Showing posts with label Amerika. Show all posts
Showing posts with label Amerika. Show all posts

Falling into Places

Judul : Falling into Places
Penulis : Amy Zhang 
Penerbit : POP
Tebal Buku : 327 Halaman
Cetakan Pertama, Oktober 2016
(versi bahasa asli, terbit perdana September 2014)
ISBN : 9786024241995
Rating : 5 dari 5




Blurb:

Di hari ketika Liz Emerson mencoba bunuh diri, Hukum Gerak Newton dibahas di kelas Fisika. Kelembaman, gaya, massa, gravitasi, kecepatan, percepatan... semua itu belum masuk benar ke kepalanya, tetapi seusai sekolah Liz mempraktikkan hukum-hukum itu dengan melajukan mobilnya ke luar jalan raya.

Kini Liz terbaring sekarat di rumah sakit, dan dia bisa meninggal kapan saja. Seperti halnya Liz tidak memahami Hukum Gerak Newton, orang-orang juga tidak memahami kenapa kejadian nahas ini menimpa Liz Emerson, gadis paling populer dan paling tangguh di Meridian. Tetapi aku paham. Aku bersamanya sewaktu mobil menabrak pagar pembatas jalan dan berakhir di dasar bukit. Aku paham kenapa kami jatuh bebas di tempat itu di minggu ketiga bulan Januari. Aku tahu alasan Liz mengakhiri hidupnya. Aku paham kesedihan yang dialami Liz, alangkah kesepiannya dia dan betapa hancur hatinya.

Setiap aksi menghasilkan reaksi. Namun Liz Emerson tidak perlu lenyap dari dunia ini, bukan? 

***

Amy Zhang benar-benar menerapkan konsep Hukum III Newton saat menuliskan buku ini; hukum sebab-akibat. "Setiap aksi menghasilkan reaksi yang sama besar dan berlawanan arah."

Sewaktu membaca paragraf awal buku ini, saya sudah disuguhkan dengan pembukaan spektakuler seperti ini:

Di hari ketika Liz Emerson mencoba bunuh diri, Hukum Gerak Newton dibahas di kelas Fisika. Kemudian, seusai sekolah, Liz mempraktikkan hukum-hukum itu dengan melajukan Mercedes-nya ke luar jalan raya.

Setelahnya, upaya evakuasi dan penyelamatan Liz disampaikan dengan teknik show yang memikat, meninggalkan kesan nyata beserta kepanikan, ketakutan, kecemasan, yang mengikutinya. Bagaimana nasib Liz? Apakah upayanya mengakhiri hidup bakal berhasil? Atau justru dia masih akan hidup lebih lama lagi? Yang jelas, sebuah panggilan telepon ke kantor polisi berhasil mencegah keadaan menjadi semakin fatal. Meskipun, berada di antara hidup dan mati dengan keyakinan untuk bertahan yang setipis kulit ari, rasanya menyedihkan.

Alur cerita bergerak maju dan mundur dengan penceritaan yang menarik, menguak sisi kehidupan Liz seolah seperti mengupas bawang. Pembaca dibawa mengenal Liz Emerson, seorang pelajar populer di Meridian, sosok yang dinilai sempurna oleh kawan-kawannya. Pembangkang, penguasa, dan segala hal sematan lainnya yang membuat Liz dan kedua temannya, Julia, dan Kennie, menjadi dikenal seantero sekolah. Apa yang membuat Liz memutuskan bunuh diri? Kesepian. Bagaimana Liz bisa merasa kesepian jika dia dikelilingi oleh sahabat yang menyayanginya, dan Liz sering berpindah dari satu keramaian ke keramaian lain? Satu pesta ke pesta lainnya? Mengapa Liz bisa memutuskan mengakhiri hidupnya hanya karena perkara se-"cemen" kesepian? Barangkali itulah yang ingin disampaikan penulis kepada karakternya. Bahwa pembaca seolah dibawa untuk "menghakimi" karakter Liz yang seperti itu. 

Namun, ketika pembaca dibawa untuk mengenal Liz lebih dalam, tentang peristiwa-peristiwa yang mengguncang kehidupannya, Liz yang semena-mena berubah menjadi Liz yang lain, sosok yang selama ini ditutupinya, yang tidak ingin diketahui orang lain. Hukum sebab-akibat membentuk Liz menjadi dirinya sekarang. Cerita tentang mendiang ayahnya, seorang teman masa kecil korban perisakan yang turut membentuk karakternya, apa yang terjadi dengan orang-orang dekatnya, pada kedua sahabatnya, dan banyak kisah-kisah lainnya. Seorang yang terlihat cerita, bahagia, tapi jiwanya kosong. Dia kesepian, dan malangnya, pembaca dapat turut merasakan bagaimana Liz menjalani kehidupannya dalam sepi. Bahkan dalam setiap keputusan-keputusan yang dipikirkannya, ada gejolak yang bisa dirasakan pembaca saat menyelami kisah Liz.

Sampai pada akhirnya, Liz merasa bahwa dirinya tidak pantas berada di atas bumi dengan milyaran manusia baik lainnya. Semua perilakunya seolah menggema di dalam isi kepalanya. Segala yang terjadi atas campur tangannya muncul dalam kesepian-kesepian yang mencekamnya itu. 

Liz tidak menyadari bahwa reaksi yang sama besar dan berlawanan arah adalah ini: setiap perbuatan kejam, jahat, dan dengki yang pernah Liz lakukan terpental kembali kepadanya.

Padahal, hidup tidak sesederhana itu. Bahwa banyak hal yang terjadi, bahkan lebih rumit ketimbang penjelasan tentang hubungan sebab-akibat yang muncul di sana.

Saya acungkan jempol dengan kepiawaian penulis dalam menceritakan kisahnya. Saya bahkan enggan membaca buku ini sepintas lalu. Karena setiap paragrafnya benar-benar berisi, hingga sayang untuk melewatkannya begitu saja. Cara penulisannya mengajarkan saya bagaimana mengolah cerita dengan teknik show yang baik. Semuanya bermakna. Apalagi, menjelaskan sebuah cerita remaja (yang bahkan nggak suka-suka amat sama Fisika) dengan bumbu teori Fisika tentang Hukum Gerak Newton. Penulis bahkan membagi bukunya (secara tidak langsung) dalam tiga tahapan. Yang pertama, tentang Hukum I Newton:

Benda yang diam akan tetap diam, dan benda yang bergerak akan tetap bergerak dengan kecepatan konstan, kecuali ada gaya luar yang bekerja padanya.

Ini merujuk pada keadaan konstan dalam hidup Liz, yang berkaitan dengan hukum kelembaman, atau keadaan menolak perubahan. Lalu beranjak pada Hukum II Newton:

Gaya sama dengan laju perubahan momentum dibagi perubahan waktu. Untuk massa tetap, gaya sama dengan massa dikali percepatan.

Menjelaskan keadaan Liz, di mana dia berupaya untuk melakukan "sesuatu" sebagai upaya menghilangkan dirinya, dan kejahatan atas tangannya. Sayangnya Liz melakukan sesuatu yang salah. Dan yang terakhir, Hukum III Newton:

Setiap aksi menghasilkan reaksi yang sama besar dan berlawanan arah.

Bahwa secara kasatmata, sesuatu erat kaitannya dengan hukum sebab-akibat. Meskipun begitu, Mr. Eliezer memberikan sebuah kalimat penutup dalam sesi mengajarnya: 

"Hidup ini lebih dari sekadar sebab dan akibat."

Liz perlu tahu itu.

Terlepas dari erat kaitannya novel ini dengan Fisika, sesuatu yang menjalin love hate relationship dengan saya, buku ini SANGAT bagus! Disajikan dengan sudut pandang tak biasa (yang mengingatkanku pada film Inside Out), alur maju-mundur yang apik dan mengesankan, serta berhasil membawa pembaca merasa dekat dengan perasaan para tokohnya. (Apalagi ada fisika-fisikanya kan ya, jadi makin jatuh hati dengan buku ini! Dan yah, kapan lagi saya bikin ulasan sambil nyerempet-nyerempet bahas Hukum Newton kan yaaa XD) Bintang lima untuk bukunya! Kalau perlu, pinjam bintang tetangga buat nambahin lagi bintangnya =))

Saya jadi kepingin balik ke masa SMA kalau guru Fisikanya seperti Mr. Eliezer ini :D Dan juga kepingin dengar cerita tentang Liam lebih banyak lagi! (Siapa itu Liam? Baca saja buku ini untuk menemukan jawabannya ;) 

Of Thee I Sing: A Letter to My Daughters

Judul : Of Thee I Sing: A Letter to My Daughters
Tentang Dirimu Aku Bernyanyi: Surat untuk Putri-Putriku
Penulis : Barack Obama
Ilustrasi : Loren Long
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 40 Halaman
Cetakan Pertama, Juni 2011
(Cetakan Pertama Versi Asli: November 2010)
ISBN : 9789792270372
Rating : 4 dari 5



Blurb:

Have I told you
that America is made up
of people of every kind?

Pernahkah kukatakan kepadamu
bahwa Amerika terdiri atas
berbagai macam orang?

***

Have I told you that the are all a part of you?
Have told you that you are one of them,
and you are the future?
And have I told you that I love you?

***

Merinding, baca halaman-halaman terakhirnya T-T

Pada mulanya, saya hanya mengira bahwa ini hanyalah sekadar kumpulan orang-orang hebat yang pernah hadir ke muka bumi, yang diceritakan oleh Barack Obama untuk kedua anaknya. (Ada kisah tentang Albert Einstein, Maya Lin, Neil Armstrong, Abraham Lincoln, George Washington, dan lain-lain, yang masing-masing mereka disampaikan hanya dalam satu paragraf saja.) Karena, tajuk buku ini adalah "Tentang Dirimu Aku Bernyani: Surat untuk Putri-putriku". Semacam kumpulan orang-orang inspiratif yang bisa dijadikan inspirasi sukses untuk anaknya, dari beragam lini kehidupan dan bakat tokoh-tokohnya. Juga disampaikan dengan ilustrasi keren, dan disajikan dwibahasa. 

Namun, ternyata ada benang merah di antara semua orang di dalam buku ini. Benang merah yang membuat saya merinding, membuat saya semakin meyakini bahwa sosok Barack Obama adalah benar-benar seorang yang inspiratif untuk semua orang di dunia. Melalui buku ini, beliau menyampaikan pesan yang luar biasa dalam sebuah kisah yang sederhana.

Have I told you that America is made up of people of every kind?

People of all races, religions, and beliefs.
People rom the coastlines and the mountains.
People who have made bright lights shine by sharing their unique gifts
and giving us the courage to lift one another up, to keep up the fight,
to work and build upon all that is good in our nation.

Sebuah pesan tentang toleransi yang indah <3


Slammed

Judul : Slammed---Cinta Terlarang
Penulis : Colleen Hoover
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 336 Halaman
Cetakan April 2013
(Cetakan pertama versi buku asli, Januari 2012) 
ISBN : 9789792295184
Rating : 4 dari 5




Blurb:

Layken harus kuat demi ibu dan adiknya. Kematian mendadak sang ayah, memaksa mereka untuk pindah ke kota lain. Bayangan harus menyesuaikan diri lagi dengan lingkungan baru sungguh menakutkan Layken. Namun semua berubah, begitu ia bertemu dengan Will Cooper, tetangga barunya.

Will memang menarik. Dengan ketampanan dan senyum memikat, pemuda itu menularkan kecintaannya pada slams––pertunjukan puisi. Perkenalan pertama menjadi serangkaian hubungan intens yang membuat mereka semakin dekat, hingga keduanya bertemu lagi di sekolah...

Sayangnya, hubungan mereka harus berakhir. Perasaan yang mulai tumbuh antara Will dan Layken harus dihentikan. Pertemuan rutin mereka di kelas tak membantu meniadakan perasaan itu. Dan puisi-puisi menjadi sarana untuk menyampaikan suara hati. Tentang sukacita, kecemasan, harapan, dan cinta terlarang mereka. 

***

Layken, ibunya, dan Kel si adik lelakinya yang berusia sembilan tahun, menempuh perjalanan jauh ke Ypsilanti untuk memulai kehidupan baru di sana, di kampung halaman sang ibu. Setelah ayahnya meninggal, kehidupan Layken tidak lagi sama. 

Orang yang pertama kali bersosialisasi dengannya di rumahnya yang baru adalah Will dan adiknya, Caulder. Saat mendapatkan luka kecil karena terjatuh di depan rumahnya, Will datang memberikan pertolongan. Ia bahkan membawa Layken masuk ke dalam rumah untuk mengambil perban dan mengobati luka itu. Begitulah perkenalan mereka selanjutnya. Dan itu masih berlanjut lagi ketika Layken meminta pertolongan untuk mencari toko makanan terdekat. Singkat cerita, mereka mulai sama-sama menunjukkan ketertarikan. Apalagi, ternyata keduanya memiliki kesamaan minat dengan sebuah band yang musik The Avett Brothers. Hingga, Will mengajak Layken ke sebuah pertunjukan Slam, di mana pengunjungnya datang untuk membacakan puisi mereka.

Namun sayangnya, kisah mereka tidak bisa bertahan lama. Sebuah fakta mengejutkan berhasil membuat cerita Layken dan Will harus kandas begitu saja. Karena, apabila mereka meneruskannya, banyak hal yang menjadi pertaruhannya. Bagi Layken, fakta ini benar-benar membuatnya hancur.

Saat ini aku tak mungkin bisa memahami seperti apa rasanya patah hati. Jika patah hati lebih menyakitiku satu persen saja dari yang sekarang kurasakan, aku tidak mau lagi merasakan cinta. Tidak sepadan. ---halaman 86

Dan untungnya, di sekolah baru Layken, ia berkenalan dengan Eddie, si gadis eksentrik yang mempunyai kisah hidup kelam, dan menawarkan sebentuk persahabatan pada Layken. Bersama Eddie, dan puisi itulah, Layken menyuarakan perasaannya kepada Will. Dan bagi Will yang menyukai puisi dan pertunjukan slam, ia juga menyampaikan isi hatinya kepada Layken di sana.

Belum lagi, ternyata banyak fakta baru terkuak, yang membuat kehidupan Layken dan Will tidak semenyenangkan yang seharusnya dirasakan oleh orang-orang seumuran mereka.

***

"Lampauilah keterbatasanmu, Lake. Keterbatasan itu ada untuk dilampaui." ---halaman 253

Saya tidak menyangka bakal suka dengan novel ini, meskipun saya membutuhkan waktu cukup lama untuk menyelesaikannya. Colleen Hoover menyajikan Slammed ditujukan untuk pembaca muda. Ya, senang rasanya membaca novel Hoover yang tidak dibumbui oleh adegan dewasa (horeee... akhirnya...!).

Beriksah tentang Layken--Lake--Cohen dan Will Copper, kisah kedua tetangga ini begitu manis, sarat dengan gejolak dan kegalauan masa muda di usia mereka. Hoover menyajikan kisah mereka dengan takaran yang pas. Dan juga, kedua tokoh ini tampil begitu mencuri perhatian dengan kisah dan karakter mereka masing-masing. Saya suka Lake, tapi saya jauh lebih suka Will. Bahkan Eddie, si tokoh sampingan pun, memiliki karakter dan kisah hidup yang menarik untuk disimak serta menuai simpati. Belum lagi, si dua bocah Kel dan Caulder. Lalu, Julia si ibu Lake. Bisa dibilang, semua karakter yang ada di sini mempunyai konfliknya masing-masing. Namun, dalam 336 halaman buku ini, semua masalah hadir dalam porsi dan waktu yang tepat. Tidak ada yang namanya berlebihan. Semua mempunyai timing-nya tersendiri. Sehingga, semua konflik terjalin dalam balutan kisah istimewa demi menunjang plot utama.

Berdasarkan secuplik informasi yang didapat dari blurb, saya sebagai pembaca novel Hoover tertantang untuk menebak-nebak kiranya apa yang menjadi ganjalan kisah cinta Lake dan Will ini. Kalau kau membaca 9 November yang berhasil menyembunyikan plot twist fantastis dengan apiknya, atau Confess yang juga memiliki plot twist tak terduga sebelumnya, kau pasti mempunyai semacam dugaan, tentang apa yang kiranya menjadikan hubungan ini menjadi cinta terlarang. Saya pun, memiliki beberapa analisis tersebut. Pertama, mungkin Will ada hubungannya dengan kematian (atau kehidupan) ayah Lake dulu. Kedua, barangkali Will memiliki keterkaitan pada Texas, tempat di mana Lake dan keluarganya tinggal sebelum pindah ke Ypsilanti. Namun, anggapan itu terbantahkan sendiri dengan fakta bahwa Will tinggalnya di Ypsilanti dan bahwa pertemuan pertama mereka memang terjadi di sana.

Lalu, kenapa kisah mereka harus berakhir? Jawabannya... sungguh sangat di luar dugaan. Dan akibat fakta ini, bukannya sedih terhadap nasib Lake, saya justru tertawa terbahak-bahak. Hahahaha. Bukannya simpati, saya justru memberikan respons yang... i know that feeling, Will! Hahahaha. Ingin kasihan tapi, ya mau bagaimana, saya justru tertawa. Dan justru, dengan adanya fakta ini, disusul dengan mengetahui kehidupan Will lebih dalam, saya jadi semakin bersimpati dan jatuh hati pada sosok Will. Andai di dunia nyata seperti ini karakter Will benar-benar ada....

(Bagi yang penasaran, saya akan berikan kutipan favorit saya yang mengandung spoiler di goodreads. Yeah, just because di goodreads bisa menyimpan spoiler.)

Saya senang karena di awal novel ini, penulis menyisipkan kutipan lirik-lirik The Avett Brothers. Meskipun saya tidak mendengarkan musiknya dan justru baru mengetahui eksistensi grup band itu, tapi saya suka sekali dengan beberapa liriknya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia itu. Salah satunya:

"Aku terus berkata pada diriku bahwa semua akan baik-baik saja. Kita tidak bisa membuat semua orang bahagia sepanjang waktu." ---The Avett Brothers, Paranoia In B Flat Major

Dan meskipun masih belum tahu kapan membaca kelanjutan serinya, tapi untuk seri pertama yang saya baca ini, saya benar-benar menyukainya. Novel ini bagus dibaca, meskipun masih ada beberapa adegan ciumannya, sih. Di-skip juga tidak masalah kalau memang tidak terlalu suka dengan bagian itu.

Satu pesan dari Julia untuk Layken (dan ini relevan dengan saya atau siapa pun, menurut saya) adalah...

Yang terakhir namun tak kalah penting, dan ini bukan yang paling remeh: Jangan pernah menyesal. ---halaman 333



Confess

Judul : Confess
Penulis : Colleen Hoover
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 376 Halaman
Cetakan Pertama, Mei 2016
(Cetakan pertama versi buku asli, Maret 2015) 
ISBN : 9786020328010
Rating : 3 dari 5



Blurb:

Pada umur 21 tahun, Auburn Reed sudah kehilangan segalanya. Ingin memperjuangkan kembali hidupnya yang berantakan, Auburn pun menetapkan tujuan agar tak menyisakan ruang bagi kesalahan. Namun ketika masuk ke galeri seni di Dallas untuk mencari pekerjaan, Ia malah jatuh hati pada sang seniman misterius, Owen Gentry.

Sekali ini saja, Auburn mengambil kesempatan dengan menyerahkan hatinya, hanya untuk mengetahui Owen menyembunyikan rahasia besar; masa lalu yang mengancam akan menenggelamkan seluruh usaha Auburn selama ini.

Demi menyelamatkan hubungan mereka, Owen hanya perlu mengaku. Namun, pengakuan tak selalu lebih baik, terutama jika kenyataan hanya akan menyakiti lebih banyak pihak. 

***

Auburn Reed, mengalami hari yang berat semenjak kepindahannya ke Dallas. Ia terpaksa pindah dari Texas, memulai kehidupan baru di sana. Ia mendapatkan kontrakan dan juga pekerjaan. Namun, ia membutuhkan uang untuk menyewa pengacara dan memenangkan sebuah tuntutan.

Auburn menemukan satu lowongan pekerjaan aneh yang "menjebaknya" dalam suatu kehidupan baru. Si seniman misterius, Owen Gentry, menawarkannya pekerjaan selama satu malam itu saja sebagai pegawai galeri seni miliknya yang tidak buka setiap saat. Sementara, Owen, mengalami keterkejutan karena bertemu lagi dengan Auburn. Owen adalah seorang pelukis. Di galerinya, ia menjual lukisan hasil dari pengakuan orang. Ia meletakkan kotak pengakuan di galeri miliknya, lalu melukis dengan menggunakan kalimat pengakuan tersebut sebagai inspirasi.

Tidak hanya tertarik dengan konsep pengakuan dalam galeri Owen, Auburn ternyata perlahan-lahan masuk ke dalam kehidupan pria dengan nama tengah sama dengannya itu; Mason. Pertemuan demi pertemuan yang terjalin oleh mereka, membuat Auburn terpaksa membuka hatinya kembali untuk Owen, setelah bertahun-tahun ia menutupnya selepas meninggalnya Adam, cinta pertama Auburn.

Dan ketika mereka sudah semakin dekat, lapisan-lapisan rahasia terkuak dalam diri mereka menjadikan sebuah tantangan besar menyangkut masa depan kisah mereka berdua.

***

Pengakuan yang Anda baca di dalam novel ini pengakuan sungguhan, dikirimkan tanpa nama oleh para pembaca. Buku ini didedikasikan untuk kalian semua yang menemukan keberanian untuk membagi pengakuan-pengakuan.

Setelah membaca 9 November, saya memutuskan untuk membaca novel-novel karya Colleen Hoover lainnya. Dan karena ada beberapa judul novel Hoover yang berseri, saya memilih membaca Confess terlebih dahulu, yang berdiri sendiri. Kesannya, masih sama seperti kesan saya terhadap Colleen Hoover sebelumnya, meskipun saya masih terpesona dengan plot twist 9 November yang begitu fantastis (dan buku ini, meskipun plotnya tidak mudah tertebak juga, tapi belum sefantastis 9 November). 

Oke, saya akan berhenti untuk membanding-bandingkan lagi.

Bab awal buku ini saya rasakan cukup membosankan, bahkan perasaan itu cukup lama bertahan hingga di seperempat bagian. Namun, begitu plot twist-nya terungkap, ketertarikan saya mulai muncul lagi. Dan hingga buku ini berakhir, saya masih bisa menikmatinya. 

Confess menyajikan premis yang unik dan lain dari biasanya: tentang sebuah karya yang lahir dari pengakuan-pengakuan anonim. Jika dikira kehadiran pengakuan itu hanya sekadar untuk menemani jalan cerita, nyatanya tidak demikian. Pengakuan-pengakuan itu bahkan muncul jauh sebelum kisah ini bermula, dan menemani pembaca menyingkap isi cerita ini yang masih tersembunyi.

Untuk karakternya sendiri, saya bisa merasakan bagaimana karakter ini terbangun dan berjalan memengaruhi cerita. Saya suka sosok Auburn yang mempertahakan haknya yang tercerabut. Saya suka Owen dan cerita tentang hidupnya. Saya suka bagaimana interaksi Auburn dan Owen yang manis, meskipun kisah yang mereka hadapi tidak selamanya manis dan menyenangkan.

Adegan dewasa masih ada, meskipun tidak sebanyak dan seekstrem 9 November dalam penggambarannya. Jadi, masih oke. Mau di-skip pun, tidak mengganggu atau kehilangan esensi cerita :) Anyway, ilustrasinya cakep-cakep.



Of Mice and Men

Judul : Of Mice and Men---Tikus dan Manusia
Penulis : John Steinbeck
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 144 Halaman
Cetakan Pertama, Februari 2017
(Cetakan pertama versi buku asli, 1937) 
ISBN : 9786020337814
Rating : 4 dari 5



Blurb:

Suara George menjadi lebih dalam. Ia mengulangi kata-katanya dengan berirama, seolah ia sudah begitu sering mengucapkan kata-kata ini. 

"Orang-orang seperti kita, yang bekerja di peternakan, adalah orang-orang paling kesepian di dunia. Mereka tidak punya keluarga. Mereka tidak cocok di tempat mana pun. Mereka datang ke peternakan dan bekerja keras lalu pergi ke kota dan menghamburkan hasil kerja keras mereka, lalu setelahnya mereka banting tulang lagi di peternakan lain. Mereka tidak punya cita-cita." 

Kisah kontroversial tentang persahabatan dan tragedi pada masa-masa Depresi Besar. Mereka pasangan yang tidak lazim. George bertubuh kecil, berwajah muram; Lennie bertubuh besar dan pikirannya seperti anak kecil. Mereka adalah keluarga bagi satu sama lain, saling bantu, saling menjaga di tengah kehidupan berat sebagai pekerja musiman. Mereka punya mimpi: ingin membeli sepetak tanah untuk ditanami, dan pondok kecil. Ingin menjadi tuan atas diri sendiri. Tetapi nasib berkata lain. 

***

George dan Lennie kabur dari peternakan, dan menuju ke peternakan lain. Di tempat sebelumnya, Lennie membuat masalah besar, dan George menyelamatkannya. Mereka berdua kabur dari sana, dan berharap mendapatkan kehidupan baru yang jauh lebih baik di tempat baru nantinya. Lennie mempunyai sedikit masalah. Ia tidak memiliki kecerdasan seperti orang normal. Ini yang sering menempatkan keduanya dalam situasi yang tidak menguntungkan.

George memberikan instruksi kepada Lennie, tentang apa yang harus dilakukannya nanti di peternakan baru. Atas kejadian yang pernah terjadi di tempat sebelumnya, Lennie diminta untuk tidak banyak berbicara nanti. Ia harus mengiakan perkataan George, menaati perintah George, agar kejadian tersebut tidak terulang lagi. Bahkan, sebagai antisipasi, George menunjukkan tempat kepada Lennie, untuk ia tuju, jika sesuatu yang buruk terjadi.


Lennie, adalah seseorang yang berhati lembut, tapi tidak selaras dengan postur tubuhnya yang besar. Dia senang memelihara tikus, mengelus-elus tubuhnya, dan selalu tanpa sengaja membuat tikus-tikus itu mati. Lennie mampu mengerjakan pekerjaan fisik jauh lebih baik dari siapa pun. Itu pula yang biasanya membuat ia dipertahankan di pekerjaan pada peternakan.

"Dia orang baik. Orang tidak harus cerdas untuk jadi orang baik. Sepertinya menurutku kadang justru sebaliknya. Orang yang cerdas biasanya bukan orang baik." ---halaman 58

Meskipun ingatannya payah dan pemahamannya minim, tapi Lennie selalu mengingat ucapan-ucapan George tentang cita-cita mereka: Mempunyai ladang sendiri, dengan rumah yang akan mereka kelola, peternakan dan pertanian yan akan menghidupi keduanya, dan kelinci yang bisa menggantikan tikus-tikus yang mati karena sentuhan Lennie.

Namun, impian memiliki kehidupan menyenangkan dan menenteramkan bagi George dan Lennie, adalah sebuah hal yang utopis. Kehidupan kaum pekerja yang keras, dengan gaji yang tidak seberapa dan beban kerja tinggi, menjadi impian belaka bagi kaum pekerja di masa itu. Dan ketika impian itu didengar oleh rekan pekerja mereka lainnya, dan mereka bersekutu untuk mewujudkannya, apakah itu akan terwujud? 

***

Novel ini merupakan alegori sosial yang terjadi di masanya. Menceritakan tentang dua orang manusia yang saling melengkapi kekurangan masing-masing dan saling melindungi, yakni George dan Lennie. Keduanya memiliki mimpi; mimpi yang sangat susah untuk digapai. Bagi kaum pekerja, memiliki harapan terlepas dari rutinitas pekerjaan yang menyita banyak tenaga mereka dengan gaji yang minim, itu bagaikan mimpi di siang bolong. Dan nyatanya, realita yang demikian masih ada di zaman sekarang. Kisah kaum buruh dan impian mereka, di tengah himpitan pekerjaan yang menguras tenaga, dengan penghasilan yang hanya dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, masih banyak ditemui di era sekarang, bahkan saya prediksi, masih akan berlangsung di waktu-waktu mendatang.

Kisah ini cukup sederhana, tentang persahabatan dua orang yang berupaya saling melindungi di tengah kekurangan mereka. Dibalut oleh setting peternakan, dan nuansa perburuhan yang begitu kentara, dengan tokohnya yang diwakili kaum pekerja: George, Lennie, Candy si pekerja yang mengalami kecelakaan kerja dan hanya mendapatkan pekerjaan bersih-bersih dan sadar diri suatu saat akan didepak dari peternakan ini, Crooks si Negro yang diasingkan karena warna kulitnya berbeda. Lalu ada Slim si Mandor, dengan tipikalnya yang merasa berada di atas kaum pekerja. Ada anak pemilik peternakan, Curley, dan istrinya memiliki sifat seorang penggoda.

Plot diramu dengan baik, menyuguhkan cerita yang sebenarnya ringan, tapi sarat makna. Saya menikmati membaca kisah ini, bahkan bisa menyelesaikannya dalam waktu kurang dari satu hari. Cerita ini begitu relevan dengan keadaan sekarang, memberikan pesan sosial yang begitu mendalam. Apalagi, karakternya yang mampu mencuri perhatian sejak awal. Hingga bagian akhir, saya masih susah untuk menerima apa yang terjadi pada Lennie.

Benar pernyataan bahwa orang yang kemungkinan paling besar melukaimu, adalah orang yang paling dekat denganmu dan paling kaupercaya. 


Dash & Lily's Book of Dares

Judul : Dash & Lily's Book of Dares
Penulis : Rachel Cohn & David Levithan
Penerbit : POP
Tebal Buku : 306 Halaman
Cetakan Pertama, April 2016
ISBN : 9786026208002
Rating : 4 dari 5


Jurnal ini adalah sebuah alat musik yang aneh—pemainnya tak mengetahui musiknya sampai alat itu dimainkan. ---halaman 112

Blurb:

Aku telah meninggalkan beberapa petunjuk untukmu.
Jika kau mau tahu, balik halaman ini.
Jika tidak, tolong kembalikan buku ini ke raknya. 

Liburan kali ini Lily sendirian dan tidak punya teman untuk diajak bersenang-senang. Atas saran kakaknya, Lily meninggalkan sebuah jurnal merah di rak toko buku favoritnya, menanti seseorang untuk memecahkan teka teki di dalamnya.

Liburan kali ini Dash sendirian dan terlalu masa bodoh untuk diajak bersenang-senang. Namun jurnal merah yang Dash temukan di rak toko buku favoritnya berhasil membuat pemuda itu penasaran akan tantangan-tantangan yang Lily ajukan.


Liburan kali ini Dash dan Lily saling oper jurnal merah tempat mereka bertukar tantangan, mimpi, dan rahasia masing-masing tanpa pernah bertemu. Lalu apa yang terjadi berikutnya? Akankah permainan mereka berlanjut di dunia nyata? Atau haruskah keduanya menerima kenyataan bahwa jurnal merah telah mempermainkan nasib mereka?

***

Lily, seorang gadis berkacamata yang sejak peristiwa yang berhubungan dengan kematian tragis binatang peliharaannya di masa sekolah dasar, dikenal sebagai Jerilly kependekan dari "Penjerit Lily". Ia mempunyai orangtua yang mengambil libur Natal sebagai perayaan ulang tahun pernikahan dan pergi ke Fiji, kakak bernama Lansgston dan pacarnya Benny yang tidak ingin hari Natal mereka diganggu oleh adik sepertinya, Grandpa yang pergi mengunjungi pacarnya yang bernama Mabel di Florida. Singkat cerita, Natal yang baginya selalu dihiasi dengan perayaan menyenangkan, khusus tahun ini berubah menjadi menyebalkan.

Dash adalah pemuda yang menyenangi membaca buku dan senang mengunjungi Strand, toko buku yang ada di kotanya. Orangtuanya bercerai sehingga Natal ini ia menjalaninya sendiri. Pada ibunya ia mengatakan akan menghabiskan waktu dengan ayahnya, begitu pula sebaliknya. Ia mempunyai teman bernama Boomer, Priya, dan mantannya yang bernama Sofia. Setelah menemukan jurnal Moleskine misterius di Strand, toko buku favoritnya, ia merasa kalau Natal-nya kali ini akan istimewa.

Lily meninggalkan jurnal itu di salah satu rak buku dengan berbagai petunjuk yang harus dipecahkan. Sebenarnya ini adalah ide Langston dan Benny, tapi pada akhirnya Lily pun mengikuti arus permainan tersebut. Dash yang tergoda oleh rasa penasaran memecahkan petunjuk di antara buku-buku yang harus dicari dan ditemukan kata-katanya, pada akhirnya mengikuti juga petunjuk lain dan ikut meninggalkan petunjuk yang harus dipecahkan oleh Lily, gadis yang namanya ada di buku itu.

Keduanya saling meninggalkan jurnal itu sebagai petunjuk selanjutnya, melalui petualangan di tempat-tempat tertentu, saling mengerjai, memberikan jejak-jejak petunjuk yang harus dipecahkan masing-masing, agar jurnal itu tetap bisa teroper dan diisi oleh keduanya. Supaya permainan dapat terus berlanjut dan mereka saling mengenal melalui tulisan dan pemikiran masing-masing yang tertuang di atasnya. Mereka mengunjungi Macy's pusat perbelanjaan yang sangat ramai jelang Natal, ke bioskop untuk menonton film Gramma Got Run Over by a Reindeer, mengunjungi Madam Tussauds, dan tempat-tempat lainnya.

Keduanya memutuskan untuk saling menyimpan identitas masing-masing, selain nama Lily yang diketahui Dash, namun tidak sebaliknya. Dengan alasan bahwa nama Dash langka, dan kemungkinan mengetahui siapa dirinya begitu besar.

Kau bisa saja sedang berdiri beberapa kaki jauhnya—pasangan dansa Clara, atau di seberang jalan mengambil foto Rudolf sebelum dia terbang. Aku bisa saja duduk di sebelahmu di subway, atau bersentuhan denganmu sementara kita melewati pintu putar. Tapi bagaimanapun  kau di sini, kau memang ada di sini—karena kata-kata ini untukmu, dan kata-kata ini tak akan ada jika kau tidak di sini. Jurnal ini adalah sebuah alat musik yang aneh—permainnya tak mengetahui musiknya sampai alat itu dimainkan. ---halaman 112

Sampai pada satu ketika salah seorang dari mereka tidak sempat meninggalkan jurnal dan petunjuk selanjutnya, mereka menyadari bahwa permainan mereka berakhir. Terlebih lagi, kehadiran kembali orang-orang di dunia nyata mereka, yang membuat mereka tersadar bahwa apa yang selama ini keduanya lakukan mungkin hanyalah ilusi. 

Lalu pada akhirnya, apakah mereka berhasil bertemu dan menyelesaikan permainan yang mereka mainkan?

***

Dua orang remaja kesepian sedang melakukan permainan mereka dalam jurnal yang dioper secara berkala. Lily dan Dash, selain meninggalkan petunjuk tempat meletakkan jurnal selanjutnya, mereka juga menuliskan pemikiran-pemikiran mereka di dalam jurnal tersebut. Sebuah permainan yang seru dan unik. Terlebih lagi, memang keduanya adalah sosok yang tak kalah uniknya. Lily si gadis berkacamata yang suka menjerit tapi mempunyai orang-orang di sekelilingnya yang sayang padanya. Lalu Dash si cowok kutu buku yang dikenal sebagai Penggerutu yang punya kegandrungan dengan kata-kata unik.

Karakter Dash dan Lily benar-benar kuat, dengan segala dunia remaja yang melekat pada mereka. Saya bisa membayangkan bagaimana sosok Lily si gadis remaja beranjak dewasa yang kurang pergaulan ini--karena mereka telanjur mengenalinya sebagai Jerily dan karena ayahnya adalah wakil kepala sekolah--dalam benak saya. Pun begitu dengan Dash yang keren—cowok remaja kutu buku itu keren pokoknya--meskipun ia seorang yang penggerutu. Dari segi plot dan konflik, benar-benar tidak terduga dan tidak biasa. Bagaimana bisa membuat cerita dari sebuah jurnal dengan teka-tekinya bisa menjadi premis yang menarik? Lalu membuat kedua tokohnya secara tidak sengaja menjadi jatuh cinta dengan sosok imajiner itu? 

Saya benar-benar merasa relate dengan novel ini. Yang pertama dari segi cara penulisan dengan membuat dua tokohnya dari dua sisi dan dua sudut pandang yang berbeda, mengingatkan saya pada role playing fiction. Itu juga mungkin yang membuat saya tidak merasa kebosanan atau tidak merasa kurang cocok dengan cara penyampaian cerita yang begini karena sudah terbiasa membaca cerita versi RPF. Lalu, merasa jatuh cinta dengan teman dunia maya? Haaa... sudah biasa =)) Maksudnya, saya terbiasa jatuh cinta dengan karakter maya seseorang hingga benar-benar merasa terbuai tipuan Plato seperti yang disampaikan Dash di sini:

Aku tak mau memberi tahu Lily bahwa aku merasa kami terbuai tipuan Plato dan konsepnya mengenai belahan jiwa.  ---halaman 102

Itu tadi adalah tanggapan Dash ketika Lily mengungkapkan dalam jurnal Moleskine-nya tentang:

Aku ingin percaya bahwa ada seseorang di luar sana untukku. Aku ingin percaya bahwa aku ada untuk orang itu. ---halaman 102

Lalu kehadiran Sofia, dan teman-teman Dash di luar Lily dan aktivitas mereka berdua, seolah merepresentasikan "teman dunia nyata" bagi Dash. Ada banyak momen yang membuat saya suka dengan gadis itu.

"Seharusnya kau tak boleh menggantungkan harapan pada angan-angan." ---halaman 155

Jadi, Dash ini karakter yang keren sekali! (Ini kali kedua saya bilang Dash keren, ya?) Pemikirannya, hobi membacanya, dan bagaimana dia menjalani kehidupan sebagai anak broken home tapi tidak membuatnya memiliki sifat yang destruktif.

Mungkin yang dia inginkan hanyalah kembali ke perpustakaannya dan membaca seratus buku, hanya saja semua orang terus mengganggunya, mengatakan bahwa dia tak bisa selamanya sendirian. ---halaman 228

Kutipan di atas dalam banget maknanya karena seolah menampar-nampar saya hahaha.

Nasihat-nasihatnya pada Lily pun benar-benar mengena. Contohnya yang ini:

Kita meyakini hal-hal yang salah. Itulah yang paling membuatku frustrasi. Bukan keyakinan yang kurang kuat, tapi keyakinan akan hal-hal yang salah. Kau mencari makna? Yah, maknanya ada di luar sana. Hanya saja kita selalu sering salah mengartikannya. ---halaman 101

Dan satu hal kesamaan saya dengan Dash adalah soal... teh hijau! *toss sama Dash*

"Kau tahu saat seekor sapi mengunyah rumput? Dan si sapi mengunyah, mengunyah, dan mengunyah? Yah, teh hijau terasa seperti berciuman dengan lidah sapi yang baru selesai mengunyah rumput-rumput itu." ---halaman 177

Cerita yang manis, seru, menegangkan. Saya banyak belajar bagaimana cara membuat cerita remaja dari novel ini. Jadi penasaran, David Levithan dan Rachel Cohn membuat cerita ini bagaimana ya? Apakah salah satu dari mereka mengambil bagian satu tokoh atau seperti apa ya? Tapi bolehlah saya curiga kalau Cohn mengambil sisi Lily dan Levithan menulis bagian Dash? :D

Oh ya, saya suka dengan pembatas buku di novel ini. Mulanya sempat mengira kalau itu salah cetak, karena warnanya yang berbeda dan tidak ada bagian yang sama dengan covernya. Eh ternyata, itu tiket film yang ditonton Lily!




Kutipan penutup bagi ulasan novel ini, terutama untuk teman-teman di luar sana yang berkenalan dengan saya lewat tulisan:

Perbuatanku jarang sesuai dengan perkataanku. Dan karena kita berkenalan lewat kata-kata, aku bisa mengecewakanmu dalam banyak cara. ---halaman 256

Satu kutipan lagi yang keren:

Takdir menyusun rencana dengan cara yang aneh. ---halaman 253

Oke, ini benar-benar yang terakhir! =))

Hal-hal berubah sepanjang waktu, seringnya dalam skala kecil. Begitulah hidup berjalan, kurasa. ---halaman 278


Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (40) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)