Showing posts with label philosophy. Show all posts
Showing posts with label philosophy. Show all posts

Panggilan Sang Monster - A Monster Calls

Judul : Panggilan Sang Monster - A Monster Calls
Penulis : Patrick Ness
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 216 Halaman
Cetakan Februari 2016
(Cetakan pertama versi buku asli, Mei 2011) 
ISBN : 9786020320816
Rating : 4 dari 5




Kau tidak menulis hidupmu dengan kata-kata, ujar sang monster. Kau menulisnya dengan tindakan. Apa yang kaupikirkan tidaklah penting. Satu-satunya yang penting adalah apa yang kaulakuan. ---halaman 202

Blurb:

Sang Monster Muncul Persis Lewat Tengah Malam. Seperti Monster-Monster Lain. Tetapi, dia bukanlah monster seperti yang dibayangkan Conor. Conor mengira sang monster seperti dalam mimpi buruknya, yang mendatanginya hampir setiap malam sejak Mum mulai menjalani pengobatan, monster yang datang bersama selimut kegelapan, desau angin, dan jeritan… Monster ini berbeda. Dia kuno, liar. Dan dia menginginkan hal yang paling berbahaya dari Conor. Dia Menginginkan Kebenaran. 


***

Conor O'Malley, seorang anak beranjak remaja yang mempunyai masalah pelik dengan keluarganya. Ayah dan ibunya sudah lama berpisah, dan ia tinggal dengan seorang ibu yang menderita kanker stadium akhir.

Setiap malam, ia mengalami mimpi buruk. Dan mimpi itu, tanpa ia sadari membuat seorang monster datang mendekatinya; monster itu adalah pohon yew yang berasal dari bukit di belakang rumahnya.

Aku punya begitu banyak nama, sebanyak tahun-tahun yang telah ada! raung sang monster. Aku Hern sang Pemburu! Aku Cernunnos! Aku sang manusia hijau yang abadi! ---halaman 44

Conor tidak memercayai apa yang terjadi padanya. Namun, sang monster meninggalkan jejak-jejak, berupa ranting dan dedaunan di kamarnya, dan buah beri pada lain kesempatan. Sangat sulit bagi Conor untuk menyangkal keberadaan benda-benda tersebut.


Sang monster datang di waktu yang sama, pukul dua belas lewat tujuh menit. Meskipun mulanya ia merasa ketakutan, tapi pada akhirnya ia menerima keberadaan monster tersebut yang berjanji akan pergi setelah menceritakan tiga kisah padanya, dan satu kisah yang akan diceritakan Conor padanya.

Kisah adalah makhluk liar, kata sang monster. Begitu kau melepaskan mereka, siapa yang tahu kekacauan apa yang mungkin mereka ciptakan. ---halaman 61

Di sekolah, Conor mengalami pem-bully-an oleh teman sekelasnya. Itu dikarenakan seorang anak perempuan teman ibunya memberitahukan kondisi sang ibu hingga berita itu tersebar ke sepenjuru sekolah. Tatapan iba dan pemakluman pun dirasakan olehnya. Ia benci mendapatkan perlakuan istimewa seperti itu, yang membuat Conor semakin membenci keadaan yang menimpanya.


Pada akhirnya, Conor harus memaksakan dirinya untuk melengkapi kisah sang monster, dengan menceritakan kisah keempat, yang menjadi alasan mengapa monster itu datang kepadanya.



***


Novel ini memang memiliki sentuhan fantasi, meskipun mulanya saya mengira sepenuhnya berkisah tentang fantasi. Apalagi, judulnya ada kata monsternya, dan ilustrasi di sampul maupun di dalamnya terkesan suram. Andai saya tahu bahwa kisah utamanya adalah tentang seorang remaja yang berkutat dengan kisah bersama ibunya yang menderita kanker, tentu saja akan membacanya sejak dulu.


Berkisah tentang Conor dan monster yang tak sengaja datang karena panggilannya, serta ketakutan demi ketakutan tentang keadaan ibunya yang kian parah. Lebih dari itu, ini adalah cerita tentang bagaimana Conor menyikapi kehidupannya yang tidak berjalan sebagaimana anak seusianya menjalani hidup mereka.

A Monster Calls adalah buku Patrick Ness pertama yang saya baca, dan saya menyukainya. Kisah Conor benar-benar menyentuh hati. Saya menikmati interaksi antara Conor dan si monster, juga tentang kisahnya dan sang ibu. Apalagi, cerita tentang Lily pun berhasil membuatku mengerti kenapa Conor benar-benar membencinya. Menjadi sorotan memang tidak menyenangkan. Apalagi, jika alasan di balik itu berhubungan dengan tragedi yang menimpa kita.

Tadi sudah saya sebutkan bahwa ilustrasi di novel ini suram. Meskipun begitu, harus saya akui bahwa ilustrasinya keren. Ditunjang dengan penataan lay-out yang juga tak kalah kerennya.


Screenshoot dari aplikasi SCOOP

Saya ikut belajar memaknai banyak hal tentang kehidupan dari novel ini. Apalagi, tiga dongeng yang diceritakan oleh si monster menyiratkan banyak makna. Pun begitu juga dengan alasan di balik munculnya monster tersebut dalam kehidupan Conor O'Malley.



Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Judul : Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto---The Magic Strings of Frankie Presto
Penulis : Mitch Albom
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 576 Halaman
Cetakan Pertama, September 2016
(Cetakan pertama versi buku asli, November 2012) 
ISBN : 978602033809
Rating : 4 dari 5


Dalam hidup ini setiap orang bergabung dengan band. Dengan satu atau cara lain, band itu pun bubar. ---halaman 141

***
Blurb:

Semua manusia berbakat musik. Jika tidak, mengapa Tuhan memberimu jantung yang berdenyut?

Melalui kecintaannya pada musik, Mitch Albom menyusun novel indah tentang pengaruh bakat dalam mengubah hidup manusia.

Inilah kisah epik tentang Frankie Presto––gitaris paling hebat yang pernah ada––dan enam kehidupan yang diubah melalui enam dawai biru gitarnya.

Frankie lahir di gereja yang terbakar, bayi yatim-piatu yang dididik oleh seorang guru musik di kota kecil di Spanyol. Perang menghancurkan hidupnya, dan pada usia sembilan tahun dia diselundupkan ke Amerika di dalam perahu. Harta Frankie satu-satunya adalah gitar tua dan enam dawai berharga. Frankie merambahi khasanah musik tahun 1940, 1950, dan 1960-an dengan bakatnya yang luar biasa sebagai gitaris dan penyanyi yang memengaruhi bintang-bintang pada zaman itu, (Duke Ellington, Hank Williams, Elvis Presley), sampai akhirnya dia pun menjadi bintang tenar.

Namun bakat luar biasa ini juga menjadi beban ketika Frankie menyadari petikan gitarnya, musiknya, dapat memengaruhi kehidupan orang-orang lain. Pada puncak ketenarannya, dia membuat satu kesalahan, dan merasa bersalah. Dia menghilang. Legendanya berkembang. Berpuluh tahun kemudian, setelah hatinya pulih, dia muncul kembali untuk mengubah satu kehidupan terakhir.

Dalam buku ini, Musik menjadi sang Narator, dan melalui tutur katanya kita diajak melongok ke dalam banyak kehidupan yang diubah oleh sang gitaris yang dawai-dawainya sanggup menyentuh jiwa musik di dalam diri kita semua.

***



Frankie Presto kecil lahir di sebuah gereja ketika sebuah pergolakan terjadi di sana. Suara pertama yang didengarnya adalah nyanyian sang ibu, yang begitu melekat di alam bawah sadar Frankie. Perjalanan hidupnya tidak mulus. Ia pernah dibuang di sungai dan ditemukan oleh seorang pria yang menjadi ayahnya. Namun, matanya nyaris buta karena terkena air sungai yang asin semasa bayinya. Sang ayah merasa khawatir dengan masa depan anaknya itu. Ayahnya lalu ingat dengan seorang pemusik buta yang pernah ditemuinya di suatu tempat. Maka ayahnya memutuskan untuk mengajarkan sang anak tentang musik agar setidaknya, jika ia nantinya tidak dapat melihat, ia punya bekal untuk menghadapi masa depannya.

Bersama Maestro sang guru, Frankie memiliki kisahnya sendiri. Ia belajar banyak hal tentang musik pada gurunya itu. Ia yang memiliki bakat bermusik alami, menjadi semakin terasah dan bahkan bisa dikatakan mahir. Namun sayang, pertemuan itu tidak bisa berlangsung selamanya. Ia harus menjalani kehidupan berat berpindah negara dan mencari uang dari bermusik. Ia bertemu dengan banyak orang yang berarti dalam kehidupannya; orang yang dicintainya, musisi terkenal, orang-orang yang mengubah hidupnya, sebelum Frankie menapaki jalan kesuksesan yang gilang-gemilang dalam sejarah musik dunia.

Namun, sebuah kesalahan dilakukannya dan itu membuat Frankie harus membayar mahal kehidupannya. Jika orang lain menganggap popularitas dan harta adalah tujuan utama dalam kesuksesan, kau harus melihatnya dari sudut pandang Frankie untuk memahami tenang makna kebahagiaan. 

***

Dalam hidup ini setiap orang bergabung dengan band. Beberapa dari antaranya menghancurkan hatimu. ---halaman 524

Ini adalah perjalanan panjang kisah seorang Frankie Presto sejak ia lahir hingga meninggal. Buku kedua yang saya baca tentang seseorang dengan rentang yang begitu panjang yang mengisahkan cerita kehidupannya, setelah And The Mountains Echoed. Buku setebal 576 halaman ini saya baca versi ebook-nya meskipun saya punya buku fisiknya. Saat sudah memasuki bab akhir, tab saya ketinggalan di tempat kerja dan akhirnya saya membuka plastik pembungkus buku cetak dan melanjutkan baca di sana. Hahaha. Itu dia sekelumit cerita tentang proses membacanya.

Nah, sekarang, saya akan cerita tentang isi buku ini.

Yang unik dari kisah ini adalah, kisah utamanya diceritakan oleh sudut pandang Musik. Ya, musik yang bercerita tentang bagaimana ia menemukan bakat dirinya pada sosok Frankie. Ia pula yang memiliki kisah detail kehidupan Frankie bahkan sebelum Frankie lahir ke dunia. Selain oleh Musik, kisah ini pun terjadi dari beragam sudut pandang orang-orang yang mengenal Frankie, dan yang hidupnya berubah karena Frankie. Disajikan sepotong demi sepotong dengan setting sebelum pemakaman Frankie berlangsung, membuat konten cerita tentang kehidupan si tokoh utama ini tersaji dengan utuh. Dengan berbagai dimensi persepsi tentang eksistensi Frankie dalam hidupnya.

Buku ini terbagi menjadi enam bagian yang diwakili oleh enam dawai ajaib Frankie Presto yang diberikan gurunya sebelum mereka berpisah. Dawai ini berubah menjadi biru pada waktu-waktu penting dalam hidupnya. Dan setiap ia menemukan hal tersebut, satu babak dalam kehidupannya selesai.

Seperti halnya novel-novel Mitch Albom lainnya, Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto ini menyuguhkan banyak sekali perjalanan hidup yang bisa kita tuai maknanya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tersaji dalam hubungan Frankie denga tokoh-tokoh yang lain. Kisah Frankie dan sang Maestro, guru bermusiknya, memberikan semangat dan kisah tentang menghadapi kehidupan dengan sebaik-baiknya meskipun kau mengalami keterbatasan. Obrolan-obrolan mereka sarat makna, yang berhasil menyentuh hati para pembacanya.

"Dengar Francisco. Kaupikir aku ingin hidup dalam kegelapan? Kaupikir aku tidak ingin melihat jemariku, fret dan tuas dawai gitarku, bukannya meraba-raba ke sana kemari seperti hewan tersesat?"
"Tidak, Maestro."
"Tidak, aku memang tidak ingin. Tapi inilah hidup. Kita bakal kehilangan. Kau harus mulai belajar lagi berkali-kali---atau kau bakal tak berguna." ---halaman 374

Pertemuan dan perjalanan cinta Frankie pun, memberikan tidak hanya kisah percintaan semata, melainkan juga pelajaran hidup bermakna di dalamnya.

"Kapan kali terakhir kau pulang ke rumah?"
Jawabnya "Aku tidak punya rumah."
Kataku lagi, "Setiap orang punya tempat ke mana dia pulang."
Katanya, "Itulah sebabnya aku menunggu istriku." ---halaman 396

Ditambah dengan pengetahuan seputar musik, membuat pengetahuan pembaca semakin diperkaya saat membaca novel ini. Persembahan yang apik dari Mitch Albom untuk pembacanya.
"Namun, semua kisah cinta adalah simfoni.
Seperti simfoni pada umumnya, kisah cinta juga memiliki empat irama:
- Allegro, pendahuluan yang cepat dan lincah
- Adagio, perubahan yang lambat
- Minuet/Scherzo, ketukan pendek dengan irama 1/4
- Rondo, tema yang terus berulang, diselingi berbagai bagian singkat" ---halaman 301

Lima ratusan halaman novel ini, berhasil menjerat pembaca dengan kisahnya yang mengharukan. Bahkan, dari setiap tokoh-tokoh yang memberikan kenangan mereka tentang Frankie pun, kita diajarkan secara tidak langsung tentang sebuah pengajaran penting dalam kehidupan. Tentang bagaimana kesan yang akan diberikan orang lain kepadamu, saat ia tiada nantinya.

Kemudian aku ingat bagaimana Frankie bicara tentang gadis kecilnya. Dia ternyata benar. Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun. ---halaman 439

Akhir kata, saya menutup ulasan ini dengan sebuah pengakuan:

Ketika Frankie Presto meninggalkan bakat-bakatnya kepada para penerusnya, memberikan sentuhan musik pada orang-orang dalam hidupnya, saya rasa Mitch Albom sudah melakukan hal yang sama, oleh dirinya, kepada orang-orang yang membaca bukunya. Kekuatan kata yang mengalir dalam diri seorang Mitch Albom, seperti kekuatan dan cinta musik pada Frankie Presto.

Kau tidak akan pernah tahu betapa seseorang begitu dalam mempunyai ikatan tertentu dalam hidupnya. Barangkali, ikatan dalam hidup saya yang berhubungan dengan Mitch Albom adalah, betapa saya senang bisa menikmati karya-karya beliau, dan merasakan betapa tulisannya begitu memengaruhi beberapa bagian dalam hidup saya.

Mitch Albom adalah penulis kedua yang saya doakan agar dilapangkan kuburnya kelak.

Ada lagu-lagu yang kaumainkan dan harus kauulangi lagi. Ada juga yang ingin kaumainkan dengan bear tetapi tidak pernah berhasil. Namun, ketika lagu iu telah dimainkan dengan sempurna, tidak ada lagi yang peerlu kaulakukan. ---halaman 286

Semua Ikan di Langit

Judul : Semua Ikan di Langit
Penulis : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit : Grasindo
Tebal Buku : 259 Halaman
Cetakan Pertama, Februari 2017
ISBN : 9786023758067
Rating : 4 dari 5



"Kebahagiaan Beliau melahirkan bintang.
Kesedihan Beliau membunuh keajaiban.
Kemarahan Beliau berakibat fatal."
***

Blurb:

"Pekerjaan saya memang kedengaran membosankan— mengelilingi tempat yang itu-itu saja, diisi kaki-kaki berkeringat dan orang-orang berisik, diusik cicak-cicak kurang ajar, mendengar lagu aneh tentang tahu berbentuk bulat dan digoreng tanpa persiapan sebelumnya—tapi saya menggemarinya. Saya senang mengetahui cerita manusia dan kecoa dan tikus dan serangga yang mampir. Saya senang melihat-lihat isi tas yang terbuka, membaca buku yang dibalik-balik di kursi belakang, turut mendengarkan musik yang dinyanyikan di kepala seorang penumpang… bahkan kadang-kadang, menyaksikan aksi pencurian. 

Trayek saya memang hanya melewati Dipatiukur-Leuwipanjang, sebelum akhirnya bertemu Beliau, dan memulai trayek baru: mengelilingi angkasa, melintasi dimensi ruang dan waktu." 

***

Ikut PO dan dapat tanda tangan, hehe


Mungkin ada spoiler di dalam sini. Saya tidak tahu apakah ulasan saya ber-spoiler atau tidak (makanya saya berikan kata "mungkin" di kalimat sebelumnya). Karena, sewaktu saya menceritakan kesan terhadap buku ini ke teman, dia bilang saya lagi spoiler-in dia =)) Padahal saya tidak bermaksud demikian dan sebelumnya, tidak menganggap itu adalah pernyataan yang membocorkan plot penting dalam cerita. Maafkan saya kalau begitu :D Jadi, saya peringatkan kalian terlebih dahulu, ya.

Disadari atau tidak, setiap penulis adalah tuhan bagi ceritanya. Mereka menciptakan plot dan membuat jalinan takdir bagi tokoh-tokoh di dalamnya. Mereka menggerakkan karakter tersebut dengan sebab-akibat yang sudah dirancang dengan niat, membiarkan sepercik takdir untuk menghiasi kisah-kisah itu. Mereka pula yang memberikan akhir yang menutup lembaran kisah tersebut. Setidaknya, kesadaran itulah yang saya dapatkan ketika selesai membaca Semua Ikan di Langit karya Ziggy yang ini.

Semua elemen cerita dalam kisah di dalamnya, berisi tentang imajinasi tentang banyak hal. Mulanya, kau akan mengira bahwa ini adalah kisah fantasi biasa, yang disajikan dalam sudut pandang saya yang adalah sebuah Bus Damri (selanjutnya saya juga akan menyampaikan dengan nama lain: Saya) jurusan Dipatiukur-Leuwipanjang. Namun, dalam perjalanannya, kau akan menemukan makna. Banyak makna dan alegori tentang kehidupan tersaji dengan indah di sini; makna baik dan buruk, tentang cinta dan benci, ketakutan-ketakutan, dan tentang penghambaan pada Tuhan. Cerita tentang spiritualitas manusia disampaikan melalui analogi-analogi yang berada pada sudut pandang tokoh yang tidak lazim: Bus Damri, kecoa, bahkan seorang anak kecil.

Saya merasakan kesusahan ketika sedang menggarap ulasan ini. Bagaimana tidak, bahkan ketika membacanya pun, ledakan emosi yang muncul dari saya serupa roller coaster sedang bergerak menjalani lintasannya yang tidak lazim. Ada titik di mana saya memahami konteks yang sedang Ziggy bicarakan, ada pula kalanya saya begitu takut, teramat sangat takut dengan kedewaan imajinasi penulis yang begitu mencengangkan. Lalu, pada akhirnya, sebuah pemahaman muncul yang membuat saya memberikan apresiasi besar pada karya ini. Dengan pemahaman menyeluruh dari elemen buku ini, saya rasa PANTAS (dengan huruf kapital) buku ini menjadi pemenang utama (dan satu-satunya) dalam Sayembara Novel DKJ. Ya, komentar ini memang belum valid karena saya belum membaca novel pemenang unggulan lainnya sebagai pembanding novel ini. Namun, melihat keseluruhan kisah ini, saya bisa memastikan bahwa Semua Ikan di Langit melampaui ekspektasi tentang dimensi-dimensi kelayakan sebuah karya menjadi juara. Mulai dari plotnya yang teramat sangat tidak biasa, lalu kemampuan penulis dalam meramu ceritanya, dan ketepatan penulis dalam merancang universe dalam ceritanya.

Sebuah cerita fantasi tidak dikatakan absurd (meskipun tidak nyata dan tidak masuk akal), ketika elemen-elemen yang dikandungnya tersaji dengan logis. Bus Damri tidak hanya sekadar sebuah benda mati ketika penulis memberikan nyawa padanya. Kemampuan membaca pikiran manusia dari lantai yang dipijak mereka (dan ini konsisten dengan tokoh Beliau yang tidak pernah menginjakkan kaki di sana sehingga Saya tidak bisa membaca isi kepala Beliau), Saya yang menangis melalui kaca spion, Saya yang ketika marah menyemburkan asap dari knalpot, dan masih banyak perilaku manusia lain yang dilakukan oleh Saya ini. Lalu, kekonsistenan Nad si Kecoa yang cerdik, sehingga membantu Saya menginterpretasikan ruang dan waktu yang tengah berjalan saat itu. Bagi saya, selama membaca Semua Ikan di Langit, saya menikmati berfantasi bersama Ziggy dengan tidak mengeluhkan plot hole atau kerancuan kontennya di sana.

Perjalanan Saya yang begitu biasa, melintasi trayek Dipatiukur-Leuwipanjang yang dipenuhi oleh manusia-manusia dengan segala macam isi pikiran mereka, menjadi tidak biasa ketika Beliau datang dan menjadi salah satu penumpangnya. Saya tahu bahwa Beliau istimewa ketika Saya menyadari Beliau tidak menginjakkan kaki di lantai bus sehingga Saya tidak bisa mengintip isi pikiran Beliau. Sesuatu yang tidak biasa tentu memancing rasa penasaran, kan? Bahkan jika yang mengalaminya sebuah bus damri. Perjalanan itu menjadi luar biasa ketika Beliau mengajak Saya pergi bertamasya melintasi ruang dan waktu bahkan hingga sampai ke angkasa luar. Tamu mereka pertama adalah seekor kucing dari kamar paling berantakan di seluruh dunia (saya yang kamarnya tidak pernah rapi merasa tersindir, haha). Dan dari pertemuan-pertemuan lainnya, Saya berkenalan dengan Nad, seekor kecoa yang anaknya sudah mati menjadi ikan julung-julung yang mengikuti Beliau ke mana saja. Lalu, perjalanan itu terus saja berlangsung, menemukan mereka dengan tokoh-tokoh lain dan cerita-cerita luar biasa para penumpangnya.

Nah, mungkin di bagian ini spoiler-nya:

Seperti yang saya katakan di awal, bahwa seorang penulis adalah tuhan bagi kisahnya. Namun, bagaimana jika seorang penulis menciptakan tuhan dalam tulisannya? Awalnya saya membaca tulisan tentang ulasan novel ini yang mengatakan bahwa semoga tidak dianggap "penistaan" tentang novel ini. Si penulis ulasan membubuhkan tanda kutip di sana. Saya pun memberikan tanda kutip di sini. Pada akhirnya, setelah membaca bab tertentu menjelang akhir, lalu saya paham apa yang dimaksud dengan kalimat itu. 

Interpretasi saya tentang Beliau menjadi secerah mentari ketika saya menyadari bahwa Beliau ini adalah sosok pengandaian ilahiah (mengutip kata Raafi dalam ulasannya tentang buku ini). Saya terperenyak cukup lama saat kesadaran itu tiba. Wah. Bagaimana bisa demikian? Bagaimana mungkin bisa mencipta Tuhan yang menginterpretasikan sifat Tuhan dalam wujud manusia? Dan bagaimana-bagaimana lainnya yang mengganggu benak saya sehingga saya memutuskan untuk break cukup lama saat membacanya. Lalu, setelah jeda waktu tersebut, saya kembali melanjutkan membaca novel ini. Ketakukan saya tentang sosok Tuhan dalam anak kecil tersebut perlahan sirna ketika saya mencoba mengubah sudut pandang dan meletakkannya di kotak "fantasi" alih-alih menempatkan Beliau sebagai manifestasi tuhan. Dan dengan pengubahan sudut pandang itu, syukurlah melahirkan banyak pemahaman-pemahaman baru dalam diri saya. Tentang bagaimana alegori yang tersaji dalam bus damri dan kecoa itu melahirkan sebuah gagasan tentang konsep ketuhanan yang pada dasarnya melekat dalam diri setiap manusia. Tentang pembangkangan dan cara mereka memancing murka Tuhan, yang dalam kitab suci pun tersampaikan dengan jelas (tentang kisah sapi betina maupun kaum Bani Israel, misalnya). Namun sayangnya, manusia zaman sekarang ada yang alergi jika diberikan kisah-kisah dalam sudut pandang agama. Meskipun, konten dan maksud cerita itu sama. Pada kisah ini, cerita-cerita tersebut tersaji dalam balutan imajinasi fantastis dengan (yang saya dapatkan dan rasakan) maksud sama. 

Terkesan berat, ya? Hahaha. Tapi, percayalah, ketika kau masuk ke dalam bus damri dan ikut melakukan perjalanan dengan Saya, Nad, dan Beliau, kau akan terbang bersama mereka, melintasi pemahaman demi pemahaman tentang konteks keilahian di sana. Kalaupun kau memilih tidak percaya pada muatan teologis yang tersaji di dalam kisah ini, kau hanya cukup duduk diam dan menikmati isi kepalamu dibaca dengan jelas oleh Saya, si Bus Damri gendut yang begitu mencintai Beliau sehingga Beliau pun mencintai Saya dengan segitu besarnya.

Kalau dibandingkan dengan Di Tanah Lada, jelas Ziggy naik kelas dengan lonjakan prestasi yang luar biasa.

Tambahan: Ilustrasinya cantik banget! Kusuka! Kusuka!



Gambar diambil dengan screenshot dari aplikasi SCOOP






Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)