Saia

Judul : Saia
Penulis : Djenar Maesa Ayu
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 139 Halaman
ISBN : 9786020301709
Rating : 1 dari 5 





Kesan saya selama membaca buku ini..., saya merasa sedih karena dalam cerita-cerita ini perempuan digambarkan dengan sangat menyedihkan. Seolah perempuan tidak ada harganya, dan hanya menjadi objek komoditi seksual belaka. Awalnya mau ber-positif thinking dengan menemukan "sesuatu" (dalam artian positif) yang mungkin akan saya temukan di buku ini (seperti yang bisa saya dapatkan dari Saman-nya Ayu Utami). Tapi ternyata..., nol besar. Saya justru kecewa karena si penulis dengan mudah mengumbarkan perempuan sebagai objek pemuas nafsu para lelaki. Entah posisi perempuannya itu di sini sebagai pelacur, selingkuhan, orang yang dengan mudah menyerahkan keperawanannya dan (maaf) selangkangannya hanya demi memuaskan lelaki semata.

Menjijikan. Iya, benar, saya harus mengakui kalau membaca novel ini tidak hanya membuat saya mengernyitkan dahi saja tapi juga mau muntah (literally, saya beneran mau muntah).

Saya mau sedikit cerita kenapa akhirnya mau memutuskan membaca buku ini. Jadi, sebenarnya pertama karena penasaran. Waktu saya menemukan novel ini terbuka di Gramedia, pas iseng membukanya, ketemu di halaman yang isinya cuma "tik-tok-tik-tok" dan seterusnya sampai rasanya capek bacanya. Tapi, gaya penulisannya yang menurut saya unik itu membuat penasaran. Namun karena tahu bagaimana cerita-cerita Djenar, rasanya kok malas mengeluarkan uang untuk buku yang begini. Lalu tadi saat saya sedang di Perpusda, cukup kaget karena mendapatkan banyak buku-buku baru di sana dan menemukan buku ini. Mulanya juga nggak mau pinjam, tapi pas lagi iseng duduk habis dua cerita, akhirnya penasaran juga dan langsung pinjam lalu selesai dalam beberapa jam saja.

Menyesal? Iya. Saya merasa menyesal karena novel ini dengan menyedihkan menjadikan perempuan sebagai komoditi seksual yang..., tolong, saya malu membacanya. Dibandingkan dengan karya Ayu Utami yang saya saja sudah ngerasa nggak banget (meskipun begitu masih saya kasih bintang 3), buku ini jauh jauh jauuuuh nggak banget lagi. Kalau mau review sekilas bercerita tentang apa sajakah cerpen di buku ini, ini dia kilasannya:

Air bercerita tentang air mani (kayaknya sih gitu), yah intinya adalah perjuangan seorang ibu yang melahirkan anak tanpa ayah. Dan Lalu tentang anak yang menjadi korban KDRT oleh orangtuanya lalu menjual dirinya pada pacar yang pacarnya justru malah menjual si perempuan ini beneran sama lelaki hidung belang. Nol-Dream Land, seorang yang terkurung dalam pernikahan hasil perjodohan oleh orangtuanya. Sementara tentang seorang perempuan yang terkena HIV/AIDS karena seks bebas. Kulihat Awan tentang seorang anak pembantu hasil perbuatan Ibu dan majikannya. Fantasi Dunia tentang Ibu yang membesarkan anaknya hasil perbuatan di luar nikah seorang diri. Saia saya nggak tahu ini cerita tentang apa. Qurban Iklan, cerita menjijikan tentang diare dan aktivitas di dalam bilik termenung alias WC. Urbandit tentang lima orang wanita urban dengan gaya hidup mereka masing-masing, keempatnya menggunjingkan Nayla yang seorang single parent, padahal hidup mereka sendiri lebih menjijikan dari kehidupan teman yang mereka pergunjingkan. Gadis Korek Api, seorang gadis kecil korban penculikan yang dijadikan barang jualan seks oleh Mami mucikari (penikmatnya pun bocah-bocah anak jalanan T-T what the hell ini buku apaan sih?!). Air Mata Hujan, isinya cuma begini:


Insomnia tentang perempuan yang insomnia dan memilih untuk pergi ke diskotik karena tidak menemukan konsep pulang pada rumahnya. Dewi Sialan! Tentang istri yang mengendus bau perselingkuhan suaminya dengan seorang yang bernama Dewi Malam. Mata Telanjang adalah kisah tentang seorang pelacur, seorang yang demi memuluskan bisnis dengan rekan bisnisnya, selalu membawa mereka ke tempat hiburan malam, lalu dia naksir salah satu pelacurnya, dan tersandung masalah: rekan bisnisnya menginginkan pacarnya itu untuk ditiduri. Ranjang ini sebuah cuplikan novelnya Djenar (yang dengan yakin, nggak akan saya beli).




Dengan banyak membaca buku berbagai genre maupun tema, saya jadi paham bahwa kekuatan menulis bisa mentransformasikan ide si penulis kepada para pembacanya dengan tidak disadari oleh pembaca. Saya sepertinya tahu ide apa yang ingin disusupkan dalam kisah ini (katakan saya parno atau gimana). Tapi, saya begitu merasa tidak terima dengan salah satu cukilan cerita Sementara. Nayla (tokoh di dalam kisah itu) mengatakan bahwa:

Kata sudah murah. Dijual dalam khotbah-khotbah. Dikutip dalam ceramah-ceramah.
JAUHI NARKOBA!
SEKS BEBAS ADALAH PINTU MENUJU NERAKA!
Padahal Nayla tahu orang-orang yang kerap obral moral di pelbagai media itu pelaku dan pengguna juga. Semua mata pun terbuka, saat mereka tertangkap basah sedang berada sekamar dengan perempuan di sebuah kamar hotel berbintang lima. Atau saat di dalam brankas mereka terisi uang suap tak terkecuali narkotika. Munafik! Taik!
--Halaman 54

Hmmm. Seolah dengan mencecar mereka yang berkhotbah (lalu mengingkari apa yang dikatakan dalam khotbahnya) itu sebagai pembenaran atas kelakuan buruk seseorang yang mengklaim dirinya tidak munafik seperti orang itu. Seolah mencap semua pengkhotbah atau pemberi ceramah adalah pelaku dan pengguna juga, padahal yang tertangkap basah (kalau memang ada) hanyalah oknum. Yang perlu dilihat di sini adalah: tentang orang pertama yang baik, namun munafik. Lalu orang kedua adalah yang tidak munafik tapi berbuat semaunya (seks bebas, narkoba, dan lain jenisnya). Jadi, meskipun dua orang itu tidak dapat dibenarkan perilakunya, namun orang baik (yang munafik), dengan kebaikan yang diucapkannya memiliki nilai kebaikan pula pada apa yang ia sampaikan (efeknya ke sosial). Namun orang yang tidak baik, meskipun mengklaim dirinya tidak munafik, dia memberikan sumbangsih yang negatif terhadap lingkungan. Saya tidak memberikan pembenaran karena memang tidak ada yang benar dari keduanya. Tapi yang saya bahas di sini adalah tentang persepsi. Orang yang tidak baik lantas menuding perilakunya lebih baik ketimbang orang baik (entah dia munafik atau tidak) jelas tidak dibenarkan. Apalagi jika memang benar bahwa orang yang sok baik itu ternyata berperilaku tidak baik, tidak juga berlindung di belakang perkara ini untuk membenarkan perilakunya yang tidak baik tadi.

Yaaa, maafkan racauan saya tentang baik dan buruk ini. Saya pribadi tidak mengklaim diri saya sebagai orang baik meskipun saya sedang berupaya keras untuk menjadi orang baik. Tapi, saya rasa ketika membicarakan tentang nilai moral dan budaya, Indonesia masih memegang teguh norma ketimurannya dengan menjaga norma yang ada. Ketika kemudian dengan menuliskan buku ini penulis menggembar-gemborkan tentang "syahwat merdeka" tentu saja itu tidak dapat dibenarkan.

Boleh sependapat atau tidak tapi inilah penilaian saya terhadap buku yang saya baca ini. Kalau ditanya kapok atau tidak membacanya, jujur saya katakan kalau saya kapok. Tapi setidaknya saya mendapatkan perspektif baru. Bukan tentang tema seksualitasnya tentu saja, tapi sepertinya saya bisa sedikit mengulik isi pemikiran penulis terhadap perspektifnya tentang tema yang dia angkat (dan berhasil membuat saya kepo tentang kehidupan penulisnya..., okelah untuk bagian itu saya nggak perlu bahas di sini :)).


5 komentar:

  1. Setuju dengan pendapat kamu, Nis. Makanya saya nggak terlalu tertarik membaca karya-karya penulis. Tapi memang kadang ada baiknya membaca berbagai jenis tulisan, supaya kita juga tahu pikiran si penulis, hehehe. Yah, cukup membaca satu kalau begitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, rasanya satu buku ini sudah cukup mewakili deh :D kalau mau baca cerita jenis begini, saya prefer baca novelnya Ayu Utami. Sudah cukup perkenalan saja dengan penulis sampai di sini saja =))

      Delete
  2. Ada baiknya kalau meresensi atau memberi komentar sebuah buku itu juga harus dibarengi dengan etika menghormati sebuah karya, mba.

    Menjadi seorang penulis itu ga gampang lho. Pasti tahu kan mbanya gimana perjuangan seorang penulis (apalagi penulis baru) agar hasil karya nya yang dikerjakannya berbulan-bulan atau mungkin bertahun-tahun bisa lolos review dan akhirnya naik cetak? Justru mungkin cerita dibalik naskah yang diterbitkan itu lebih panjang daripada cerita dalam naskah itu sendiri.
    Dan ketika sebuah karya diterima oleh sebuah redaksi penerbit mayor, berarti karya tersebut memang sudah layak untuk dipublikasikan dan dilempar ke masyarakat. Dengan royalti yang minim, namun penulis bangga dengan capaian prestasi tersebut. Tapi justru Sang penulis akan merasa kecewa jika bukunya diresensi oleh orang-orang yang justru ingin menjatuhkan karyanya (padahal mungkin pengalamannya dalam meresensi masih amatiran dan tidak bisa melepaskan latar belakang apapun dari peresensi - agama, budaya, gender, atau kepercayaan lain - dalam memberikan sebuah penilaian). Meresensi buku itu harus netral, jangan mempertimbangkan kepercayaan atau perspektif ideologi kehidupan atau genre yang disukai, bisa-bisa hasil resensinya malah menggiring opini publik menjadi nilai jelek terhadap karya yang Anda resensi. Cobalah bersikap profesional (kalau itupun jika Anda bisa).

    Jikalau memang terdapat karya yang mba tidak suka, mungkin akan lebih etis mba tidak berkomentar apapun terhadap karya tersebut. Apalagi disebuah artikel internet. Jangan berkomentar "saya jijik" "jayus" "ga bermutu" "menyesal" atau apapun yang bisa membangun citra buruk buat pembaca lain. Apalagi bukunya dari hasil meminjam, dan bukan membeli. Sama saja itu menunjukkan kualitas Anda sebenarnya. Padahal dengan membeli itu sudah cukup memberikan rasa respect kepada Sang pembuat karya.

    Kalau memang mba memiliki sebuah buku yang diterbitkan, mungkin boleh beritahu saya apa judulnya biar saya mungkin bisa belajar dari mba, bagaimana bentuk sebuah buku yang hebat di mata mba nisa rahmah. Saya akan membelinya biarpun saya mungkin nantinya tidak suka :)

    Jadilah peresensi yang independen, menjunjung etika dalam menghargai sebuah karya, dan jangan menggiring opini publik ke arah yang justru merugikan seorang penulis.

    Salam Penulis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat Siang Mas Rifky.

      Ehm, saya tidak menyangka, komentar Mas semalam di Goodreads akan berlanjut di sini. Sebelumnya, saya meminta maaf kalau ternyata komentar saya itu tidak berkenan buat Mas Rifky, hingga berujung pada curahat hati Mas di sini. Terima kasih sudah mau mengunjungi blog saya, membaca komentar lain di ulasan saya, dan memberikan komentar di sini. Jadi begini ya Mas... Saya bahas yang di Goodreads dulu yaaa... tapi sebelumnya makan siang dulu yuk. Biar kenyang, hehehe.

      Apa yang saya tuliskan dalam ulasan itu adalah milik saya pribadi, opini saya yang tidak dipengaruhi oleh pihak mana pun. Dalam komentar di buku Mas pun, saya tidak hanya menyampaikan opini, tapi juga fakta. Opini bahwa buku Mas jayus, itu murni kesan yang timbul dari saya. Apakah di sana ada ajakan untuk memengaruhi orang untuk tidak membacanya? Tidak ada. Dan sangat disayangkan, Mas Rifky hanya berkutat pada opini saya tersebut dan menafikan bahwa saya memberikan fakta di sana, bahwa saya merasa merasakan manfaatnya. Ya sudah, saya terima. Tapi, menyudutkan saya dan mengatakan, "Ga ada faedahnya nanti buat hidup mba yang sempurna banget 😂" apakah itu elok? Tapi saya menahan diri, tidak memberikan tanggapan. Barangkali Mas-nya baru di Goodreads, dan tidak mengetahui guideline penulis di Goodreads. Ini saya sertakan link-nya: https://www.goodreads.com/author/guidelines atau ini saya copaskan "Don’t engage with people who give you negative reviews." Mas Rifky tidak tahu saja, padahal di ulasan akhir buku Mas, saya mau memberikan bintang tiga atas ilmunya, terlepas dari cara penyampaiannya yang mengandung unsur kejayusan yang tidak sesuai selera saya.

      Jadi, ketika seorang penulis siap untuk menerbitkan karyanya, dia harus siap menerima komentar, baik itu memberikan pujian, atau masukan, atau kritik, atau bahkan komentar jelek. Masnya juga tak punya kuasa untuk membuat semua orang lain suka dengan kita, kan? Begitu juga dengan karya kita :)

      Salam hangat,

      Nisa Rahmah

      Delete

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (41) Amerika (17) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (7) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Miranda Malonka (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Djenar Maesa Ayu (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)