Max Havelaar



Judul : Max Havelaar: Or the Coffee Auctions of the Dutch Trading Company
Penulis : Multatuli
Penerjemah : Ingrid Dwijani Nimpoeono
Penerbit : Qanita, PT Mizan Pustaka
ISBN : 9780140445169
Tebal Buku : 474 Halaman (beserta lampiran)
Rating : 5 dari 5


Jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya.
Jika politik bengkok, sastra akan meluruskannya.
—John F. Kennedy


Kisah bermula dari seorang makelar kopi yang tidak menyukai sastra bernama Droogstoppel. Sebagai orang yang berkecimpung dalam bursa selama bertahun-tahun, baginya, karya sastra serupa novel atau puisi hanyalah kata-kata yang indah, jauh dari kebenaran. Misalnya:

"Jam berdentang empat kali
Dan sudah tidak hujan lagi"

Komentarnya: Aku tidak akan mengucapkan sesuatu pun untuk menentang perkataan itu, seandainya saat itu memang pukul empat dan hujan memang sudah berhenti. Namun, seandainya saat itu pukul tiga kurang sepertempat, aku—yang tidak merangkai kata-kata dalam bentuk puisi—bisa mengatakan, "Pukul tiga kurang seperempat, dan hujan sudah berhenti." Namun si pembuat rima, karena sudah tidak hujan "lagi", terpaksa mengatakan "empat kali". Entah waktu atau cuacanya yang harus diubah dan hasilnya adalah kebohongan (hal 21). Begitulah, sebagai gambaran betapa seorang Droogstoppel sang makelar kopi, dengan wataknya yang lebih menyukai kelogisan alih-alih sesuatu yang menggunakan rima namun menyalahi kebenaran.

Suatu hari Droogstoppel bertemu dengan seorang teman lama, bersyal kotak-kotak yang disebut Sjaalman. Lelaki itu meminta kepada Droogstoppel untuk membantunya menerbitkan sebuah buku, karena Sjaalman membutuhkan uang untuk menghidupi keluarganya, dan dengan bakat penyair yang dia punya, pria bersyal itu memutuskan untuk membuat cerita, dan meminta bantuan teman lamanya itu untuk mendanai penerbitannya. Droogstoppel menolak, namun Sjaalman pantang menyerah. Paket naskahnya itu dikirimkan ke rumah Droogstoppel yang kemudian memancing penasaran.

Tuan Stern muda, seorang yang baru saja direkrutnya sebagai pegawai, menyanggupi untuk membantu Droogstoppel dalam menggubah naskah milik Sjaalman menjadi sebuah buku yang menceritakan tentang Max Haveelar, namun buku tersebut harus berjudul "Lelang Kopi  Maskapai Dagang Belanda."

Sampai di sini, buku ini mengalami perubahan sudut pandang. Seperti yang dikatakan sebelumnya, kisah mengenai Max Havelaar. Di awal cerita, pembaca akan dikejutkan dengan perbedaan setting di sini. Jelasnya, karena latar cerita ini adalah tahun 1850-an. Ini juga memperkaya pengetahuan kita tentang situasi saat itu, bagaimana perjuangan menempuh perjalanan, dan bagaimana kondisi geografis setting tempat, yakni Distrik Lebak, tempat Havelaar menjadi Asisten Residen.

Perlu dijelaskan di sini tentang sistem pemerintahan di sana. Gubernur Jendral dalam usahanya dibantu oleh sebuah dewan. Untuk mengepalai setiap provinsi, dikepalai oleh seorang residen. Karesidenan dibagi menjadi tiga, empat, atau lima departemen atau kabupaten yang dikepalai oleh asisten residen. Di setiap departemen, asisten residen dibantu oleh seorang pejabat pribumi berkedudukan tinggi yang bergelar "bupati". Walaupun hubungannya dengan pemerintah dan departemennya adalah sebagai pejabat bayaran; selalu berasal dari golongan bangsawan tinggi di daerahnya. Politik Belanda memanfaatkan pengaruh feodal kuno pangeran-pangeran. Karena dengan mengangkat mereka sebagai pejabat bayaran kerajaan, tercipta semacam hierarki yang dikepalai oleh pemerintah Belanda dan diwakili oleh gubernur jenderal (hal 80-82). Hubungan antara pihak Belanda dan pribumi dapat dijelaskan sebagai berikut: "Pejabat Eropa harus memperlakukan pejabat pribumi yang membantunya sebagai adik". Namun, dia tidak boleh lupa kalau adiknya ini sangat dicintai, atau ditakuti, oleh orangtuanya. Dan, seandainya terjadi perselisihan, senioritasnya sendiri akan langsung dianggap sebagai alasan untuk menyalahkannya karena kurang memanjakan adiknya (hal 86).

Ada perbedaan kedudukan di sini dari sisi penduduk pribumi. Yakni para pembesar—para bupati beserta petingginya—dan rakyat jelata. Untuk kisah bagaimana rakyat jelata ini, nanti akan dijelaskan kemudian. Sekarang, ada hal yang perlu dipaparkan di sini, tentang petinggi rakyat yang memiliki kedudukan. Perlu diketahui bahwa kekayaan bupati jauh lebih besar jika dibandingkan para pejabat Eropa; dan ini memang sudah sewajarnya. Biaya operasional seorang bupati memang cukup banyak. Membiayai keluarga besar beserta rombongannya. Orang Eropa hidup seperti warga negara, bupati hidup sebagai pangeran.

Havelaar, dalam pekerjaannya di tempat baru dibantu oleh seorang pengawas Verbrugge, seorang lelaki baik, sederhana, komunikatif. Ada pula Letnan Duclari, komandan garnisun kecil di Rangkas Bitung. Sekarang kita berbicara tentang si tokoh utama, Max Havelaar, Asisten Residen Lebak. Seorang lelaki berusia tiga puluh lima tahun. Dia penuh kontradiksi; setajam silet, berhati selembut anak perempuan, dan selalu menjadi yang pertama merasakan luka akibat kata-kata pahitnya sendiri; dan dia lebih menderita dari mereka yang dilukainya. Memahami kata-kata yang sulit, namun seringkali tidak memahami hal-hal yang paling sederhana. Jujur, dermawan, hidup seadanya untuk ukuran seorang asisten residen karena kedermawanannya dalam membantu orang lain. Havelaar memiliki seorang istri, Tine, dan seorang anak yang diberi nama Max. Sebagai seorang istri, Tine bisa dibilang amat mengetahui suaminya, rela menanggung akibat dari idealisme Havelaar. Hidup sederhana dan berhemat, karena kebiasaan suaminya yang terlalu dermawan.

Havelaar memang bisa dibilang tidak seperti penjajah yang selama ini ada dalam benak kita. Pada awalnya, saya secara jujur mengatakan bahwa saya agak takut, apakah ini sebagai upaya propaganda, menghalusan sesuatu, mengubah paradigma kita, yah begitulah. Namun ternyata yang perlu dipahami di sini adalah, bahwa kita janganlah menilai sesuatu itu hanyalah dari sisi hitam dan putih. Hitam untuk penjajah Belanda, lantas putih untuk rakyat Indonesia. Namun ternyata, ini memang harus diakui, paradigma kita yang keliru itu harus diluruskan. Bahwa tidak semua orang Belanda itu adalah seorang penjajah [penjajah (n): orang yg terlalu menguasai (menindas dsb) orang lain (bawahan dsb); KBBI] semuanya jahat. Havelaar di sini, justru menggunakan nalurinya untuk menentang penjajahan yang sebenarnya terjadi. Dan bagi pribumi yang ternyata memanfaatkan situasi demi mengenyangkan perut sendiri, itu pulalah yang pantas disebut penjajah.

Seperti yang sedikit disinggung di atas, Belanda menerapkan politiknya menjajah dengan mendekati pejabat-pejabat tinggi pribumi, yang mana dengan itu bisa memperkuat kedudukannya untuk mengeruk keuntungan hasil bumi sebanyak-banyaknya dari rakyat. Ibarat kata, memberi posisi serta mengenyangkan perut orang-orang berpengaruh, demi mendapatkan keuntungan yang lebih banyak lagi. Terlebih lagi, misi lain yang dibawa oleh para penjajah ini, yakni menyebarkan agamanya di tempat jajahan.

Masih banyak sekali yang ingin dieksplor di sini, terlebih lagi bagaimana menggambarkan sosok Havelaar, yang lain dari yang lain. Seperti bagaimana kisahnya di Karesidenan Padang (mungkin nanti akan dibahas di tumblr kalau sempat), itu lebih membuat Havelaar berbeda.

Nanti dilanjutkan ya, sudah lebih dari tiga jam menulis ini dan belum selesai juga. Uhm, pardon me.

4 komentar:

  1. Mau nanya, bedanya sama yang penerbit Narasi apanya ya?

    ReplyDelete
  2. Wah kurang tahu yaa... ini saya baca yang terbitan paling baru yang diterbitkan sama Mizan :)

    ReplyDelete

Recent Quotes

"Suatu ketika, kehidupanmu lebih berkisar soal warisanmu kepada anak-anakmu, dibanding apa pun." ~ Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Setting

Indonesia (41) Amerika (16) Inggris (11) Jepang (5) Perancis (4) Norwegia (3) Spanyol (3) Belanda (2) Irlandia (2) Korea (2) Saudi Arabia (2) Yunani (2) Australia (1) Fiji (1) Italia (1) Mesir (1) Persia (1) Swedia (1) Switzerland (1) Uruguay (1) Yugoslavia (1)

Authors

Jostein Gaarder (6) Paulo Coelho (6) Mitch Albom (4) Sabrina Jeffries (4) Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (4) Colleen Hoover (3) Ilana Tan (3) John Green (3) Prisca Primasari (3) Annisa Ihsani (2) Cecelia Ahern (2) John Grisham (2) Seplia (2) Sibel Eraslan (2) Suarcani (2) Adara Kirana (1) Adityayoga & Zinnia (1) Ainun Nufus (1) Aiu Ahra (1) Akiyoshi Rikako (1) Alice Clayton (1) Alicia Lidwina (1) Anggun Prameswari (1) Anna Anderson (1) Asri Tahir (1) Astrid Zeng (1) Ayu Utami (1) Charles Dickens (1) Christina Tirta (1) David Levithan (1) Deasylawati (1) Dee Lestari (1) Desi Puspitasari (1) Dewi Kharisma Michellia (1) Djenar Maesa Ayu (1) Dy Lunaly (1) Dya Ragil (1) Elvira Natali (1) Emily Bronte (1) Emma Grace (1) Erlin Natawiria (1) Esi Lahur (1) Fakhrisina Amalia (1) Ferdiriva Hamzah (1) Frances Hodgson Burnett (1) Fredrick Backman (1) G.R.R. Marten (1) Gina Gabrielle (1) Haqi Achmad (1) Harper Lee (1) Hendri F Isnaeni (1) Ifa Avianty (1) Ika Natassa (1) Ika Noorharini (1) Ika Vihara (1) Indah Hanaco (1) JK Rowling (1) James Dashner (1) John Steinbeck (1) Jonathan Stroud (1) Kang Abik (1) Katherine Rundell (1) Korrie Layun Rampan (1) Kristi Jo (1) Kyung Sook Shin (1) Lala Bohang (1) Laura Lee Guhrke (1) Lauren Myracle (1) Maggie Tiojakin (1) Marfuah Panji Astuti (1) Mario F Lawi (1) Mark Twain (1) Maureen Johnson (1) Mayang Aeni (1) Miranda Malonka (1) Najib Mahfudz (1) Nicholas Sparks (1) Novellina (1) Okky Madasari (1) Orizuka (1) Peer Holm Jørgensen (1) Pelangi Tri Saki (1) Primadonna Angela (1) Puthut EA (1) Rachel Cohn (1) Rainbow Rowell (1) Ratih Kumala (1) Rio Haminoto. Gramata (1) Rio Johan (1) Shinta Yanirma (1) Silvarani (1) Sisimaya (1) Sue Monk Kidd (1) Sylvee Astri (1) Tasaro GK (1) Thomas Meehan (1) Tia Widiana (1) Trini (1) Vira Safitri (1) Voltaire (1) Winna Efendi (1) Yuni Tisna (1)