkat kisah dari agamanya ini. Tapi, ketika dia menuliskan seorang Nabil Alaihi, Muslim Badui, saya benar-benar merasakan sosok tersebut hidup, dan seperti benar-benar seorang Muslim. Benar-benar salut. Dan kalau membandingkan novel-novel Paulo yang saya baca sebelumnya, memang nggak bisa ditebak akan berada dalam jalur yang mana. Kalau saya pribadi, karena suka banget sama Sang Alkemis, dan nggak begitu masuk ke dalam golongan Brida atau Sebelas Menit, maka novel ini menurut saya lebih dekat ke arah sejenis Sang Alkemis, begitulah. Makanya saya suka. Top.


Eleanor & Park

Judul : Eleanor & Park
Pengarang : Rainbow Rowell
Penerjemah : Sofi Damayanti
Editor : Maya Lestari
Penerbit : PT Ufuk Publishing House (Phoenix)
Cetakan : Pertama, November 2013
ISBN: 9786027689497
Tebal : 420 Halaman
Rating : 2 dari 5



Eleanor, seorang gadis gendut yang sebenarnya tidak segendut yang dia pikirkan, rambut merah yang sedikit berantakan, pakaian yang dikenakannya nggak pas, entah kedodoran, atau itu sebenarnya kemeja yang cocok dipakai untuk anak laki-laki, atau aksesoris yang tidak pas, adalah anak baru di sekolahnya. Tentu saja, dengan tampilannya seperti ini, Eleanor menjadi gadis yang terbully.

Eleanor tengah memikirkan kemungkinan yang bisa dipikirkannya untuk pulang: dia bisa jalan kaki, tapi dia belum tahu alamat barunya. Dia bisa menelepon ibunya meminta jemput, tapi sang ibu tidak punya kendaraan bahkan telepon. Tapi toh pada akhirnya dia mencoret semua daftar kemungkinan itu dan memutuskan untuk naik bus sekolah, dan menerima nasibnya untuk bertemu dengan anak-anak yang membencinya. Seorang anak perempuan rambut merah (namanya Tina) dan pacarnya (Steve). Tapi cowok Asia yang duduk di sampingnya itu..., entah apakah dia membenci Eleanor juga atau tidak.

Namanya Park, seorang anak blasteran Korea. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, tapi dia cukup populer karena pernah berpacaran dengan Tina sewaktu SMP. Mau tidak mau dia mempersilakan Eleanor untuk duduk di sampingnya karena selama ini Park duduk dua bangku sendirian, dan karena tidak ada tempat lain di sana yang kosong selain tempatnya. Selang beberapa lama, Park menyadari bahwa Eleanor ikut membaca komik yang dibawanya, meskipun tidak ada obrolan apapun di antara kedua orang ini.

Lalu Park justru malah meletakkan beberapa komiknya di bangku untuk Eleanor bawa dan baca, dan keesokan harinya dia kembalikan. Tidak hanya itu juga, kaset rekaman lagunya pun dipinjamkannya, bahkan si Park rela merekamkan lagu-lagu kesukannya. Tetapi Eleanor menolak, dia bilang dia tidak punya walkman untuk mendengarkan lagu. Dan Park pada akhirnya juga meminjamkan walkman miliknya. 

Dari hubungan absurd yang terjadi selama pergi dan pulang ke sekolah itulah akhinya keduanya jatuh cinta. 

Konflik yang sebenarnya terjadi pada Eleanor adalah, bahwa dia tinggal dengan ayah tirinya yang kejam. Ibunya sangat cantik, namun mempunyai banyak anak (Eleanor, Ben, Maissie, dan Mouse), setelah berpisah dengan ayahnya, menikah lagi dengan Richie (anaknya nambah satu, bayi dua tahun bernama Richie Junior). Richie benar-benar jahat, Eleanor membencinya. Dan keluarga mereka bisa dibilang miskin. Rumahnya (yang adalah rumah Richie) hanya memiliki dua buah kamar, jadi Eleanor tinggal satu kamar dengan semua adiknya. Tidak ada telepon, dan kamar mandi hanya satu yang tidak memiliki pintu. Eleanor harus bangun sangat pagi untuk mandi dan mandi sore sebelum Richie pulang.

Sebelum berada di tempat ini, Eleanor tinggal selama setahun di rumah teman ibunya, sesaat setelah pertengkaran hebat terjadi antara Richie dan ibunya, dan Eleanor dibuang dari rumahnya. Dan setahun bukan waktu yang singkat untuk menampung seorang anak yang bahkan tidurnya di ruang tamu. Itulah kisah kepindahan Eleanor ke tempat itu.

Sementara Park, ayahnya tentara, yang jatuh cinta dengan seorang gadis Korea. Setelah menikah ayah Park membawa istrinya untuk pergi ke Omaha. Keluarga Park benar-benar harmonis, dengan kedua anak mereka, Park dan Josh adiknya. Kakek dan nenek Park tinggal tidak jauh dari rumah mereka.

Hubungan Park dan Eleanor secara resmi diumumkan setelah Park terlibat perkelahian dengan Steve yang mengganggu Eleanor. Keduanya mendapatkan skors dari sekolah, tapi toh pada akhirnya semua orang tahu bahwa mereka pacaran. Tapi itu tidak menyurutkan gangguan yang diterima Eleanor. Pada mulanya ibu Park tidak setuju anaknya berhubungan dengan gadis aneh dari keluarga bermasalah macam Eleanor. Namun, setelah berdiskusi dengan ayahnya, akhirnya keluarga Eleanor setuju saja, bahkan menerima gadis itu main ke rumahnya bahkan mengundang makan malam bersama. Eleanor mengatakan kepada ibunya bahwa dia main ke rumah Tina, padahal ya ke rumah Park.

Suatu hari, hubungan mereka terbongkar saat Richie mengetahuinya. Eleanor menjadi buronan ayah tirinya, dan Eleanor tahu bahwa ayahnya itu tidak segan-segan untuk membunuhnya. Kelanjutannya, baca saja sendiri ya.

***

Sebenarnya ceritanya manis, menarik. Tapi sayang sekali, kualitas terjemahan yang buruk membuat saya tidak menikmati membaca buku ini. Banyak sekali typo, kesalahan tanda baca, dan kesalahan penulisan. Sebagai seorang pembaca yang perfeksionis, tentu saja ini amat sangat mengganggu. Kalau mungkin ada satu dua typo, barangkali penulis atau editornya yang khilaf, tapi kalau tidak paham dengan preposisi..., well. *angkat tangan*

Beberapa kesalahan yang saya ingat (semoga bisa menjadi pembelajaran, wajar kan kalau penikmat novel mau yang terbaik dari bacaan yang sudah dia relakan uang jajannya keluar untuk beli bukunya?):

  • Kemana, seharusnya ke mana. Dimana, seharusnya di mana. Ke mari, justru seharusnya kemari.
  • Lagipula, seharusnya ditulis lagi pula.
  • Nafas, seharusnya napas.
  • Partikel -pun itu juga harusnya belajar lagi yang mana yang dipisah, mana yang nggak.
  • Kebanyakan pakai kata ganti "dia" sampai bingung, dia itu yang dimaksud Eleanor atau Park.


Sebelas Menit

Judul : Eleven Minutes
Pengarang : Paulo Coelho
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9789792298444
Tebal : 360 Halaman
Rating : 2 dari 5





Blurb:

Cinta hanya menimbulkan penderitaan…

Demikianlah anggapan Maria, gadis Brazil yang sejak remaja begitu yakin tak akan pernah menemukan cinta sejati dalam hidupnya. Seseorang yang ditemuinya secara kebetulan di Rio de Janeiro berjanji akan menjadikannya aktris terkenal di Swiss, namun janji itu ternyata kosong belaka. Kenyataannya, dia mesti menjual diri untuk bertahan hidup, dan dengan sepenuh kesadaran dia memilih untuk menjalani profesi sebagai pelacur. Pekerjaan ini semakin menjauhkannya dari cinta sejati.

Namun ketika seorang pelukis muda memasuki hidupnya, tameng-tameng emosional Maria pun diuji. Dia mesti memilih antara terus menjalani kehidupan gelap itu, atau mempertaruhkan segalanya demi menemukan “cahaya di dalam dirinya.” Mampukah dia beralih dari sekadar penyatuan fisik ke penyatuan dua pikiran atau bahkan dua jiwa---ke suatu tempat di mana seks merupakan sesuatu yang sakral?


Dalam novel yang sungguh berbeda ini, Paulo Coelho menantang segala prasangka kita, membuka pikiran kita, dan membuat kita benar-benar terperangah. 

***

"Dalam cinta, tak seorang pun bisa menyakiti orang lain; kita masing-masing bertanggung jawab atas perasaan kita sendiri, dan tidak bisa menyalahkan orang lain atas apa yang kita rasakan."

Jika Anda berpikir bahwa membicarakan seks adalah tabu, maka buku ini barangkali tidak cocok untuk Anda baca. Saya mencoba memperingatkan seperti halnya Paulo Coelho sendiri yang memperingatkan konten buku ini pada pembukaannya. Tapi percaya sama saya deh, isi buku ini nggak seperti Fifty~ apalah itu ya :)) (kayak saya baca aja #heh) karena banyak makna filosofis yang ada di buku ini. Kalau belum cukup umur, sangat dianjurkan untuk tidak melanjutkan baca ini, ya. Dan kalau Anda tidak kuat baca beberapa cuplikan yang ada di sini kan bisa di skip saja, saya juga bacanya begitu kok. Karena sayang banget, banyak pesan yang tersirat dalam buku ini.

Oke, langsung ke review saja ya.

Maria adalah seorang gadis Brazil yang memiliki cita-cita sederhana: bertemu sang pria idaman (kaya, tampan, cerdas), menikah (mengenakan gaun pengantin), memiliki dua orang anak (yang setelah dewasa menjadi orang-orang terkenal), dan tinggal di rumah yang indah (dengan pemandangan ke laut). Namun, kehidupan menuntun Maria jauh dari apa yang dia cita-citakan. Maria lahir di sebuah pedalaman Brazil yang hanya mempunyai satu gedung bioskop, satu kelab malam, dan satu bank. Ayahnya hanyalah seorang salesman keliling dan ibunya penjahit. 

Cinta pertamanya adalah seorang anak lelaki yang berjalan ke sekolah setiap hari bersamanya, yang sayang sekali tidak sempat ia utarakan perasaannya kepada anak laki-laki itu karena dia keburu pindah ke luar kota. Kenangannya terhadap cinta pertamanya hanyalah ketika anak itu pada akhirnya menegur Maria, bertanya apakah boleh meminjam pensil. Namun bodohnya Maria, dia yang terkejut dan tidak siap mendapatkan pertanyaan seperti itu justru malah mempercepat langkahnya dan meninggalkan anak itu. Sebuah penyesalan baginya, dan dia menunggu kesempatan berikutnya dengan pensil yang dia bawa. Namun sayang sekali, tidak ada kesempatan kedua untuknya.

Kehidupan remaja Maria berlangsung seperti kebanyakan remaja di tempatnya tinggal. Namun Maria tumbuh menjadi gadis yang cantik, menawan, dan genit. Sebab dia sadar betul pengaruh kecantikannya. Dia bekerja di toko kain. Bahkan pemilik kain jatuh hati padanya dan bermaksud untuk melamarnya. Suatu hari, Maria pergi ke kota untuk berlibur, di sanalah ia bertemu dengan seorang pria Swiss yang menawarkan pekerjaan untuk kehidupannya yang lebih baik lagi, sebagai seorang model. Maria, sejak peristiwa dengan cinta pertamanya itu sadar, bahwa tidak ada kesempatan kedua untuknya dalam mengambil sebuah keputusan. Setelah ia pulang dan membicarakan kepada orangtuanya, ia menyetujui tawaran itu dan berangkatlah ia ke Switzerland, nama yang sedari dulu dikenal hanya dari pelajaran sekolah dan belum pernah dibayangkannya bagaimana atau di mana tempatnya.

Namun ternyata, di Geneva, Maria tidak dijadikan sebagai model, namun dijadikan penari kelab malam, dengan gaji yang tidak sesuai, bahkan tidak sampai sepersepuluh dari kontrak yang dijanjikan. Dalam buku hariannya, Maria menulis:


Aku bisa melilih: menjadi korban dunia ini atau menjadi petualang yang mencari harta karun. Tinggal bagaimana aku memandang hidupku.
Maria memutuskan untuk mengikuti kursus bahasa Perancis. Di sana dia jatuh cinta dengan seorang lelaki. Hubungan mereka berlangsung selama tiga minggu, sampai suatu malam Maria memutuskan untuk berlibur dan berjalan-jalan ke gunung di luar kota Geneva. Akibatnya, Maria dipecat karena dianggap mencontohkan yang tidak baik kepada gadis-gadis lain di tempatnya bekerja. Kekasihnya entah ke mana, mungkin sudah kembali ke daerah asalnya. Dan beberapa bulan setelah uang pesangonnya menipis, di situlah bermula dia menjalani pekerjaan sebagai seorang pelacur. Maria mempunyai prinsip bahwa dia hanya akan menjalani profesi ini selama setahun. Setelah uangnya terkumpul, dia akan kembali ke desanya dan memulai kehidupan baru di sana. Kepada orangtuanya, ia mengabarkan bahwa pekerjaannya menyenangkan dan dia mendapatkan uang yang cukup.

Lalu seorang pelukis bernama Ralf Hart muncul dalam kehidupan Maria. Bermula ketika ia sedang duduk di sebuah kafe, Ralf sedang melukis seorang ahli kimia ternama. Dia meminta Maria untuk tunggu sebentar karena dia akan melukis Maria, begitu katanya. Ralf sangat tertarik kepada Maria karena dia mengaku melihat cahaya dari dalam diri wanita tersebut. Begitu perkenalan dimulai di antara keduanya, Maria mengaku bahwa pekerjaannya adalah seorang pelacur. 

Pertemuan mereka tidak hanya terhenti saat itu juga. Beberapa kali mereka bertemu, menyadarkan Maria bahwa dia jatuh cinta kepada lelaki itu. Di situ pula tameng-tameng emosional Maria teruji. Betapa selama dia melakukan pekerjaannya itu, Maria hanya menganggap seks sebagai sebagai sebuah kewajiban dari pekerjaan, bukan sesuatu yang sakral, atau bahkan penyatuan dua jiwa. Dan juga apakah komitmennya untuk pulang akan terlaksana, atau justru dia akan mengikuti cinta sejatinya.


***


Saya sudah menyinggung di depan bahwa novel ini menceritakan tentang seks, dari sudut pandang seorang pelacur. Yang di mana, banyak sekali prasangka kita didobrak dan dihancurkan ketika mengupas lembar demi lembar saat membacanya. Saya kasih bintang dua bukan karena novel ini tidak bagus, bukan juga tema yang diangkat masihlah tabu untuk saya bahas atau bicarakan. Hanya saja, maybe it just not my cup of tea. Tapi saya sudah melahap habis buku ini, dan tidak ada salahnya ada beberapa hal yang mau saya tuliskan di sini. :)

Seks memang pembahasan yang masih sangat tabu untuk dibicarakan. Bukan berarti tidak baik, justru kalau dipelajari, mendapat pembahasan yang sesuai dan pas, kita jadi mendapat informasi dan pencerahan tentang ini. Saya memutuskan untuk baca juga selain penasaran, juga karena ingin... apa ya, menantang Paulo yang menuliskan cuplikan berikut di blurb-nya:


Dalam novel yang sungguh berbeda ini, Paulo Coelho menantang segala prasangka kita, membuka pikiran kita, dan membuat kita benar-benar terperangah.

Bagaimana tidak, membicarakan seks dari sudut pandang seorang pelacur? How come? Ini adalah tanda tanya pertama saya. Lantas setelah membacanya, pemikiran saya tentang tema yang diangkat jadi sedikit terbuka. Bukan berarti bahwa saya menyetujui atau membenarkan profesi tersebut, tidak sama sekali. Saya masih berpegang pada prinsip saya bahwa seks di luar koridor yang benar (pernikahan) adalah terlarang. Dalam keyakinan dan ajaran agama saya pun sudah tegas dijelaskan bahwa janganlah kamu mendekati zina sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (Q.S. Al Isra: 32). Nah terus gimana, Nis?

Saya belajar banyak hal dari tokoh Maria. Maria mengajarkan bagaimana memaknai hubungan seksual tidak hanya sekadar penyatuan fisik semata, melainkan membawanya ke sesuatu yang sakral. Nah, di mana coba kita bisa menemukan tempat bahwa aktivitas tersebut bermakna lebih dalam? Ya di pernikahan. Itulah mengapa pernikahan ada, untuk memberikan ruang yang baik dan benar untuk memenuhi hasrat seksual yang memang sudah menjadi kodratnya manusia. Bukan berarti saya menganggap tabu obrolan seputar ini, tidak lho. Saya welcome saja. Hanya memang, pendidikan seks usia dini di kalangan kita sangat terbatas. Anak-anak remaja yang rasa ingin tahunya sangat besar tidak mendapatkan wadah yang tepat untuk memuaskan dahaganya akan informasi yang benar. Nah loh jadi panjang lebar dan ke mana-mana deh review ini. Setidaknya, sampai di sini, Anda sudah mengerti kan ya saya ada di jalur dan prinsip yang mana. :)) 

Critical Eleven

Judul : Critical Eleven
Pengarang : Ika Natassa
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9786020318929
Tebal : 344 Halaman
Rating : 4 dari 5
WARNING! SPOILER ALERTS!!!



Blurb:

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya. 

***

Tanya Laetitia Baskoro adalah seorang wanita karir, anak tunggal, bekerja sebagai Management Consultant yang memiliki frekuensi terbang cukup tinggi. Aldebaran Risjad adalah seorang anak sulung dari lima bersaudara, ayahnya mantan tentara yang amat sangat menginginkan anaknya melanjutkan karir ketentaraan ayahnya. Namun, Ale tidak memiliki minat sama sekali, dan memilih jalan hidupnya sendiri. Sejak saat itulah hubungannya dengan sang ayah retak. Ale justru memilih untuk melebarkan jarak dengan kuliah dan bekerja sejauh-jauhnya dari rumah, di Rig, pengeboran minyak lepas pantai 25 jam penerbangan dari Jakarta. Dengan frekuensi bekerja lima minggu di lokasi, dan lima minggu off. Tapi karena hubungannya dengan si ayah belum membaik juga, Ale lebih memilih menghabiskan masa liburannya untuk travelling ketimbang pulang ke rumah.

Karena intensitas keduanya dalam menumpangi pesawat, suatu hari mereka bertemu dalam penerbangan tujuh jam ke Sydney. Anya, yang biasanya mendapatkan teman duduk bapak-bapak tua, atau ibu-ibu yang sibuk dengan anaknya, atau malah justru si anak yang duduk di sebelahnya, cukup terkejut (dan senang tentu saja) karena teman seperjalanannya kali ini adalah pria tampan. Namun di tiga jam pertama Anya justru malah menghabiskan waktunya dengan tidur..., di pundaknya si Ale.

Obrolan tercipta di antara keduanya setelah beberapa kali berbagi kata "maaf" dan "nggak apa-apa." Ale bercerita kalau dia tidak bisa tidur selama dalam perjalanan dan memilih untuk membaca buku. Namun kalau ada teman ngobrol cantik dan cerdas seperti Anya, buku mana yang bisa menandinginya? :)) Sebelum berpisah mereka sempat bertukar nomor telepon. 

Tapi Ale baru menghubungi Anya sebulan berikutnya saat dia mendapat kesempatan untuk libur, dan memutuskan pulang ke Jakarta. Dan pertemuan mereka kembali itu berlangsung di..., ketoprak ciragil dekat kantor Anya. Seminggu sesudahnya, mereka memutuskan untuk pacaran. Setahun sesudahnya Ale dan Anya pun menikah. Mereka memiliki kehidupan yang sangat menyenangkan, bisa dikatakan demikian, meskipun jarak dan waktu terkadang memisahkan keduanya. Namun pada suatu saat, sebuah ujian melanda kehidupan mereka, yang membuat segalanya menjadi berantakan.

Sejak kejadian itu, Ale dan Anya pisah ranjang, dan membangun tembok yang kokoh di antara keduanya. Ketika Ale berniat meruntuhkan tembok kokoh itu, Anya kembali menebalkan jarak di antara keduanya. Prahara rumah tangga keduanya ini tidak diceritakan kepada pihak luar, atau bahkan sampai tercetus kata perceraian. Ya bagaimana lagi, sebenarnya mereka pun masih cinta, Anya saja masih mengenakan cincin pernikahan mereka. Tapi ini jadi problem ketika si Harris dan Raisa, adik Ale, merencanakan pesta ulang tahun kejutan buat Ale. Skenarionya, Anya diminta untuk mengemasi barang-barangnya dan pergi dari rumah.... Anya bahkan sempat memikirkan skenario ini untuk direalisasikan, dan Ale pun mempunyai pemikiran yang sama ketika ia mendapati lemari baju istrinya kosong.

Kelanjutan cerita bisa dibaca sendiri, dan senang sekali saya berhasil menebak endingnya seperti apa :p

***

Secara keseluruhan, saya senang dengan cerita ini. Plotnya sederhana tapi dengan eksekusi yang manis buat ceritanya hidup, dan pembaca bisa ikut terbawa ke dalam konflik ceritanya. Ada beberapa poin yang saya suka, terutama, Ika Natassa membuat sosok Ale hidup banget. Meskipun beberapa orang ada yang menganggap Ale terlalu sempurna, bagi saya nggak juga. Banyak kok di luar sana saya kenal orang yang seperti Ale. Mapan, soleh, cool, begitulah. Dan si Tanya juga, meskipun saya kesal ya, karena di sini saya #TeamAle bukan #TeamAnya, sempat ikutan sebal sama si Anya di beberapa kesempatan. (Padahal kalau saya ada di posisinya mungkin akan berlaku yang sama sih.)

Lalu, penyampaian cerita yang sepotong-sepotong, membuat seperti sedang menyusun puzzle. Pertanyaan yang muncul di awal, akan menemukan penjelasan di tengah. Pertanyaan yang ada di tengah, nanti ketemu jawabannya di menjelang akhir. Kita seperti diajak menyusun lego, namun perpindahan alurnya benar-benar soft.

Tapi, ada beberapa hal yang cukup mengganjal saat baca buku ini. Ini termasuk ke selera sih ya, tapi ya tetap saja kurang begitu suka. Yang pertama, karena banyaknya bahasa campur, mix Indonesia-Inggris yang saya kurang begitu suka. Saya sealiran dengan Dewi Lestari yang mana gaya penulisan Dee itu, meminimalisir kata bercetak miring dalam novelnya. Di cerita ini, pada bagian awalnya banyak sekali bahkan nyaris di masing-masing paragraf ada bahasa Inggrisnya. Bukan berarti saya nggak tahu artinya sih, tapi hanya saja, itu mengurangi nikmat membaca bagi saya. Syukur deh sejalan ketika membacanya, sudah agak berkurang dan karena terlalu larut dengan jalan cerita, saya sudah nggak memperhatikan itu lagi :p

Selain itu, saya juga kurang suka membaca cerita pakai sudut pandang "gue". Oke, mungkin maksudnya untuk membedakan dengan jelas dua tokoh tersebut. Tapi bagi saya, oke-oke saja sih kalau saat menceritakan si Ale-nya pakai "aku" juga. Ini balik lagi masalah selera sih, tapi berhubung saya lanjut saja dan justru malah jatuh cinta sama si Ale, menandakan kalau itu tadi nggak begitu jadi masalah besar (meskipun saya wajib menuliskannya di sini :P).

Lalu, menjelaskan satu situasi dengan dua sudut pandang yang berbeda membuat saya ingat sama role playing fiction. Ini bukan berarti nggak bagus hanya saja..., apa ya, kurang begitu suka saja (karena ingat hutang main RP #nggak). Tapi ya so far, sudah saya bilang, saya suka sama cerita ini, suka pake banget. Jadi beberapa yang miss di sini tetap saya tuliskan meskipun kesan mendalamnya lebih kerasa bagus-bagusnya saja.

Bintang empat dari lima, dan yah, semoga ada satu saja orang seperti Ale yang disisakan buat saya :P #iniapa. Oh ya, novel ini sangat direkomendasikan untuk dibaca bagi yang belum (dan akan/pengen) menikah, selain novel Istana Kedua (Surga yang Tak Dirindukan). Serius, banyak pelajaran yang bisa diambil darinya.

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)