Sebelas Menit

Judul : Eleven Minutes
Pengarang : Paulo Coelho
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9789792298444
Tebal : 360 Halaman
Rating : 2 dari 5





Blurb:

Cinta hanya menimbulkan penderitaan…

Demikianlah anggapan Maria, gadis Brazil yang sejak remaja begitu yakin tak akan pernah menemukan cinta sejati dalam hidupnya. Seseorang yang ditemuinya secara kebetulan di Rio de Janeiro berjanji akan menjadikannya aktris terkenal di Swiss, namun janji itu ternyata kosong belaka. Kenyataannya, dia mesti menjual diri untuk bertahan hidup, dan dengan sepenuh kesadaran dia memilih untuk menjalani profesi sebagai pelacur. Pekerjaan ini semakin menjauhkannya dari cinta sejati.

Namun ketika seorang pelukis muda memasuki hidupnya, tameng-tameng emosional Maria pun diuji. Dia mesti memilih antara terus menjalani kehidupan gelap itu, atau mempertaruhkan segalanya demi menemukan “cahaya di dalam dirinya.” Mampukah dia beralih dari sekadar penyatuan fisik ke penyatuan dua pikiran atau bahkan dua jiwa---ke suatu tempat di mana seks merupakan sesuatu yang sakral?


Dalam novel yang sungguh berbeda ini, Paulo Coelho menantang segala prasangka kita, membuka pikiran kita, dan membuat kita benar-benar terperangah. 

***

"Dalam cinta, tak seorang pun bisa menyakiti orang lain; kita masing-masing bertanggung jawab atas perasaan kita sendiri, dan tidak bisa menyalahkan orang lain atas apa yang kita rasakan."

Jika Anda berpikir bahwa membicarakan seks adalah tabu, maka buku ini barangkali tidak cocok untuk Anda baca. Saya mencoba memperingatkan seperti halnya Paulo Coelho sendiri yang memperingatkan konten buku ini pada pembukaannya. Tapi percaya sama saya deh, isi buku ini nggak seperti Fifty~ apalah itu ya :)) (kayak saya baca aja #heh) karena banyak makna filosofis yang ada di buku ini. Kalau belum cukup umur, sangat dianjurkan untuk tidak melanjutkan baca ini, ya. Dan kalau Anda tidak kuat baca beberapa cuplikan yang ada di sini kan bisa di skip saja, saya juga bacanya begitu kok. Karena sayang banget, banyak pesan yang tersirat dalam buku ini.

Oke, langsung ke review saja ya.

Maria adalah seorang gadis Brazil yang memiliki cita-cita sederhana: bertemu sang pria idaman (kaya, tampan, cerdas), menikah (mengenakan gaun pengantin), memiliki dua orang anak (yang setelah dewasa menjadi orang-orang terkenal), dan tinggal di rumah yang indah (dengan pemandangan ke laut). Namun, kehidupan menuntun Maria jauh dari apa yang dia cita-citakan. Maria lahir di sebuah pedalaman Brazil yang hanya mempunyai satu gedung bioskop, satu kelab malam, dan satu bank. Ayahnya hanyalah seorang salesman keliling dan ibunya penjahit. 

Cinta pertamanya adalah seorang anak lelaki yang berjalan ke sekolah setiap hari bersamanya, yang sayang sekali tidak sempat ia utarakan perasaannya kepada anak laki-laki itu karena dia keburu pindah ke luar kota. Kenangannya terhadap cinta pertamanya hanyalah ketika anak itu pada akhirnya menegur Maria, bertanya apakah boleh meminjam pensil. Namun bodohnya Maria, dia yang terkejut dan tidak siap mendapatkan pertanyaan seperti itu justru malah mempercepat langkahnya dan meninggalkan anak itu. Sebuah penyesalan baginya, dan dia menunggu kesempatan berikutnya dengan pensil yang dia bawa. Namun sayang sekali, tidak ada kesempatan kedua untuknya.

Kehidupan remaja Maria berlangsung seperti kebanyakan remaja di tempatnya tinggal. Namun Maria tumbuh menjadi gadis yang cantik, menawan, dan genit. Sebab dia sadar betul pengaruh kecantikannya. Dia bekerja di toko kain. Bahkan pemilik kain jatuh hati padanya dan bermaksud untuk melamarnya. Suatu hari, Maria pergi ke kota untuk berlibur, di sanalah ia bertemu dengan seorang pria Swiss yang menawarkan pekerjaan untuk kehidupannya yang lebih baik lagi, sebagai seorang model. Maria, sejak peristiwa dengan cinta pertamanya itu sadar, bahwa tidak ada kesempatan kedua untuknya dalam mengambil sebuah keputusan. Setelah ia pulang dan membicarakan kepada orangtuanya, ia menyetujui tawaran itu dan berangkatlah ia ke Switzerland, nama yang sedari dulu dikenal hanya dari pelajaran sekolah dan belum pernah dibayangkannya bagaimana atau di mana tempatnya.

Namun ternyata, di Geneva, Maria tidak dijadikan sebagai model, namun dijadikan penari kelab malam, dengan gaji yang tidak sesuai, bahkan tidak sampai sepersepuluh dari kontrak yang dijanjikan. Dalam buku hariannya, Maria menulis:


Aku bisa melilih: menjadi korban dunia ini atau menjadi petualang yang mencari harta karun. Tinggal bagaimana aku memandang hidupku.
Maria memutuskan untuk mengikuti kursus bahasa Perancis. Di sana dia jatuh cinta dengan seorang lelaki. Hubungan mereka berlangsung selama tiga minggu, sampai suatu malam Maria memutuskan untuk berlibur dan berjalan-jalan ke gunung di luar kota Geneva. Akibatnya, Maria dipecat karena dianggap mencontohkan yang tidak baik kepada gadis-gadis lain di tempatnya bekerja. Kekasihnya entah ke mana, mungkin sudah kembali ke daerah asalnya. Dan beberapa bulan setelah uang pesangonnya menipis, di situlah bermula dia menjalani pekerjaan sebagai seorang pelacur. Maria mempunyai prinsip bahwa dia hanya akan menjalani profesi ini selama setahun. Setelah uangnya terkumpul, dia akan kembali ke desanya dan memulai kehidupan baru di sana. Kepada orangtuanya, ia mengabarkan bahwa pekerjaannya menyenangkan dan dia mendapatkan uang yang cukup.

Lalu seorang pelukis bernama Ralf Hart muncul dalam kehidupan Maria. Bermula ketika ia sedang duduk di sebuah kafe, Ralf sedang melukis seorang ahli kimia ternama. Dia meminta Maria untuk tunggu sebentar karena dia akan melukis Maria, begitu katanya. Ralf sangat tertarik kepada Maria karena dia mengaku melihat cahaya dari dalam diri wanita tersebut. Begitu perkenalan dimulai di antara keduanya, Maria mengaku bahwa pekerjaannya adalah seorang pelacur. 

Pertemuan mereka tidak hanya terhenti saat itu juga. Beberapa kali mereka bertemu, menyadarkan Maria bahwa dia jatuh cinta kepada lelaki itu. Di situ pula tameng-tameng emosional Maria teruji. Betapa selama dia melakukan pekerjaannya itu, Maria hanya menganggap seks sebagai sebagai sebuah kewajiban dari pekerjaan, bukan sesuatu yang sakral, atau bahkan penyatuan dua jiwa. Dan juga apakah komitmennya untuk pulang akan terlaksana, atau justru dia akan mengikuti cinta sejatinya.


***


Saya sudah menyinggung di depan bahwa novel ini menceritakan tentang seks, dari sudut pandang seorang pelacur. Yang di mana, banyak sekali prasangka kita didobrak dan dihancurkan ketika mengupas lembar demi lembar saat membacanya. Saya kasih bintang dua bukan karena novel ini tidak bagus, bukan juga tema yang diangkat masihlah tabu untuk saya bahas atau bicarakan. Hanya saja, maybe it just not my cup of tea. Tapi saya sudah melahap habis buku ini, dan tidak ada salahnya ada beberapa hal yang mau saya tuliskan di sini. :)

Seks memang pembahasan yang masih sangat tabu untuk dibicarakan. Bukan berarti tidak baik, justru kalau dipelajari, mendapat pembahasan yang sesuai dan pas, kita jadi mendapat informasi dan pencerahan tentang ini. Saya memutuskan untuk baca juga selain penasaran, juga karena ingin... apa ya, menantang Paulo yang menuliskan cuplikan berikut di blurb-nya:


Dalam novel yang sungguh berbeda ini, Paulo Coelho menantang segala prasangka kita, membuka pikiran kita, dan membuat kita benar-benar terperangah.

Bagaimana tidak, membicarakan seks dari sudut pandang seorang pelacur? How come? Ini adalah tanda tanya pertama saya. Lantas setelah membacanya, pemikiran saya tentang tema yang diangkat jadi sedikit terbuka. Bukan berarti bahwa saya menyetujui atau membenarkan profesi tersebut, tidak sama sekali. Saya masih berpegang pada prinsip saya bahwa seks di luar koridor yang benar (pernikahan) adalah terlarang. Dalam keyakinan dan ajaran agama saya pun sudah tegas dijelaskan bahwa janganlah kamu mendekati zina sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (Q.S. Al Isra: 32). Nah terus gimana, Nis?

Saya belajar banyak hal dari tokoh Maria. Maria mengajarkan bagaimana memaknai hubungan seksual tidak hanya sekadar penyatuan fisik semata, melainkan membawanya ke sesuatu yang sakral. Nah, di mana coba kita bisa menemukan tempat bahwa aktivitas tersebut bermakna lebih dalam? Ya di pernikahan. Itulah mengapa pernikahan ada, untuk memberikan ruang yang baik dan benar untuk memenuhi hasrat seksual yang memang sudah menjadi kodratnya manusia. Bukan berarti saya menganggap tabu obrolan seputar ini, tidak lho. Saya welcome saja. Hanya memang, pendidikan seks usia dini di kalangan kita sangat terbatas. Anak-anak remaja yang rasa ingin tahunya sangat besar tidak mendapatkan wadah yang tepat untuk memuaskan dahaganya akan informasi yang benar. Nah loh jadi panjang lebar dan ke mana-mana deh review ini. Setidaknya, sampai di sini, Anda sudah mengerti kan ya saya ada di jalur dan prinsip yang mana. :)) 

0 komentar:

Post a Comment

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (41) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Djenar Maesa Ayu (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)