Gadis Kretek



Judul : Gadis Kretek
Penulis : Ratna Kumala
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 9789792281415
Tebal Buku : 274 Halaman
Rating : 4 dari 5
 


PERINGATAN: MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN.


Cerita bermula dari saat Pak Raja dalam kondisi sekaratnya, menyebutkan satu nama, "Jeng Yah", dan ingin sekali bertemu dengannya, yang kemudian menimbulkan spekulasi oleh ketiga anak lelakinya. Terlebih lagi, reaksi ibu mereka yang terlihat kesal, cemburu, dan marah yang bercampur jadi satu saat dalam kondisi sekaratnya, si romo justru malah menyebutkan nama lain, yang berasal dari masa lalu.

Pak Raja, adalah seorang pebisnis rokok sukses dengan merk dagang Djagad Raja yang kerajaan bisnisnya bahkan dapat menghidupi keluarganya selama tujuh turunan. Ketiga anaknya, yang pertama Tegar, sejak kecil sudah disiapkan untuk menjadi pewaris utama kerajaan bisnis keluarganya. Anak kedua, Karim, juga memiliki andil dalam mengembangkan perusahaan rokok ini. Sementara anak ketiga, Lebas, adalah sosok pemuda yang bebas, independen, terkesan tidak peduli dengan perusahaan keluarga tersebut, justru memilih untuk keluar jalur. Ia mengambil kuliah musik dan memiliki minat dalam dunia perfilman. Kiprahnya sebagai sutradara namun masih level bawah, hanya sebatas terkenal karena menyutradarai film-film horor Indonesia yang kualitasnya level B dan C, serta sinetron stripping. Ketiganya dihadapkan pada persoalan mencari sosok Jeng Yah, demi meloloskan keinginan terakhir romo mereka untuk bertemu dengan perempuan itu, yang katanya dulu adalah mantan kekasih ayahnya dan bahkan saat pernikahan sang ayah dengan ibunya, menorehkan luka dengan memukul kepala sang romo dengan semprong petromaks.

Setting cerita mundur ke masa sebelum kemerdekaan, dengan seorang tokoh bernama Idroes Moeria, seorang pemuda yang bekerja sebagai pelinting rokok di pabrik milik Pak Trisno. Dari Pak Trisno inilah Idroes Moeria belajar banyak tentang pembuatan rokok dan banyak hal. Ia memiliki teman sebaya yang bernama Soedjagad. Idroes muda ini diam-diam menyukai seorang gadis, anak Juru Tulis bernama Roemaisa. Namun ternyata, diam-diam Soedjagad juga menyukai gadis itu dan Idroes mengetahuinya. Soedjagad melamar gadis itu terlebih dahulu, namun ditolak, karena Juru Tulis ingin suami anaknya bisa membaca, seperti Roemaisa. Karena rupanya Roemaisa mencintai pemuda lain, yakni Idroes, maka diberitahukannya kepada Idroes Moeria dengan dua kata, "Belajar membaca." Idroes mengikuti petunjuk itu.

Situasi politik saat peristiwa itu terjadi adalah, Jepang datang untuk menjajah kota M, setting di mana cerita ini digelar. Pabrik Pak Trisno bangkrut, semua hartanya diambil oleh Jepang. Sisa tembakau milik Pak Trisno dibeli oleh Idroes dengan uang yang dikumpulkannya, dan dengan itu ia memulai sendiri pabrik rokoknya dengan merek dagang Klobot Djojobojo, ditulis tangan dengan tulisan yang tidak rapi. Namun ternyata, Soedjagad pun melakukan hal yang sama dengan Idroes Moeria, membuat rokok sendiri dengan nama Klobot Djagad. Idroes memiliki pesaing baru, yakni temannya sendiri.

Bersama ibunya, Idroes Moeria melamar gadis itu dan tak lama keduanya akhirnya menikah.Usahanya pun semakin lancar, apalagi saat mengetahui dua bulan kemudian bahwa istrinya tengah mengandung. Idroes ingin mengembangkan usahanya dengan mencetak desain untuk etiketnya. Saat hendak mencetak itulah, sebuah kejadian tak terduga terjadi. Idroes diangkut oleh Jepang dan dibawa ke Soerabaia. Istrinya dirundung kesedihan, sehingga tidak ada yang bisa dilakukannya selain menangis dan dirundung kemalangan hingga bayi yang dikandungnya meninggal.

Pada satu titik, saat Roem mengisap rokok suaminya, ia merasakan titik kebangkitannya. Sejak itulah Roemaisa menjelma menjadi seorang yang baru, dengan upayanya kembali menghidupkan usaha rokok yang dirintis oleh suaminya sambil mengharapkan kehadiran Idroes Moeria kembali. Soedjagad kembali mendekati Roem, pantang menyerah, seolah mendapatkan kembali peluang setelah Idroes Moeria tidak ada kabarnya. Namun Roem bersikeras untuk menunggu suaminya kembali. Saat Jepang menyerah kepada sekutu, tak lama Indonesia memproklamirkan dirinya. Semua tahanan Jepang kembali, tak terkecuali Idroes Moeria. Ia kembali kepada istrinya, dan melanjutkan usaha rokoknya. Selama ditawan di Soerabaia, Idroes mengamati pasar rokok di sana, dan sekembalinya, ia mengembangkan rokoknya. Idroes tidak lagi menggunakan nama Djajabaia, melainkan sekarang menggunakan nama baru, dengan mengusung semangat kemerdekaan, Roko Kretek Merdeka!. Pesaingnya, mengikuti jejak Idroes, juga membuat saingan dengan membuat rokok dengan nama Proklamasi.

Tak lama kemudian, istrinya kembali hamil dan melahirkan, seorang anak perempuan. Namun, ari-arinya dicuri orang. Menurut 'orang pintar', konon katanya yang mencuri itu adalah pesaingnya, yang akan digunakan untuk menjatuhkan usahanya. Anak perempuannya cantik, bernama Dasiyah, yang kelak dikenal dengan sebutan Jeng Yah. Tak lama, adiknya pun lahir dengan nama Rukiyah. Soedjagad menikah dengan seorang perempuan kaya dari Madura, dan juga akhirnya memiliki lima orang anak.

Dasiyah tumbuh dekat dengan pabrik rokok. Kegiatan melinting, dan sejenisnya dilakoni Dasiyah sejak kecil. Dari tangan Dasiyah, ia membuat rokok spesial dari sari tembakau yang berasal dari tangannya saat melinting. Dan dengan jilatannya, ia melem rokok itu dan memberikan kepada sang ayah. Ayahnya memercayai bahwa gadis ini adalah titisan Roro Mendut yang dengan idu-nya bisa menghasilkan rokok yang nikmat. Dari racikan saus Dasiyah pulalah lahir merk dagang rokok bernama Kretek Gadis.

Dasiyah jatuh cinta dengan seorang pemuda bernama Soeraja, pemuda pengelana yang singgah di kota M saat digelar pasar malam tahunan. Dasiyah jatuh cinta pada Soeraja, mempekerjakannya. Soeraja menyadari bahwa dirinya seolah tidak mempunyai harga diri karena hidup dari keluarga Idroes, lantas meminta izin pada Dasiyah untuk bisa membuka usaha rokoknya sendiri. Akhirnya Soeraja dikenalkan oleh PKI dan membuat rokok dengan dibiayai oleh PKI. Beberapa hari sebelum pernikahan keduanya, Soeraja dan antek PKI lainnya dicari. Beruntung Soeraja berhasil melarikan diri. Ia pergi ke kota Kudus, memutus hubungan karena dia termasuk orang yang dicari oleh TNI. Malang nasib keluarga Dasiyah, ia dan ayahnya ditangkap dan dipenjara karena berhubungan dengan oknum PKI.

Sudah ya, spoiler banget. Kelanjutan cerita bisa dibaca sendiri.


***

Buku ini menarik. Awalnya saya mengira kalau novel ini berkisah tentang seorang perempuan pecandu rokok. Namun ternyata tidak seperti itu. Mengisahkan tentang bagaimana sejarah kerajaan rokok dirintis, disertai latar sejarah yang sedang terjadi di masa itu, misalnya kemerdekaan Indonesia yang kemudian melahirkan merk rokok "Roko Kretek MERDEKA!" atau "Kretek Proklamasi", dan saat PKI marak di tanah Jawa, rokok pun hadir sebagai alat propaganda penyebaran paham komunis dengan merk dagang "Kretek tjap Arit Merah". Situasi politik yang terjadi juga memberikan dampak pada kehidupan para tokoh.

Kisahnya begitu romantis, di mana dalam perkembangannya, mengalirkan cerita. Aroma persaingan yang dibumbui kisah percintaan yang manis. Kerja keras untuk menghasilkan sebuah karya, rokok, yang mampu bertahan dan melebarkan sayapnya di kancah dunia perokokan. Meskipun ceritanya mudah ditebak, namun alurnya pas, membuat pembaca bisa melahapnya dengan cepat. Tidak berat, ringan, namun berisi.

Satu hal yang tidak dapat dilepaskan dari kisah yang disajikan ini adalah... bahwa fakta, ratusan ribu orang menggantungkan kehidupannya pada industri rokok. Humm, miris yah. Saya termasuk orang yang anti rokok, sebisa mungkin menghindarkan diri dari terpapar asap rokok (sebagai perokok pasif) karena mengetahui dampaknya. Penghasilan negara dari rokok pun tidak sedikit, melainkan sangat banyak. Apalagi dari rokok pun banyak memberikan kontribusi yang tidak bisa dibilang sepele. Apalagi, bahwa rokok pun memiliki kisahnya sendiri. Ini fakta, yang akhirnya membuat saya sadar bahwa upaya penanggulangannya adalah kembali ke diri masing-masing, dengan tidak menjadi perokok aktif dan menghindari diri dalam sekup lingkungan terkecil dari bahaya rokok, dengan bagaimana? Ya dengan tidak merokok.

Sekali lagi, jika di awal saya menuliskan peringatan yang ada di halaman awal buku ini, di akhir saya memberikan peringatan dengan peringatan yang baru:

MEROKOK DAPAT MEMBUNUHMU.

0 komentar:

Post a Comment

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (41) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Djenar Maesa Ayu (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)