Dunia Maya

Judul : Dunia Maya (Misteri Dunia dan Cinta)
Penulis : Jostein Gaarder 
Penerbit : PT Mizan Pustaka
Tebal Buku : 420 Halaman
ISBN : 9789794339220
Rating : 5 dari 5






"Adakah langkah yang bisa kita ambil berdua untuk berdamai dengan singkatnya kehidupan?" ---halaman 24

***

Blurb:

Diperlukan waktu bermiliar-miliar tahun untuk menciptakan seorang manusia. Dan diperlukan hanya beberapa detik untuk mati.

Di Pulau Taveuni, Fiji, sejumlah orang tanpa sengaja berkumpul. Setiap dari mereka diam-diam menyimpan luka di hati. John Spooke, seorang penulis Inggris, masih berduka akan kematian istrinya. Frank Andersen, seorang ahli biologi evolusioner dari Norwegia, kehilangan seorang anak dalam sebuah kecelakaan tragis dan berpisah dari istrinya.

Di antara mereka, tidak ada yang lebih menarik perhatian daripada Ana dan José, pasangan penuh teka-teki dari Spanyol. Mengapa mereka kerap saling melontarkan kalimat-kalimat ganjil tentang alam semesta dan Joker? Mengapa Ana begitu mirip dengan model lukisan Maja karya Goya yang terkenal? Dan siapakah Joker itu? Apa hubungannya dengan Maya, “ilusi-dunia”?


Novel Jostein Gaarder ini menyoroti gagasan-gagasan yang besar: penciptaan alam semesta, evolusi kehidupan di atas bumi, munculnya manusia, dan tujuan dari keberadaan manusia.

***

Novel ini adalah sebuah surat yang teramat panjang yang dibuat oleh Frank Andersen, untuk mantan istrinya yang bernama Vera. Dalam isi suratnya, Frank menceritakan tentang perjalanannya di pulau Taveuni setelah melakukan sebuah penelitian yang berhubungan dengan akademiknya--Frank adalah seorang ahli dalam bidang biologi evolusioner.

Dalam perjalanan di pulau tersebut, Frank bertemu dengan beberapa orang yang unik. Pertama, John yang seorang novelis asal Inggris yang sedang mencari bahan untuk novelnya selanjutnya. Lalu ada seorang gadis menarik bernama Laura, yang mempunyai ambisi untuk menyelamatkan bumi dengan caranya yang unik. Ia seorang heterochromia, yang mempunyai warna mata berbeda di antara kedua matanya. Seorang milyuner kaya, pengusaha minyak, yang juga ternyata menyimpan cerita tersendiri tentang hidupnya. Namun, di antara mereka semua, yang paling menarik perhatian Frank adalah sepasang suami istri bernama Ana dan Jose.


Yang pertama, adalah karena Frank merasa familiar dengan wajah Ana. Kedua, karena aktivitas kedua pasangan itu yang membuat Frank merasa penasaran. Ana memenangi semua permainan kartu. Mereka juga sering sekali, dalam kesempatan-kesempatan yang tak terduga, mengucapkan kalimat-kalimat dalam bahasa Spanyol. Kalimat itu seperti sebuah pecahan teka-teki yang berisi tentang banyak hal: misteri, dunia, hal-hal absurd yang bahkan sulit dicerna meski Frank mampu berbahasa Spanyol dengan baik, dan tentang Joker. Contohnya ini:


"Kita melahirkan dan dilahirkan oleh sebuah jiwa yang tak kita kenal. Ketika teka-teki itu berdiri pada kedua kakinya tanpa dapat terpecahkan, itulah giliran kita. Ketika impian mencubit lengannya sendiri tanpa terbangun, itulah kita. Karena kita adalah teka-teki yang tak teterka siapa pun. Kita adalah dongeng yang terperangkap dalam khayalannya sendiri. Kita adalah apa yang terus berjalan tanpa pernah tiba pada pengertian ...." ---halaman 69

Walau Frank bisa mengerti bahasa mereka, tapi ia lebih memilih untuk pura-pura tidak mengerti, agar ia bisa mendengar dan memahami lebih banyak. Setiap ucapan yang baru disampaikan mereka, dicatat oleh Frank agar suatu saat misteri dan teka-teki itu dapat terpecahkan.


Pulau Taveuni adalah tempat yang menarik untuk dikunjungi. Dan ketertarikan itu pula yang menjadi magnet bagi Ana dan Jose yang merupakan pembuat film dokumenter, serta Frank yang seorang penulis. Di pulau inilah garis bujur nol derajat berada. Dua tahun lagi adalah waktu dimulainya periode milenium baru tahun 2000. Semua orang berlomba-lomba untuk menjadi yang pertama, sehingga mereka membidik tempat ini, yang merupakan tempat pertama yang akan mengalami pergantian tahun. 



Selain hasrat mencari "yang terakhir" dan "yang hilang", kita semua memiliki keinginan tidak sehat untuk menjadi "yang pertama". ---halaman 63

Suatu malam, sebelum mereka berpisah ke tempat lain, mereka mengadakan "konferensi" dadakan di meja saat makan malam. Sebenarnya ini lebih kepada sebuah percakapan tentang banyak hal: kehidupan, evolusi, bahkan sampai pembahasan tentang Maya.

Ketika mereka pada akhirnya kembali ke kehidupan masing-masing, kisah tentang hal-hal yang belum terjawab sebelum mereka bertemu di Pulau Taveuni dan apa saja yang terjadi di sana menunggu untuk diselesaikan. Misalnya, tentang John Spooke yang masih belum bisa merelakan kepergian istrinya, Sonja, yang telah meninggal dunia. Lalu, tentang hubungan antara Frank dan Vera yang tidak tahu bagaimana kelanjutannya. Dan juga, tentang eksistensi Ana dan Jose yang menimbulkan berbagai macam spekulasi dan tanda tanya.



***

Aku adalah mata rantai terakhir dalam sebuah rantai pembelahan sel yang tidak terputuskan, mata rantai terakhir dari proses-proses biokimia yang kurang lebih telah diketahui, dan—dalam analisis terakhir—mata rantai terakhir dari biologi molekuler. Aku tersadar bahwa pada dasarnya, aku tidaklah berbeda dari organisme-organisme sederhana bersel satu yang merupakan nenek moyangku yang paling pertama. Singkatnya, aku tidaklah lebih dari sebuah koloni sel—dengan satu perbedaan penting bahwa sel-sel milikku lebih saling menyatu dibandingkan sel-sel yang terdapat dalam kultur bakteri, sel-selku lebih berbeda dan karenanya mampu melakukan pembagian tanggung jawab yang lebih radikal. ---halaman 50


Ini adalah sebuah novel yang cerdas dan brilian. Seperti biasanya, Jostein Gaarder mengusung tema filsafat dalam karya-karyanya. Dalam Dunia Maya, konsep filsafat itu dipadukan dengan pengetahuan seputar dunia biologi terutama dalam bidang biologi evolusioner. Gaarder menyuguhkan perenungan-perenungan ini dalam sebuah cerita berbalut kisah romansa dari beberapa tokohnya. Ada pasangan Frank dan Vera yang berpisah karena sebuah tragedi yang menimpa anak mereka. John yang belum bisa melupakan Sonja istrinya yang telah tiada. Ana dan Jose, pasangan misterius yang menyimpan rahasia-rahasia kehidupan dalam interaksi mereka.

Novel ini disajikan dalam bentuk surat yang panjang, terdiri dari beberapa bagian; yakni satu episode pertemuan Frank dengan para tokoh lainnya di Pulau Taveuni, solilokui John dengan tokek yang membahas tentang banyak hal seputar evolusi, kesadaran manusia, dan tentang kehidupan, cerita-cerita pasca pertemuan di Pulau Taveuni. Dan juga, bagaimana penyelesaian permasalahannya dengan Vera serta bagaimana rahasia tentang Maya terungkap dan tersingkap—yang ternyata berkorelasi dengan Ana dan Joker. Kerinduan tentang sosok Joker yang ada di Misteri Soliter terbayar di sini. Juga dengan kelima puluh dua misteri kartunya.

Boleh saya katakan bahwa buku ini sebenarnya jauh lebih berat kontennya ketimbang Dunia Sophie. Ulasan filsafat dan makna kehidupan dibahas dengan lebih mendalam dan mengena. Banyak tamparan keras bagi manusia yang otaknya lebih banyak lipatan ketimbang makhluk hidup lainnya. Dan itu seharusnya membuahkan kesadaran agar manusia menjadi lebih peka terhadap sesamanya.


Manusia mungkin adalah satu-satunya makhluk hidup di seluruh alam semesta yang memiliki kesadaran akan alam semesta. Maka, melindungi lingkungan hidup di planet ini bukanlah hanya sebuah tanggung jawab global, tetapi merupakan tanggung jawab kosmos. ---halaman 101

Saya senang dengan sosok Laura, dan juga pekerjaannya. Gadis ini bekerja sebagai seorang aktivis lingkungan hidup yang memiliki misi khusus untuk menggugat para pelaku kerusakan lingkungan dengan caranya sendiri. Saya suka dengan pasangan Ana-Jose, di mana plot twist seputar keunikan mereka—dengan mengucapkan kutipan berbahsa Spanyol itu—benar-benar mengagumkan. Saya juga suka Frank, dan bagaimana caranya untuk meyakinkan Vera untuk kembali padanya. 

Di luar itu semua, saya jadi semakin suka dan mengagumi Jostein Gaarder dengan semua kecerdasan dan kemampuannya mengolah konten berat semacam filsafat menjadi sebuah karya sastra yang kaya dengan kedalaman makna, plot twist, serta disajikan dalam bahasa yang lebih sederhana. Meskipun, membaca Dunia Maya ini bisa dikatakan jauh dari kata "sederhana". Memusingkan? Ya. Bahkan saya sempat berhenti lama dari membaca novel ini, sampai pada akhirnya membeli buku cetak dengan kover terbarunya dari Mizan.

Oh ya, terlepas dari rasa terima kasih yang begitu mendalam kepada penerbit yang mau menerbitkan karya-karya Gaarder, saya masih mau "menggugat" keputusan mengganti judul pada novel ini, dengan menambahkan kata "dunia" di depannya. Hmmm, coba bayangkan apa yang terlihtas saat mendengarkan kata "Dunia Maya"? Pasti segala sesuatu yang berhubungan dengan "internet" dan sejenisnya. Padahal, novel ini jauh dari makna tersebut.

Secara terpisah, saya membuat postingan khusus untuk menuliskan kutipan novel Dunia Maya di sini.


The Secret Life of Bees

Judul : The Secret Life of Bees
Penulis : Sue Monk Kidd
Penerjemah : Endang Sulistyowati
Penerbit : Gagas Media
Tebal Buku : 428 Halaman
ISBN : 9789797806002
Rating : 4 dari 5





Blurb:
Kamu harus menemukan seorang ibu di dalam dirimu. Bahkan, kita semua sebaiknya melakukan hal itu. Sekalipun kita memiliki seorang ibu, kita tetap harus menemukan bagian ini di dalam diri kita sendiri.

Berlatar di Carolina Selatan pada musim panas tahun 1964, saat Undang-Undang Hak Sipil dan kerusuhan rasial tengah ramai dibicarakan. Di sebuah perkebunan persik, Lily Owens, gadis empat belas tahun, menghabiskan seluruh hidupnya untuk menghadapi ayah yang kejam dan pemarah sekaligus merindukan ibunya yang meninggal secara misterius ketika ia masih berusia empat tahun.

Setelah berhasil meloloskan Rosaleen—pengasuh kulit hitamnya yang dipukuli para rasialis ketika hendak pergi ke kota menggunakan hak suaranya—dari rumah sakit, Lily memutuskan kabur. Ia membawa lari Rosaleen ke Tiburon, nama kota di Carolina Selatan yang tertera di balik gambar Maria berkulit hitam milik mendiang ibunya.

Di kota yang menyimpan masa lalu ibunya inilah Lily bertemu tiga orang kakak-beradik eksentrik pemilik peternakan lebah. Kehidupan baru Lily pun dimulai. Ia tak hanya menemukan rumah yang hangat dan cinta yang tulus, tetapi juga kekuatan untuk berdamai dengan diri sendiri. Tak hanya itu, di sini pula Lily menemukan para ibu. Para perempuan yang tak melahirkannya, tetapi mengajarkan kepadanya bahwa ibu ada di diri setiap orang.

***

Lily merasa ayahnya, T. Ray, tidak pernah sedikit pun menyayanginya. Alih-alih mendapatkan kasih sayang, yang diterima Lily justru perlakuan tidak menyenangkan dari sang ayah. Malang bagi Lily, karena ibunya telah lama meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan tragis yang melibatkan dirinya saat ia masih balita. Dalam ingatan masa kecilnya, ia merasa bahwa dirinyalah yang membunuh sang ibu. Dan orang-orang di sekelilingnya tidak ada yang membantah atau menjelaskan apa yang terjadi saat itu sehingga anggapan bahwa dirinya pelaku peristiwa itulah yang tercetak dalam benaknya. Bahwa, Lily-lah yang melontarkan pelatuk pistol saat pertengkaran hebat terjadi antara kedua orangtuanya saat itu.

Ia dibesarkan oleh seorang pengasuh bernama Rosaleen, di perkebunan persik milik ayahnya. Meskipun Rosaleen berkulit hitam, namun Lily begitu menyayanginya hingga ia berandai-andai jika Rosaleen seorang kulit putih dan menikah dengan ayahnya, ia akan mendapati Rosaleen sebagai sosok sempurna pengganti ibunya. Saat itu, di tahun 1964 di South Carolina, diskriminasi terhadap kulit hitam sedang memanas. Suatu hari, undang-undang tentang diperbolehkannya kaum kulit hitam untuk mengikuti pemilu diberlakukan. Rosaleen, ingin mendaftarkan diri untuk memberikan suara pertamanya. Ia diam-diam ia meminta izin untuk pergi ke kota, dan Lily turut serta.





Dalam perjalanan itulah, terjadi sebuah peristiwa memilukan yang menimpa Rosaleen. Ia menghadapi masalah dengan orang-orang kulit putih yang menindasnya. Rosaleen dipukuli dan berakhir di penjara. Saat luka-lukanya diobati di rumah sakit itulah Lily melancarkan sebuah rencana melarikan diri dari rumah bersama Rosaleen. Perkataan T. Ray begitu terngiang dalam benaknya.

"Selama kau tinggal di bawah atapku, kau harus melakukan apa yang kuperintahkan!" teriak T. Ray
Kalau begitu, aku akan menemukan atap lain, pikirku. ---halaman 32
Mungkin aku sama seperti semprotan pestisida, yang diselamatkan dari hama atau hama yang akan terbunuh oleh semprotan pestisida, yang berkelana di muka bum mencoba melakukan penyelamatan sekaligus membawa kehancuran ke mana pun aku pergi. ---halaman 81 

Dengan berbekal barang-barang milik ibunya yang ia temui di loteng, Lily memutuskan untuk pergi ke Tiburon. Dan masih atas petunjuk benda tersebutlah yang mengantarkan Lily dan Rosaleen ke sebuah rumah pemilik penangkaran lebah, sebuah keluarga unik yang namanya terdiri dari nama-nama bulan: August, sang wanita pemilik rumah, June adiknya yang memberikan perlakuan kurang menyenangkan, dan May, yang berkepribadian unik karena sering menyanyikan lagu 'Oh! Susanna' sebagai alarm bagi sekitarnya ketika ia mendengarkan cerita sedih atau menyakitkan.

Secara mengejutkan, Lily yang seorang kulit putih diterima dengan baik dan mendapatkan limpahan kasih sayang dari orang-orang asing berkulit berbeda dengannya. Ia bertemu dengan Zach, pemuda kulit hitam yang berlesung pipi dan rupawan, ia juga berkenalan dengan kelompok Putri-Putri Maria, sebuah komunitas yang digagas oleh August. Lily belajar banyak tentang kehidupan dari August.


"Kau tahu, ada sebagian hal yang tidaklah terlalu penting, Lily. Misalnya warna cat rumah. Seberapa besar pengaruhnya terhadap kehidupanmu? Tapi membuat orang senang--nah, itu baru penting. Masalahnya dengan orang adalah--"
"Mereka tidak tahu apa yang penting dan apa yang tidak."
"Aku hendak mengatakan, masalahnya adalah mereka tahu apa yang penting, tetapi mereka tidak memilihnya." ---halaman 197

Namun sayangnya, di pertemuan pertama mereka, Lily mengutarakan kebohongan tentang sebab-sebab keberadaan dirinya dan Rosaleen di sana demi keselamatan dan keamanan mereka. Seiring dengan berjalannya waktu, pada akhirnya kebohongan itu akan terbongkar, dan menyusul terkuaknya fakta-fakta yang berhubungan dengan hidup Lily lainnya. Bahkan, fakta lain yang berhasil mengguncangkan hidupnya, meruntuhkan semua asumsi dan anggapan yang selama ini dibangunnya.

***


"Kau tahu, Lily, orang bisa memulai dengan satu cara, dan pada saat hidup sudah menempanya, dia bisa berakhir dengan cara yang sepeuhnya berbeda." ---halaman 329

Bisa dibilang ini buku kedua yang saya baca yang mengangkat tentang diskriminasi terhadap kaum berkulit hitam di Amerika selain To Kill a Mockingbird yang bertema sama. Namun, di The Secret Life of Bees ini, tema friksi antara kaum kulit putih dengan kulit hitam lebih diangkat. Diwakili oleh Lily yang berkulit putih, namun ternyata ia justru mendapatkan limpahan kasih sayang dan "keluarga" oleh sebuah keluarga kulit hitam dalam pelariannya. Novel ini sungguh memberikan kesan yang dalam tentang kemanusiaan. Menyasar dengan tepat tentang permasalahan sosial yang sedang terjadi di masanya di mana diskriminasi terhadap orang-orang kulit hitam masih begitu terasa.

Penulis dengan apik "membalikkan keadaan" ketika menempatkan posisi Lily sebagai "minoritas" di antara keluarga kulit hitam yang begitu menyayanginya. Tidak hanya memberikan tempat tinggal, tapi juga sebuah keluarga dan perasaan dicintai yang tak pernah Lily dapatkan dari ayahnya. Penulis juga membawa emosi "jatuh cinta" di sini, yang membuat kisah ini menjadi berwarna. Juga tentang "patah hati". Bagaimana rasanya menjadi sosok yang tidak dicintai oleh ayahnya sendiri, juga oleh orang-orang yang begitu berarti dalam kehidupan Lily. 


Ada satu hal yang bisa kukatakan: kata 'mustahil' adala satu kayu gelondongan besar yang dilemparkan ke api cinta. ---halaman 177
"Lily, aku lebih menyukaimu dibandingkan gadis lain yang pernah kukenal, tetapi kau harus mengerti, ada orang-orang yang akan membunuh pemuda sepertiku hanya karena menatap gadis sepertimu." ---halaman 179

Namun, tidak hanya tentang itu saja yang diangkat oleh kisah ini. Ada cerita tentang trauma masa lalu dan kebiasaan aneh kakak-beradik May dan June. Ada kisah lebah dan bagaimana filosofi lebah dirajut menjadi satu dengan kisah yang disuguhkan. Dan juga, cerita tentang Black Madonna yang menjadi bagian dalam cerita ini.

Dalam buku setebal 428 halaman, kisahnya disajikan dengan begitu apik, mengalir dengan pelan namun tidak membosankan. Cara penulisan serta terjemahannya mendukung cerita ini, membuat pembaca tidak bisa melepaskannya begitu saja hingga titik terakhir. Kejutan di ending membuat hati siapa pun hancur karenanya. Sungguh, jadi ingin memeluk Lily dan mengatakan bahwa masih banyak orang-orang yang mencintainya di dunia ini.





Satu-satunya kekurangan yang ada di sini hanyalah banyaaak sekali kesalahan penulisan yang ada di novel ini, dan semakin ke belakang jadi semakin banyak. Membuat saya mengerutkan dahi dan tertawa getir berkali-kali. Sekali lagi harus saya katakan, gaya penulisan dan terjemahan, serta plot yang begitu kuat yang membuat saya tidak merasakan kekecewaan yang begitu berarti terhadap novel ini. Apalagi, di awal bab diberikan kutipan-kutipan seputar lebah yang menambah pengetahuan dan sinkron dengan yang dibahas di dalam babnya.

Pada akhirnya, sebuah penerimaan yang baik akan memberikan kehidupan yang lebih baik pula. 

"Bahwa tidak ada seorang pun yang sempurna. Bahwa kau hanya harus memejamkan matamu dan menghela napas, biarkan teka-teki hati manusia seperti apa adanya." ---halaman 377

Kedai Bianglala


Judul : Kedai Bianglala
Penulis : Anggun Prameswari
Penerbit : Grasindo
Tebal Buku : 184 Halaman
ISBN : 9786022513643
Rating : 3 dari 5




"Kadang, kalau kamu terlalu rindu, tubuhmu akan tergerogoti rasa sedih yang luar biasa, lalu mati pelan-pelan." ---halaman 157


***

Mengejutkan ternyata sebagian besar cerita yang ada di buku ini pernah saya baca sebelumnya.

Perkenalan saya dengan penulis bermula ketika saya tahu bahwa penulis adalah pemenang salah satu lomba cerpen yang kebetulan saya ikuti (jangan tanya saya menang apa nggak, menang kok, menang, menangos kalau kata anak zaman sekarang hahaha). Dari sana, saya dapat alamat blog milik penulis. Ternyata, penulis memang suka membuat cerpen bahkan beberapa di antaranya dimuat entah di koran nasional atau majalah. Beberapa cerita melekat dengan kuat dalam ingatan saya, beberapa lagi memudar. Jadi, membaca kumpulan cerita ini bagi saya seolah bernostalgia sekaligus mengasah dan mengais ingatan yang ada di dalam kepala.

Cerita favorit yang sangat membekas dalam ingatan saya adalah Akad Nikah. Sewaktu kali pertama, saya merasa takjub dengan kemampuan penulis untuk mengangkat cerita dan plot di dalamnya. Keren sekali. Lalu, cerita kedua (cerpen yang jadi pemenang di lomba itu) adalah Mengecup Engkau. Momen pertama kali saya membaca (kala itu saya spesial memesan buku kumpulan cerita yang menjadi finalis dalam lomba itu. Otomatis, cerpen Mbak Anggun ini ada di dalamnya), ternyata memang cerita ini sangat layak jadi juara. Keren. Out of the box. Saat membaca ulang di buku ini pun, kesan itu tidak begitu saja lenyap. Cerita ini masih sama kerennya.

Di dalam kumpulan cerita dengan judul Melukis Bianglala ini, memang menyuguhkan banyak cerpen yang rata-rata berakhir tragis. Menyedihkan. Atau setidaknya itulah kesan yang coba dihimpun setelah membacanya. Saya jadi sedikit ketipu saat membaca blurb di cover belakangnya. Ekspektasi saya atau setidaknya apa yang saya pikirkan tentang "bianglala" adalah, kau disuguhkan dengan banyak gerbong yang akan membuatmu berputar 360 derajat. Kau akan menemukan manisnya cinta, getirnya kekecewaan, pahitnya kenyataan yang tidak sesuai harapan, indahnya sepotong kisah kehidupan. Kompleks. Sama seperti roda yang berputar dengan siklus konstan kadang di atas lalu ada satu waktu berada di bawah. Namun, secara keseluruhan, cerita di dalam buku ini mostly angst..., dark. Itu diibaratkan seperti kau naik bianglala, namun dalam siklus perputarannya, kau terlalu lama berhenti. Sehingga tidak ada perasaan gembira atau senang saat bianglala berputar menuju puncak, membiarkan kau sejenak menikmati indahnya pemandangan kota dari ketinggian. Yang ada, hanyalah kekhawatiran demi kekhawatiran. Ketakutan atau perasaan sejenis itu yang dominan dengan pahit. Apakah bianglala ini aman? Mengapa ia berhenti berputar terlalu lama? Adakah yang salah dengan bianglala ini? Adakah yang "salah" dengan buku ini?

Ya, begitulah yang dinamakan dengan ekspektasi. Kadang bisa mengacaukan sistem. Hahaha. Lantas, apakah ada yang salah dengan buku ini? Jawabannya tidak ada. Tapi, ya itu tadi, saya "terjebak" dengan penamaan "bianglala" yang dipakai sebagai judul yang mewakili keseluruhan kisah yang ada di dalamnya. Mungkin saya memang harus mengubah sudut pandang. Mungkin saya seharusnya tidak berada di satu gerbong bianglala yang berputar itu. Mungkin saya harus menganalogikan diri sebagai petugas pemeriksa karcisnya saja.


Empat bintang untuk beberapa cerpennya yang mengagumkan. Namun, untuk keseluruhan isi dalam kumpulan cerita ini, saya berpuas diri memberikan tiga bintang. Tiga masih berada di atas rata-rata, bukan? Karena memang buku ini bagus.


San Francisco

Judul : San Francisco
Penulis : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie 
Penerbit : Gramedia Widiasarana Indonesia
Tebal Buku : 215 Halaman
ISBN : 9786023755929
Rating : 3 dari 5





Blurb:


Satu-satunya yang menarik dari cowok bernama Ansel adalah badannya yang ketinggian, kegemarannya akan musik klasik, dan senar-senar harpa di ujung jarinya. Ansel bekerja di Suicide Prevention Center, bertugas mengangkat telepon, hingga akhirnya ia menemukan hal menarik yang baru: Rani—gadis dari negeri asing yang mengiris nadi setiap dua hari sekali.


Sekarang sebagian besar kehidupan Ansel berputar di sekitar Rani. Dan, Ansel bertanya-tanya apakah pertemuan mereka di Golden Gate Bridge San Fransisco adalah takdir, atau sekadar kesialan? Karena dari sini, mobil kabel yang membawa kisah mereka bisa saja menanjak terus hingga setengah jalan menuju bintang, atau justru terjebak dalam kabut di atas perairan biru dan berangin San Francisco. 


***


"What do you consider a safe place?" 
"A place where you are away from hard--self inflicted, or by someone or something else." ---halaman 3


Ansel adalah seorang pekerja paruh waktu di Suicide Prevention Center yang bertugas untuk mengangkat telepon dan mendengarkan cerita orang-orang yang putus asa. Di lini telepon ini, tidak jarang orang menceritakan bagaimana kisah memilukan mereka bahkan sampai upaya terakhir sebelum bunuh diri.

Di hari pertamanya bekerja, ia mendapat telepon dari seorang misterius yang mengajaknya tebak-tebakan judul lagu yang langsung dijawab benar oleh Ansel. Karena, rupanya Ansel memiliki ketertarikan yang amat besar terhadap musik klasik. Ia bisa memainkan harpa, bahkan tahu tentang banyak lagu dan trivia seputar lagu-lagu itu; entah tentang kisah dibalik pembuatan musiknya, atau tentang musisinya.

Selain bekerja di tempat itu, Ansel juga kerja paruh waktu di kedai roti. Ansel sering membawa makanan ke tempatnya kerja dan menyenangkan Maria, sang mentor yang terpaut usia hampir satu dekade dengannya. Pembawaan Maria yang menyenangkan menjadi bagian dari orang-orang yang suka menindas Ansel selain kakaknya Gretchen dan suaminya--di mana Ansel menumpang tinggal. Sebenarnya Ansel memiliki pacar, bernama Ada. Gadis itu dikenalnya saat sedang melalui proses pelatihan sebelum diterima sebagai petugas Suicide Prevention Center. Tentang hubungan Ansel dan pacarnya itu, banyak yang berkomentar menyangsikan. Kata mereka, Ada terlalu "sederhana" bagi Ansel yang memiliki karakter unik dan butuh didampingi oleh seorang yang "luar biasa".

Orang misterius yang menelponnya itu bernama Rani, seorang gadis Indonesia yang tinggal di San Francisco. Ia mengalami depresi dan berkali-kali memutuskan bunuh diri. Dan rupanya, Rani menjadikan Ansel sebagai hotline pribadinya. Suatu hari, mereka bertemu di Jembatan San Francisco. Lalu mereka menjadi akrab. Pun juga Ansel dengan Benji, pacar Rani yang seorang musisi, juga Ada. 

Hubungan mereka berjalan tidak lagi biasa. Terlebih, saat satu per satu rahasia terdalam yang mereka miliki terkuak begitu saja.

***



Hmmm. Sebenarnya 3,5 ....

Saya sudah menuliskannya di review Jakarta Sebelum Pagi kalau Ziggy mampu mengubah gaya tulisannya--atau sebenarnya sama saja tapi kesan yang berhasil ditangkap pembaca--berbeda-beda sesuai dengan karakter tokoh yang ada di dalam novel-novelnya. Pertama Ava, kedua Emina, dan ketiga Ansel. Apa perbedaan yang ada pada si Ansel? Bahwa dia adalah seorang pemuda San Francisco, ras kaukasoid, hidup dan besar di sana. Ziggy berhasil membawa aura itu ke dalam novel ini. Bahwa tokoh dan setting-nya memiliki budaya dan kehidupan yang amat sangat berbeda dengan novel ber-setting lokal. Sebuah apresiasi besar saya berikan untuk penulis atas kelihaiannya dalam membangun setting dan nuansa.

Selain itu, pemilihan "prentilan" yang out of the box rasanya melekat dengan Ziggy, dan saya suka. Ini seperti membaca sesuatu yang bahkan kamu tidak akan pernah memikirkan bahwa itu akan menyatu dengan sebuah jalan cerita. Seperti misalnya, pekerjaan Ansel. Lalu, mengambil setting Golden Gate Bridge sebagai tempat untuk bunuh diri alih-alih menjadikannya sebagai tempat wisata atau tempat bersetting-setting romantis ala-ala. Konsep "tanah air" yang disajikan benar-benar pas juga membuat saya berdecak kagum.

Tapi, di sini, saya kurang mendapatkan kesan tentang pembangunan karakter yang ada di dalamnya. Terlepas dari hal pertama yang tadi sudah saya jelaskan, di sini saya tidak berhasil klop dengan karakter-karakternya. Lagi pula, premis yang ditawarkan benar-benar memikat, namun di tengah jalan terkesan terlalu banyak yang dijabarkan sehingga membuat plotnya menjadi bias. Oke mari kita bahas satu per satu. Yang pertama, tentang karakternya. Ansel? Oke. Saya bahkan punya gambaran bagaimana visualisasi dan laku Ansel dalam benak saya. Karakter-karakter lainnya? Juga oke, dan saya bisa membayangkan mereka seolah seperti sedang menonton film. Tapi, entah mengapa, saya tidak berhasil menangkap character building-nya dengan baik. Mungkin ada pengaruhnya dengan jalan cerita yang melebar tadi? Ya, bisa jadi. Di awal karakter yang berperan mungkin hanya Ansel dan Rani saja, lalu muncul Ada, ada pula Benji, Maria, Gretchen, Dexter, dan banyak lagi. Sebenarnya tidak masalah punya karakter banyak, hanya saja di sini--terutama di bagian tengah--saya merasa seolah karakter-karakter lain kepingin melompat peran dari "karakter pendukung" menjadi "karakter (semi) utama" (kalau memang penggolongan karakter itu memang ada, hehehe). Jadinya, cerita yang seharusnya berfokus pada plot utama jadi banyak cabangnya. Sebenarnya bagus saja sih kalau ada cabang-cabang cerita yang kemudian akan menunjang plot utama. Tapi di sini rasanya saling overlaping, menurut saja. Bukan tidak bagus lho ini, bagus dan sah-sah saja kok. Saya masih menikmatinya, namun rasanya kurang mengalir dan sedikit kurang sreg saja.

Lalu ... ada satu hal yang mengganggu saya (di luar typo dan kesalahan penulisan yang banyak saya temukan--di bawah sepuluh sih, tapi di atas lima menurut saya "cukup banyak"). Yaitu, tentang kebiasaan unik para tokohnya tentang "trivia". Jadi, si Ansel ini suka dengan musik klasik, bahkan dia pemain harpa. Dan juga, dia berharap agar orang-orang mengerti dan mencintai kesukaannya itu. Makanya, dia senang menyampaikan trivia tentang musik-musik klasik, bisa tentang cerita unik komposernya, atau kisah di balik pembuatan musiknya. Sejujurnya, saya suka dengan karakter Ansel yang ini, membuatnya unik. Dan karakter-karakter unik akan melekat dalam ingatan pembaca dalam waktu yang lama. Tapi, entah mengapa, rasanya penulis kebanyakan membuat trivia di sini. Bukan hanya pada Anselnya saja, tapi juga Benji yang mempunyai trivia seputar opera-opera yang disukainya. Dan karena orang sekeliling Ada suka ber-trivia, dia juga jadi ikutan latah punya satu trivia juga. Saya jadi merasa ... overdosis. Kalau satu itu unik, kebanyakan jadi agak anu juga. Kayak, ada kejadian yang berhubungan dengan musik atau apa pun yang dirasa unik muncul, langsung di-trivia-in. Padahal, cukup Ansel yang punya karakter begitu saja sudah cukup. Kalau kebanyakan tokoh punya trivia begitu, kadar keistimewaan si Ansel jadi berkurang.

Dan tentang tema besarnya seputar bunuh diri .... Hmmm. Entah mengapa, tema seperti ini lagi sering saya temukan di novel-novel yang saya baca. Rasanya, kembang kempis juga karena saya merasa tidak hanya sebagai pembaca, tapi juga saya memiliki sudut pandang sebagai orang yang pernah memikirkan hal tersebut meskipun alhamdulillah ya Allah, nggak sampai pada tahap depresi akut sampai punya keinginan untuk mengeksekusi itu. Saya setuju dengan kalimat ini:

Alasan orang bunuh diri berbeda-beda, tapi akarnya tetap sama: merasa kesepian. ---halaman 21

Kesepian di sini bisa berarti dia tidak punya teman berbagi, tapi juga bisa karena dia tidak tahu bagaimana caranya berbagi atau terbuka dengan orang lain. Ketika semua permasalahan bertumpuk jadi satu, dan tidak menemukan jalan keluar dan terus dihantui dengan "what if" atas apa yang bahkan belum akan terjadi, pemikiran-pemikiran seputar ingin bunuh diri bisa saja terlintas. Bisikan setan menari-nari kesenangan tuh. Hahaha. Tapi, penulis berhasil mengeksekusi tema ini dengan baik. Kesan bahwa "hah, Rani gitu doang kok depresi sampai berkali-kali bunuh diri" berhasil terhapuskan dalam benak saya karena pada akhirnya saya dapat pemahaman bahwa cara orang lain menghadapi masalah tidak sama dengan cara yang kamu hadapi, pun juga begitu dengan kemampuan mereka dalam mengelolanya. 

(Pokoknya, tentang teknik menulis, jangan ragukan kemampuan Ziggy. Hasilnya memukau!)

Jadi kesimpulannya, saya tidak akan pernah kapok untuk baca novel karya Ziggy :3


Petualangan Tom Sawyer

Judul : Petualangan Tom Sawyer
Penulis : Mark Twain
Penerjemah : Djokolelono
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal Buku : 296 Halaman
ISBN : 9786024240349
Rating : 4 dari 5



Blurb:

Kisah petualangan remaja karangan Mark Twain dengan latar belakang alam bebas di tepi Sungai Mississippi ini merupakan salah satu karya klasik Amerika. Tom yang nakal tinggal di rumah Bibi Polly yang dermawan. Setelah bertengkar dengan sahabatnya, Becky Thatcher, Tom pergi bertualang bersama Huck Finn, temannya. Secara kebetulan keduanya menyaksikan penjahat menusuk seorang dokter hingga meninggal. Si pembunuh menggenggamkan pisau itu di dalam tangan seorang pemabuk. Diselingi pengembaraan dan tingkah polah yang serba nakal dan berani, Tom dan Huck dapat menemukan tempat persembunyian si pembunuh.

***

Keluhan saya dari buku ini adalah terdapat banyak kesalahan pada penulisan. Entah itu typo (yang banyaaak saya temukan), kesalahan penulisan bahasa, penempatan tanda baca, dan ... bahasa terjemahan yang agak aneh. Untuk yang terakhir, sebenarnya ini bukan keluhan besar sih, karena saya dibuat tersenyum dengan pemilihan kata yang "unik" meskipun ada beberapa kata lainnya yang membuat saya mengernyitkan dahi. Contohnya, misalnya penggunaan "masya Allah", "berabe", dan ada beberapa kata yang Indonesia banget dalam dialog (astaga, ini seperti nonton film Korea yang di-dubbing, atau lebih parah lagi, seperti nonton film barat yang di-dubbing dengan bahasa daerah di saluran tv lokal). Lucu sih, tapi aneh. Jadinya, saya pun ikut berekspresi yang sama saat menonton film barat berbahasa Jawa. Dan yang lucu tapi aneh lainnya itu adalah adanya kata "kemalu-maluan" yang mungkin dimaksudkan untuk menyatakan bahwa si tokoh bersikap malu-malu karena suatu hal. Tapi ... kan terdengarnya aneh.

Nah sekarang, sebelum saya melanjutkan, saya ingin bercerita sebentar tentang buku ini. Pertama kali saya membacanya (dulu yang saya baca judulnya "Tom Sawyer Anak Amerika"), kira-kira tahun 2001, yang artinya lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Waktu itu, rasanya saya masih kelas 1 SMP. Saat-saat di mana saya lebih sering menunjungi perpustakaan dibandingan tempat mana pun selain kelas sendiri. Pada akhirnya, membaca novel ini sekarang, selang lebih dari satu dekade kemudian, membuat saya sesekali harus mengasah otak untuk mengingat-ingat cerita mana yang benar-benar melekat. Ajaibnya, ada beberapa plot yang saya masih ingat meskipun samar-sama terlupa siapa yang menjadi pelakunya. Dan, plot yang saya ingat itu adanya di bagian akhir (tentang cerita di dalam gua). Walhasil, dari awal sampai mendekati akhir, perasaan saya seperti membaca sebuah cerita baru.


Petualangan Tom Sawyer menceritakan tentang seorang anak kecil yatim piatu bernama Thomas Sawyer yang tinggal dengan bibinya, dan kedua sepupunya: Mary dan Sid. Tom Sawyer adalah anak yang super-duper bandel sehingga terkadang membuat bibinya jengkel. Namun meskipun begitu, pada dasarnya, bibinya tetap menyayangi Tom sama seperti anaknya sendiri. Tom suka mengelabui anak lain karena "kecerdasannya". Misalnya, saat ia dihukum bibinya untuk mengapur tembok, ia berhasil mengubah persepsi tentang "hukuman" menjadi "tantangan" dan "sesuatu yang keren" yang pada ujungnya dapat ia ambil manfaatnya karena berhasil mengelabui anak-anak untuk menukar barang berharga mereka dengan pekerjaan mengapur tembok yang keren itu.

Tom berteman dengan seorang anak gelandangan bernama Huckleberry Finn, di mana mereka banyak melakukan hal-hal yang tak dapat dilakukan oleh anak-anak seusia mereka pada umumnya. Suatu hari mereka tengah malam berada di kuburan untuk melakukan sebuah misi. Tapi malangnya, mereka menjadi saksi bisu sebuah pembunuhan yang ternyata pembunuh aslinya memutarbalikkan fakta yang sebenarnya. Namun, Tom dan Huck sudah berjanji demi keselamatan mereka sendiri untuk tidak mengatakan pada siapa pun hal yang sebenarnya terjadi.

Tom juga mempunyai seseorang yang ditaksirnya, bernama Becky Tatcher, seorang gadis cantik anak dari Hakim Tatcher. Hubungan Tom dan Becky sendiri tidak begitu mulus, karena sifat Tom yang begini sementara Becky begitu. Suatu hari, karena Tom merasa kecewa dengan Becky, dan juga merasa sedih karena banyak hal dalam hidupnya. Ia mengajak dua temannya untuk pergi sejauh-jauhnya dari rumah. Seluruh kampung geger, mereka bertiga dikabarkan meninggal dunia.

Bagaimana nasib Tom dan teman-temannya selanjutnya? Atau bagaimana dengan si Indian yang merupakan pelaku pembunuhan yang sebenarnya? Novel ini begitu menarik untuk disimak. Tapi, harap bersabar karena kelakuan ajaib Tom sepanjang cerita ini ya, hahaha. 

Dengan membaca buku ini, saya jadi merasa miris dengan anak-anak era sekarang yang taman bermainnya hanya seputar gadget dan game saja, padahal, banyak yang bisa dilakukan oleh mereka di luar sana, bersama dengan teman-teman, bermain-main dan berpetualang. Seperti yang dikatakan oleh Tom Sawyer ini, rasanya juga berlaku bagi zaman sekarang (padahal zaman Tom Sawyer ini sudah puluhan tahun berlalu dari saat ini).


Dalam hati mereka bertanya-tanya apa yang bisa diberikan oleh peradaban modern untuk menggantikan zaman yang hilang itu. Mereka berkata, lebih baik jadi anak buah Robin Hood setahun daripada menjadi presiden Amerika Serikat seumur hidup. ---halaman 74

Annie

Judul : Annie
Penulis : Thomas Meehan
Penerjemah : Ambhita Dhayaningrum
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 232 Halaman
ISBN : 9796020332734
Rating : 4 dari 5




The sun'll come out, tomorrow 
So ya gotta hang on 'til tomorrow
Come what may
Tomorrow! Tomorrow!
I love ya! Tomorrow!
You're always a day a way


Blurb:

Ketika baru berumur dua bulan, Annie ditinggalkan oleh orangtuanya di panti asuhan. Ia meyakini suatu saat orangtuanya akan menjemputnya pada Malam Tahun Baru, tetapi sampai sebelas tahun berlalu, ayah dan ibunya tak juga datang untuk menjemput. Ia terpaksa tinggal di panti asuhan bersama Miss Hannigan yang kejam, sampai ia memutuskan untuk melarikan diri dan mencari sendiri orangtuanya. Apakah Annie berhasil menemukan orangtuanya?

Inilah kisah klasik petualangan Annie bersama Sandy anjing kesayangannya, Mr. Warbucks sang miliuner, dan Miss Farrell yang baik hati.

Pada tahun 1924, Annie muncul dalam sebuah comic-strip berjudul Little Orphan Annie di halaman surat kabar di seluruh penjuru Amerika Serikat. Kemudian Annie diadaptasi menjadi drama musikal Broadway dan meraih Tony Award kategori Drama Musikal Terbaik serta enam kategori lainnya, termasuk Buku Drama Musikal Terbaik. Lagu yang paling populer dalam drama musikal tersebut berjudul Tomorrow.


***

Membaca tentang kisah Annie, bagi saya seperti sedang berkelana dengan mesin waktu yang membawa kembali ke masa kecil di mana film ini sering diputar di televisi terutama saat libur sekolah. Bercerita tentang Annie, seorang gadis kecil yang ditinggalkan di sebuah panti asuhan dengan secarik surat tentang bayi mungil ini: informasi tentang tanggal lahirnya, dan pesan bahwa orangtuanya akan datang untuk menjemput Annie suatu hari nanti. Selain itu, ada pula sepenggal kalung locket yang diberikan padanya, yang pasangannya dimiliki orangtuanya sebagai tanda bahwa Annie adalah buah hati mereka. Dari pesan itulah Annie selalu menunggu kedatangan orangtuanya menjemput. Berbeda dengan semua anak di panti asuhan yang sudah tidak mempunyai orangtua lagi, ia menyimpan asa tentang orangtuanya yang masih hidup. 

Namun, rupanya kehidupan Annie dan anak-anak panti asuhan tidaklah menyenangkan. Miss Hannigan, sang pemilik panti asuhan, adalah wanita tua yang kejam. Ia membiarkan anak-anak ini memakan makanan yang tidak layak dan memberikan jam kerja pada mereka semua. Anak-anak panti asuhan disuruh membuat baju di ruang bawah tanah panti. Tidak hanya di tempat mereka tinggal, perlakuan kejam juga diterima di sekolah. Anak-anak panti dianggap sebagai murid yang tidak pantas bergaul dengan teman-teman lainnya, dan mereka mendapatkan perlakuan diskriminatif dari banyak pihak. Dan Annie tidak pernah dijemput oleh ayah dan ibunya.

Untungnya, Annie adalah seorang gadis kecil dua belas tahun yang tangguh. Ia tidak pernah membiarkan orang lain melihatnya menangis. Selain pintar, Annie juga ditakuti dan disegani oleh anak-anak seusianya.

Karena perlakuan kejam Miss Hannigan dan kepercayaannya bahwa orangtuanya masih hidup, ia memutuskan untuk pergi mencari keduanya. 

"Sekarang aku tahu orangtuaku tidak akan pernah datang menjemputku," kata Annie sambil memeluk keranjangnya, bersiap pergi. "Jadi aku yang harus pergi mencari mereka." ---halaman 43

Dengan segala upaya--dan dibantu oleh teman-teman sepantinya--Annie berhasil kabur dan memulai petualangannya di luar panti asuhan, berupaya bertahan hidup dari deraan lapar dan musim dingin yang datang menghadang. Bersama dengan Sandy, anjing liar yang ditemukannya di jalanan, ia mengarungi kerasnya kehidupan di luar panti saat Amerika sedang mengalami krisis yang berat. Dan juga, ia tidak pernah lupa tujuan utamanya berada di luar sana; mencari ayah dan ibunya.

Suatu hari, ia bertemu dengan seorang wanita yang merupakan sekretaris pribadi seorang miliuner yang hendak menghabiskan harinya dengan seorang anak yatim piatu, dan Annie-lah yang beruntung untuk dibawa Miss Farrell itu untuk bertemu dengan Mr. Warbucks. Bersama dengan pria tua kaya raya namun merasa hidupnya sepi dan kosong itu, hidup Annie tidaklah sama lagi. Namun, ia tidak boleh melupakan bahwa Annie masih berharap ia dapat bertemu dan tinggal bersama ayah dan ibunya yang entah berada di mana sekarang.

***

Kisah tentang Annie menurut saya adalah sebuah cerita yang tak lekang oleh masa. Berlatarkan Amerika tahun 1933 di mana pada periode itu dikenal dengan Era Depresi di mana Presiden Roosevelt baru saja memangku jabatannya sebagai seorang pemimpin Amerika kala itu. Annie adalah sebuah gambaran tentang seseorang yang percaya bahwa keoptimisannya akan berdampak pada kehidupan yang lebih baik lagi esok hari. Masa Depresi bagi Amerika merupakan cobaan berat di mana seorang kaya tiba-tiba menjadi miskin, pekerja kantoran menjadi penjual apel, dan sebuah tempat kumuh bernama Hooverville dibangun sebagai olok-olok bagi mantan Presiden Hoover yang banyak dipersalalahkan atas masa Depresi itu. Namun Annie, seolah mengajarkan dengan caranya yang halus dan sesuai dengan usianya yang masih anak-anak, bagaimana agar tetap optimis dan yakin tentang hari esok.


"Matahari akan muncul esok hari. Yakinlah, berani bertaruh demi dolar terakhirmu, bahwa akan ada matahari esok hari." ---halaman 87

Satu hal yang dapat dipelajari dari kehidupan Annie adalah bagaimana kita harus memandang optimis terhadap hidup kita. Sikap ini tentu saja susah untuk dimiliki jika keadaan berada pada level yang terbawah. Padahal, tidak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi dengan hidup kita esok atau lusa. Dan yang perlu dilakukan selain berupaya untuk membuat suatu keadaan menjadi lebih baik setelah mengupayakan dan mengusahakan dengan kerja keras adalah bersikap optimis. Keyakinan adalah sebuah penguat yang menyenangkan untuk memandang masa depan.


"Kurasa itulah hal terbaik tentang hidup. Kau tidak akan pernah tahu apa yang terjadi berikutnya." ---halaman 133

Membaca novel tentang Annie, selain membawa ingatan untuk berkelana ke masa kecil, dan juga mengajarkan untuk selalu menumbuhkan rasa optimisme dalam memandang hidup--yang rasanya semakin luntur seiring bertambahnya usia--pembaca juga akan diajarkan tentang banyak hal lainnya secara tidak langsung. Ini merupakan pembelajaran yang menyenangkan karena kita tidak akan merasa digurui atau diajari. Annie merupakan sosok imajinatif yang periang, manis, yang akan membawa pembacanya menyatu dengan emosi yang hadir dalam plotnya. Meskipun cerita ini sudah dapat ditebak bagaimana alurnya atau seperti apa kejadiannya--apalagi yang masih ingat dengan jalan cerita yang ada di filmya--namun, emosi yang dihadirkan di sini begitu dekat sehingga saya berulang kali merasa iba maupun memiliki perasaan yang sama dengan Annie. Ini merupakan sebuah pengalaman yang positif dan berkesan terhadap sebuah novel.

Namun, jika dicermati, ada plot yang kesannya terlalu imajinatif di sini, seperti misalnya kehadiran Presiden Franklin D. Roosevelt sebagai bagian dari cerita ini. Di awal dalam kata pengantarnya, penulis sudah menjelaskan tentang itu, juga alasan mengapa ia mengambil cerita yang mulanya berasal dari comic-strip yang ditulis selama 48 tahun dan dimuat dalam surat kabar Minggu dan mengangkatnya ke panggung layar lebar Broadway. Saya sendiri tidak keberatan dengan plot imajiatif bagaikan roller-coaster ini. Karena, pada dasarnya, Annie adalah sebuah karya yang disuguhkan dalam sudut pandang seorang anak kecil, yang target penikmatnya salah satunya adalah anak kecil seusia Annie. Bagi saya, kisah ini tidak hanya sekadar cerita anak saja, namun banyak kesan yang dapat diambil sebagai penyemangat kehidupan, apalagi jika merasa bahwa kesulitan maupun ujian hidup sedang berlangsung. 

Jika sedang mengalami kesulitan, maka ingat selalu pesan Annie kepada Sandy ini:


"Dan semuanya akan baik-baik saja. Untuk kita berdua. Jika tidak hari ini, yah... matahari akan muncul esok hari. Yakinkan dirimu bahwa esok matahari akan bersinar." ---halaman 76

Juga bisa mengingat kalimat ini:


"Bagi orang yang berada di titik terendah hidupnya, selalu ada ruang untuk orang lain." ---halaman 84

Untuk kesan yang begitu menyenangkan ini, saya berikan bintang empat untuk kisah menakjubkan yang dilalui oleh Annie.



Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)